Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Belum ke Banjarmasin, Tanpa ke Masjid Suriansyah

Kompas.com - 19/12/2013, 07:42 WIB
DARI sisi pelancongan, Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan, menyimpan banyak keunikan. Kotanya berkultur air. Suguhan terbaiknya adalah Pasar Terapung Muara Kuin. Namun, jangan mengaku pernah ke Banjarmasin jika belum mengunjungi Masjid Sultan Suriansyah!

Kalimat provokatif itu dilontarkan Adam Maulana (21), mahasiswa Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin, yang memandu wartawan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Nusa Tenggara Timur, beberapa saat lalu. Tantangan Adam itu tak berlebihan. Berkunjung ke Masjid Sultan Suriansyah layak menjadi pilihan utama, di antara sejumlah obyek wisata lain di Banjarmasin.

Daya tarik utama Masjid Sultan Suriansyah pada usianya yang sekitar 500 tahun. Kehadirannya adalah jejak awal penyebaran Islam di Tanah Banjar yang kini menjadi wilayah Kalsel.

”Masjid Sultan Suriansyah itu masjid pertama di Kalsel. Ini tonggak sejarah penyebaran Islam di Kalsel, bahkan di Kalimantan,” tutur Adam lagi.

Terdiri dari 11 kabupaten dan dua kota, mayoritas warga Kalsel yang berpenduduk sekitar 3,8 juta jiwa adalah umat Islam (96,73 persen pada 2011). Meluasnya penyebaran Islam di kawasan itu tidak bisa dipisahkan dari kehadiran Masjid Sultan Suriansyah.

”Masjid ini selalu ramai dikunjungi. Khusus pelancong saja, setiap hari tak kurang dari lima orang. Kalau hari libur atau hari Minggu, pengunjung ratusan orang,” kata Effendy AR, petugas di Masjid Sultan Suriansyah di perkampungan Kuin, Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Banjarmasin. Masjid itu berdiri di tepi persimpangan Sungai Kuin dan Sungai Martapura.

Kultur air

Banjarmasin sering disebut sebagai ”Kota Seribu Sungai”. Luas wilayah Kalsel adalah 37.530 kilometer persegi dan memiliki sedikitnya 117 alur sungai. Sekitar 40 sungai melintasi Banjarmasin, seperti Sungai Barito, Martapura, Kuin, Mulawarman, Alalak, Pangeran, dan Pelambuan.

Penyebaran Islam di Kalsel pun bersentuhan dengan kultur air. Alkisah, sekitar lima abad lalu, kawasan Kalsel, termasuk perkampungan Kuin, adalah wilayah Kerajaan Negara Daha yang berpusat di Negara (kini masuk wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan). Merujuk berbagai sumber, termasuk buku Masjid Sultan Suriansyah Kembali ke Arsitektur Kuno (Panitia Pemugaran dan Pengembangan Masjid Bersejarah Suriansyah, Agustus, 2001) dan Riwayat Singkat Sultan Suriansyah (2006), kisah bersentuhan dengan Islam itu berawal ketika Kerajaan Negara Daha masih dipimpin oleh Maharaja Sukarama.

Raja memiliki tiga putra, yaitu Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumanggung, dan Pangeran Bagalung, serta seorang putri, yaitu Putri Intan Sari atau Putri Galuh. Sesuai tradisi, ketiga putranya adalah pewaris takhta kerajaan.

Namun, Maharaja Sukarama mengambil keputusan berbeda. Ia berwasiat, jika ia mangkat, yang menggantikannya adalah cucunya, Pangeran Samudera, putra dari pasangan Putri Galuh dan Menteri Jaya.

Berbeda dengan si sulung, Pangeran Mangkubumi yang tak berkeberatan, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung menentang wasiat ayahnya itu. Saat Maharaja Sukarama meninggal, suasana istana langsung memanas. Jiwa Pangeran Samudera yang saat itu berusia kurang dari 10 tahun pun terancam. Seorang punggawa, Arya Trenggana, meminta Pangeran Samudera meninggalkan istana.

