Prospektifnya Kerajinan Patung Trowulan

Kompas.com - 16/12/2013, 16:20 WIB
Lola (35), salah seorang pematung di Desa Wates Umpak, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, sedang memahat patung Siwa berdiri, Rabu (11/12/2013). KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRALola (35), salah seorang pematung di Desa Wates Umpak, Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, sedang memahat patung Siwa berdiri, Rabu (11/12/2013).
EditorI Made Asdhiana
MASA depan kerajinan patung batu di Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, sebenarnya gemilang. Buktinya, Juma’i, salah seorang perajin di antara 500-an perajin lainnya di sana, mampu mengirim patung batu satu truk ke Bali dengan omzet sekitar Rp 35 juta. Namun, mengapa mereka masih tetap kalah dengan perajin di Bali?

Menurut Juma’i, selama 16 tahun usahanya merintis sebagai perajin patung batu bersama dengan perajin lainnya di Kecamatan Trowulan, boleh dibilang sudah ”habis-habisan”. Namun, apa daya kesalahan strategi pemasaran dan promosi selama ini menyebabkan usaha mereka seperti mubazir.

Meskipun bisa menafkahi keluarga, ia dan sejumlah perajin lainnya sulit untuk menyebut para perajin patung batu di Trowulan telah sukses secara ekonomi. Dibandingkan dengan perajin patung batu asal Bali, menurut dia, sebagian tinggal menerima kiriman dari para perajin patung batu Trowulan.

”Di sana (Bali), sebagian perajin, yang pedagang, tinggal menampung saja di antaranya kiriman kami, dan lantas menjajakannya ke kolektor atau konsumen internasional dengan harga yang sudah naik berlipat-lipat. Bahkan puluhan kali lipat dengan keuntungan luar biasa,” ujar Juma’i belum lama ini.

Namun, begitulah. ”Apa yang kurang dari kerajinan patung batu dari Trowulan ini dibandingkan pematung dari Bali? Lokasi kerajinannya tepat berada di jalan raya utama antarprovinsi Surabaya-Solo. Pesaingnya juga relatif langka. Nama besar Majapahit dan Trowulan tentu sudah tak perlu dijelaskan lagi,” tambahnya.

Meskipun Trowulan juga punya potensi, bayang-bayang Bali tetap seperti menghantui perajin asal Trowulan. Buktinya, nama Bali lebih mendunia ketimbang nama Trowulan.

Menurut Sekretaris Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah Kabupaten Mojokerto Sutrisno, usaha mengejar mimpi seperti kemajuan perajin di Bali sebenarnya sudah super-ekstra dan penuh perjuangan dilakukan.

Salah sasaran

Usaha besar-besaran itu sudah dilakukan Pemerintah Kabupaten Mojokerto terdahulu (era Bupati Ahmady) hingga sekarang ini. Namun, upaya besar itu seolah seperti sia-sia. Sebab, yang dilakukan Pemkab Mojokerto ternyata salah sasaran. Yang mereka bangun untuk promosi adalah Pusat Perkulakan Sepatu Trowulan (PPST) di Desa Wates Umpak, Trowulan, bukan kerajinan patung batu Trowulan.

Tidak heran jika sekarang ini setiap kali melintas proyek bekas lokasi wisata PPST tersebut, orang akan berkata, ”Di sinilah letak kesalahannya.”

Halaman:
Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X