Dispar DIY Dukung Pengembangan Desa Wisata Nglanggeran

Kompas.com - 18/12/2013, 11:01 WIB
Warga bersiap mengolah lahan kebun buah yang berada di kaki gunung api purba Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Kamis (25/4/2013). Gunung yang aktif sekitar 70 juta tahun lalu dan menjulang dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut itu dikembangkan oleh masyarakat menjadi salah satu obyek wisata alternatif yang menawarkan keunikan bentang alam. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOWarga bersiap mengolah lahan kebun buah yang berada di kaki gunung api purba Nglanggeran di Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Kamis (25/4/2013). Gunung yang aktif sekitar 70 juta tahun lalu dan menjulang dengan ketinggian 700 meter di atas permukaan laut itu dikembangkan oleh masyarakat menjadi salah satu obyek wisata alternatif yang menawarkan keunikan bentang alam.
EditorI Made Asdhiana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta mendukung pengembangan kawasan Desa Wisata Nglanggeran, Kabupaten Gunung Kidul, sebagai destinasi wisata unggulan.

"Kami optimistis ke depan kawasan obyek wisata Gunung Api Purba Nglanggeran akan semakin dikenal wisatawan dan menarik perhatian wisatawan. Apalagi pemerhati vulkanologi dunia belakangan juga makin tertarik untuk meneliti Bukit Nglanggeran sebagai kawasan eko-vulkanologi," kata Kepala Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta, Tazbir, di Yogyakarta, Selasa (17/12/2013).

Mengenai penyelenggaraan atraksi wisata budaya Nglanggeran Culture Festival (NCF) yang berlangsung di kawasan Desa Wisata Nglanggeran, Pathuk, Gunung Kidul, Minggu (15/12/2013), Tazbir mengatakan kegiatan ini berhasil menyedot ribuan pengunjung, termasuk wisatawan mancanegara yang sedang menikmati keindahan Gunung Api Purba Nglanggeran.

Tazbir berharap Nglanggeran Culture Festival ini bisa menjadi agenda wisata rutin desa wisata Nglangggeran, sekaligus mampu meningkatkan kunjungan wisatawan di Gunung Api Purba Nglanggeran.

"Apalagi di kawasan wisata tersebut wisatawan tidak hanya menikmati keindahan Gunung Api Purba Nglanggeran, namun juga bisa menikmati taman buah dan embung," kata Tazbir.

Sementara, mengenai pengembangan desa wisata di DIY, Tazbir mengatakan pengelola desa wisata harus memiliki pemikiran yang cerdas dan inovatif agar mampu menarik minat kunjungan wisatawan.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Embung Nglanggeran di Desa Nglanggeran, Patuk, Gunung Kidul, DI Yogyakarta, Kamis (25/4/2013). Tempat penampungan air dari mata air di Gunung Api Purba Nglanggeran itu untuk mengairi Kebun Buah Nglanggeran seluas 20 hektar, tempat budidaya buah durian dan kelengkeng. Embung ini juga untuk menambah daya tarik kawasan wisata Gunung Api Purba Nglanggeran
"Karena itu, pengelola desa wisata perlu banyak inovasi dan pengalaman, sehingga wisatawan akan disuguhi ragam atraksi, sehingga akan merasa betah tinggal di desa itu," kata Tazbir.

Sekarang ini tidak kurang dari 65 desa wisata ada di DIY. Dari jumlah itu perkembangan desa wisata tidak sama, bahkan ada yang tinggal papan nama.

"Namun demikian, masih banyak desa wisata yang keberadaannya berkembang baik, di antaranya Desa Wisata Kembangarum, Turi Kabupaten Sleman, Desa Wisata Sambi di Kecamatan Pakem Kabupaten Sleman dan Desa Wisata Kebonagung di Kabupaten Bantul," katanya.



Sumber Antara
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X