Permintaan itu dipatuhi. Dengan berbekalkan makanan, pakaian secukupnya, dan alat tangkap ikan, Pangeran Samudera lewat larut malam ”dihanyutkan” di sungai menggunakan jukung. Selama pelayaran, ia menyamar sebagai nelayan. Setelah menempuh perjalanan selama belasan tahun, ia berjumpa dengan Patih Masih di perkampungan Kuin. Mereka berkenalan hingga terungkap, nelayan muda itu adalah Pangeran Samudera. Atas dukungan patih lain dan rakyat, Patih Masih mengangkat Pangeran Samudera menjadi raja Kerajaan Banjar, melepaskan diri dari Kerajaan Negara Daha.

Saat itu, Kerajaan Negara Daha dipimpin Pangeran Tumanggung. Ia menggantikan kakaknya, Pangeran Mangkubumi, yang tewas dibunuh. Mendengar Pangeran Samudera masih hidup dan menjadi Raja Banjar, Pangeran Tumanggung langsung menyatakan perang. Dua peperangan tak terhindarkan lagi.

Dalam peperangan itu, Kerajaan Banjar mendapat dukungan dari Kerajaan Demak di Pulau Jawa yang tiba di Kuin pada 1526. Sokongan dari pasukan Demak dengan syarat, Pangeran Samudera dan pengikutnya menjadi pemeluk Islam.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Bali Jadi Tuan Rumah Acara UN Tourism tentang Pemberdayaan Perempuan

Bali Jadi Tuan Rumah Acara UN Tourism tentang Pemberdayaan Perempuan

Travel Update
Hari Kartini, Pelita Air Luncurkan Penerbangan dengan Pilot dan Awak Kabin Perempuan

Hari Kartini, Pelita Air Luncurkan Penerbangan dengan Pilot dan Awak Kabin Perempuan

Travel Update
Usung Konsep Eco Friendly, Hotel Qubika Bakal Beroperasi Jelang HUT Kemerdekaan RI di IKN

Usung Konsep Eco Friendly, Hotel Qubika Bakal Beroperasi Jelang HUT Kemerdekaan RI di IKN

Hotel Story
Ada Women Half Marathon 2024 di TMII Pekan Ini, Pesertanya dari 14 Negara

Ada Women Half Marathon 2024 di TMII Pekan Ini, Pesertanya dari 14 Negara

Travel Update
5 Tempat Wisata di Tangerang yang Bersejarah, Ada Pintu Air dan Makam

5 Tempat Wisata di Tangerang yang Bersejarah, Ada Pintu Air dan Makam

Jalan Jalan
Dampak Rupiah Melemah pada Pariwisata Indonesia, Tiket Pesawat Mahal

Dampak Rupiah Melemah pada Pariwisata Indonesia, Tiket Pesawat Mahal

Travel Update
4 Tempat Wisata di Rumpin Bogor Jawa Barat, Ada Curug dan Taman

4 Tempat Wisata di Rumpin Bogor Jawa Barat, Ada Curug dan Taman

Jalan Jalan
Rusa Jadi Ancaman di Beberapa Negara Bagian AS, Tewaskan Ratusan Orang

Rusa Jadi Ancaman di Beberapa Negara Bagian AS, Tewaskan Ratusan Orang

Travel Update
5 Rekomendasi Playground Indoor di Surabaya untuk Isi Liburan Anak

5 Rekomendasi Playground Indoor di Surabaya untuk Isi Liburan Anak

Jalan Jalan
Pilot dan Pramugari Ternyata Tidur pada Penerbangan Jarak Jauh

Pilot dan Pramugari Ternyata Tidur pada Penerbangan Jarak Jauh

Travel Update
Desa Wisata Tabek Patah: Sejarah dan Daya Tarik

Desa Wisata Tabek Patah: Sejarah dan Daya Tarik

Jalan Jalan
Komodo Travel Mart Digelar Juni 2024, Ajang Promosi NTT ke Kancah Dunia

Komodo Travel Mart Digelar Juni 2024, Ajang Promosi NTT ke Kancah Dunia

Travel Update
Tips Pilih Makanan yang Cocok untuk Penerbangan Panjang

Tips Pilih Makanan yang Cocok untuk Penerbangan Panjang

Travel Tips
Harapan Pariwisata Hijau Indonesia pada Hari Bumi 2024 dan Realisasinya

Harapan Pariwisata Hijau Indonesia pada Hari Bumi 2024 dan Realisasinya

Travel Update
5 Tips Menulis Tanda Pengenal Koper yang Aman dan Tepat

5 Tips Menulis Tanda Pengenal Koper yang Aman dan Tepat

Travel Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com