Mengintip ”Si Seksi” di Pasir Sunyi

Kompas.com - 12/12/2013, 14:08 WIB
Cagar Alam Kersik (padang) luway di Kecamatan Seqolak Darat, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (5/11/2013). Selain keunikan pasir putihnya, di cagar alam ini hidup lebih dari 47 jenis anggrek, salah satunya anggrek hitam (Coelogyne pandurata). KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYACagar Alam Kersik (padang) luway di Kecamatan Seqolak Darat, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Selasa (5/11/2013). Selain keunikan pasir putihnya, di cagar alam ini hidup lebih dari 47 jenis anggrek, salah satunya anggrek hitam (Coelogyne pandurata).
EditorI Made Asdhiana

Haus terobati

Didimus memberi keyakinan jika sudah bertemu dengan anggrek layu, itu pertanda tak lama lagi kami akan diberi kesempatan ”bertamu” ke rumah ”si putri seksi” yang memang kami cari. Setelah melewati setapak, di mana pasir putih menghampar, kami masuk ke sebuah lubuk yang dinaungi rimbun pepohonan. Tepat di bawah pohon, daun-daun anggrek tampak bergerombol. Tak disangka ada sesuatu yang mencuat tetapi terhalang dedaunan. ”Ini baru saja mekar…,” kata Didimus.

Itulah perjumpaan pertama kami dengan seorang putri di tengah hutan yang sunyi. Tangkainya yang hijau tampak begitu segar dan kokoh menyangga enam helai bunga. Dan kepingan-kepingan bunganya berkelok ritmis seperti melindungi putik yang menebar warna hitam. Jika didekati bunga ini menguarkan wangi yang unik, khas campuran aroma kesunyian pasir dan hutan. Hanya yang punya imajinasi yang bisa membayangkan keharumannya.

Haus kami seperti terobati, karena tak jauh dari situ kami bertemu kembali dengan beberapa gerombol anggrek yang sedang mekar. Hutan yang sunyi tiba-tiba seperti berubah menjadi taman firdaus, tempat di mana seluruh keharuman dan kedamaian bersemayam. Sebuah hamparan taman penuh bunga, di mana kawanan kantong semar seolah menyimpan air kehidupan dan mengusir serangga-seranggga pengganggu kedamaian. Habitat yang asri bagi 47 jenis anggrek hutan yang kini ada di Kersik Luway.

Selain si putri seksi anggrek hitam, di sini juga tumbuh anggrek yang tak kalah seksi, di antaranya anggrek tajuk tuan, anggrek tebu, anggrek bulu landak, dan teristimewa anggrek ratap tangis. ”Saat musim bunga, air seperti menetes dari putik anggrek jenis ini,” kata Didimus. Sayang memang kami tak sempat berjumpa dengan si ratap tangis. Hari keburu sore. Matahari seperti tergelincir di balik rerimbunan hutan. Senja yang lebih cepat gelap dibanding waktu pada arloji kami.

Sebelum kembali merunut setapak, di mana kami berjam-jam yang lalu menyusup ke dalam hutan, kami menemukan pohon karimunting. Pohon yang tumbuh di sisi kanan-kiri setapak ini menyembunyikan buahnya yang kecil berwarna merah keunguan. Didimus memberi tahu, karimunting adalah makanan burung-burung kecil.

”Boleh dimakan. Dulu buat penjelajah hutan yang kemalaman,” katanya. Kami coba petik beberapa biji. Rasanya, manis-manis sepat dan meninggalkan bekas berwarna ungu di lidah. Begitulah, barangkali seluruh isi hutan, terutama si putri seksi, sangat membekas di hati kami. Dan kami berjanji akan datang bertamu kembali, di lain hari... (Putu Fajar Arcana dan Lukas Adi Prasetya) 

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X