Kompas.com - 20/12/2013, 08:35 WIB
EditorI Made Asdhiana
HUTAN Sulawesi memudahkan kehidupan orang Minahasa. Ketika mereka tidak memiliki wajan, hutan menawarkan bambu (buluh) sebagai alat masak.

Di ujung jalan Desa Elusan, Amurang Barat, Minahasa Selatan, yang berbatasan dengan hutan, Leprang Wokas (53) memanggul dua batang buluh. Selvie Warouw (49) yang menanti kedatangan Leprang menunjukkan wajah senang. Selvie menyuruh Leprang memotong-motong setiap ruas buluh hingga bentuknya mirip gelas panjang dengan dasar tertutup dan mulut terbuka.

Selvie sebagai kepala koki memberi instruksi. Seorang ibu diminta memotong ayam, seorang lagi ia minta mengiris daun leilem, pangi, serta membersihkan daun elusan (daun pembungkus nasi) untuk membungkus masakan. Di sudut lain, Jefta Sinombor (48) menumbuk untuk nasi bambu (kue dari beras ketan yang dimasak dalam bambu). Jetji Tani (58) memeras santan. Beberapa laki-laki menyiapkan gonufu (sabut kelapa) untuk kayu bakar. Bumbu lain untuk sayur pangi dan leilem disiapkan Maritje Poluan (56).

Begitulah, laki-laki dan perempuan Minahasa berbagi peran di dapur. ”Dulu yang masak buluh hanya laki-laki, perempuan pergi jauh karena takut diejek. Sekarang aturan itu sudah luntur,” kata sejarawan dan budayawan Fendy EW Parengkuan.

Sore hari, semua bahan telah siap. Maritje memasukkan ketan disusul santan yang diberi bumbu jahe ke dalam buluh. Jetji memasukkan daun pangi dan leilem yang dicampur daging ayam dan bumbu ke dalam buluh berbeda. Buluh-buluh itu kemudian dibakar tiga-empat jam hingga aroma harum masakan di dalam rongga buluh tercium keluar. Aroma itu membawa kabar bahwa masakan telah matang.

Dari hutan

Mereka sedang memasak nasi jaha, pangi, leilem, dan ayam buluh. Masakan itu biasa disajikan orang-orang gunung—sebutan populer buat orang Minahasa di desa-desa—dengan rasa bangga kepada tamu di pesta mereka. Nasi jaha terbuat dari beras ketan yang diberi bumbu bawang merah, bawang putih, jahe, santan, air daun pandan, dan garam. Semua dimasukkan ke dalam buluh dan digarang dengan api.

Pangi dibuat dari irisan daun kluwak yang kasar, sedangkan leilem dibuat dari daun yang lebih lembut. ”Di Elusan, pangi hanya dimasak dengan garam. Kalau di Tomohon, Tondano, dan Tompaso, orang menambahkan rica (cabai rawit) dan daun bawang,” ujar Maritje. Sementara itu, ayam buluh bumbunya mirip woku. Ada cabai rawai, bawang merah, bawang putih, daun bawang, jahe merah, kunyit, serai, daun pandan, daun jeruk, dan kemangi dicampur dengan daun leilem atau daun melinjo.

Hukum Tua (Kepala Desa) Elusan Frans Ampow (51) yang siang itu ikut di dapur mengatakan, hampir semua bahan makanan dan alat masak orang Elusan tersedia di kebun atau hutan di pinggir desa. ”Bahkan, asalkan mau berburu di hutan, kami bisa mendapatkan ayam hutan, paniki (kelelawar), tikus hutan, dan babi hutan. Berburunya tidak perlu jauh-jauh, cukup satu kilometer dari sini. Kalau mau makan ikan, tinggal mencari di telaga,” ujar Frans.

Bambu yang menjadi wadah masak dan sabut kelapa pengganti kayu bakar, lanjut Frans, juga tinggal ambil di kebun kopra di pinggir hutan. Selain untuk masak, bambu hutan juga diambil untuk membuat tenda-tenda ketika pesta digelar. ”Buat kami, hutan seperti supermarket saja. Hampir semua kebutuhan makan ada di situ kecuali beras, ha-ha-ha.”

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.