Wayang untuk Penonton Global

Kompas.com - 24/12/2013, 14:08 WIB
Dalang Ki Purbo Asmoro. KOMPAS/RADITYA HELABUMIDalang Ki Purbo Asmoro.
EditorI Made Asdhiana
BAGAIMANA  wayang kulit disuguhkan kepada masyarakat global? Dalang Ki Purbo Asmoro, dibantu Kathryn Emerson, dan Yayasan Lontar mengemas pergelaran wayang kulit dalam paket   pendidikan wayang kulit. Paket berupa buku dan video itu disuguhkan dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia, dan Inggris.

Ki Purbo Asmoro mendalang dengan tiga kelir atau layar. Layar utama yang terletak di bagian tengah adalah tempat ki dalang mendalang dengan sekotak wayangnya. Dua layar di bagian kanan dan kiri layar utama merupakan tempat teks. Di kedua layar itulah tuturan dalang diterjemahkan dari bahasa Jawa ke bahasa Inggris. Penerjemahnya adalah Kathryn Emerson atau Kathy. Duduk di kanan depan layar, Kathy dengan komputernya menjadi semacam ”dalang bayangan”. Ia menerjemahkan seluruh kejadian di jagat pewayangan yang didalangi Purbo Asmoro.

Dalam pergelaran di Soehana Hall, Energy Building, Jakarta Selatan, 26 November lalu, Purbo Asmoro didampingi Kathy mementaskan lakon Wahyu Purbo Sejati. Kompak sebagai dwitunggal, mereka menggelar pertunjukan wayang di depan penonton yang beragam. Sebagian besar penonton tidak mengerti bahasa Jawa, termasuk para ekspatriat.

Kathy tidak hanya menerjemahkan apa yang dituturkan Purbo. Ia juga menjelaskan atmosfer dan makna setiap gerakan dari tokoh wayang yang digerakkan sang dalang. Kathy, misalnya, menjelaskan makna posisi tangan tokoh Rama lewat teks di layar. ”From the position of his hand, we know that he is in grief.../ dari posisi tangannya kita tahu ia sedang berduka…”.

Dengan model pementasan wayang kulit seperti itu, Purbo dan Kathy pernah wayangan di New York, Washington DC, Chicago, dan sejumlah kota di Amerika Serikat. Mereka juga tampil di Inggris, Austria, Bolivia, Jepang, Thailand, India, dan Singapura. Model pentas wayang kulit semacam itu ternyata cukup komunikatif. Bahkan, penonton bisa tertawa mendengar percakapan tokoh-tokoh lewat terjemahan Kathy.

”Waktu Gendari ngonek-onekke (memaki-maki) Sengkuni, penonton di luar negeri bisa gerrr…,” kata Purbo Asmoro.

Dari pengalaman mendalang di sejumlah negara, Purbo semakin yakin bahwa nilai-nilai moral, kebenaran hakiki dalam cerita wayang itu bersifat universal. Bagi Purbo, pertunjukan wayang kulit adalah penyampaian pesan moral, tata nilai, dan keutamaan hidup. ”Di belahan dunia mana pun sama saja. Kebaikan akan selalu unggul. Maka, kami tak kesulitan pentas di mana pun.”

Paket wayang

Untuk lebih memudahkan masyarakat global menikmati wayang kulit, berikut nilai-nilai moralnya, Yayasan Lontar didukung Total E&P Indonesie mengajak Purbo Asmoro dan Kathryn Emerson membuat paket pendidikan wayang. Paket yang diluncurkan di Jakarta pada Selasa, 26 November, itu berupa buku Makutharama dan Sesaji Raja Suya masing-masing dalam tiga bahasa: Jawa, Indonesia, Inggris. Lakon tersebut masing-masing dipentaskan dalam tiga versi, yaitu klasik, kontemporer, dan pakeliran padat.

Dalam paket juga disertakan satu buku transkrip notasi gending-gending pengiring (Wayang Scores), termasuk teks sulukan, koor vokal, dan langgam dari enam pentas wayang kulit. Paket juga berisi video lakon Makutharama dan Sesaji Raja Suya dalam tiga versi pementasan klasik, kontemporer, dan padat disertai subtitle dalam bahasa Inggris.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X