Gula-gula untuk Papua

Kompas.com - 25/12/2013, 09:12 WIB
Warga menyeberangi jembatan gantung di Distrik Bolakme, Jayawijaya, Papua, Jumat (6/12/2013). KOMPAS/WISNU WIDIANTOROWarga menyeberangi jembatan gantung di Distrik Bolakme, Jayawijaya, Papua, Jumat (6/12/2013).
EditorI Made Asdhiana
SEPOTONG permen atau gula-gula cukup membuat senyum bocah Papua merekah. Namun, ada ”gula-gula” lain yang membuat banyak orang Papua resah.

Mobil kabin ganda yang kami tumpangi menyusuri jalan membelah lembah di antara perbukitan dan pegunungan di Wamena, November lalu. Kabut baru saja sirna, jalanan masih licin, tetapi Cyrillus WR Luntungan (40) tetap memacu mobil kami.

Sinar mentari datang dan pergi berganti dengan rinai gerimis. Hal itu membuat kami yang duduk berjejalan di bak belakang mobil setiap saat harus siaga menarik terpal plastik untuk menutupi barang-barang dan tubuh kami. Meski begitu, perjalanan menuju Distrik (Kecamatan) Bolakme dari Wamena ini amat menyenangkan dan penuh sukacita.

Mobil kami kian jauh meninggalkan Wamena, ibu kota Kabupaten Jayawijaya. Semakin mendekati Bolakme, permukiman kian jarang. Dalam beberapa kilometer hanya ada satu-dua silimo (kompleks rumah tradisional Papua yang terdiri dari honai, hunila, kandang babi, dan kebun). Selebihnya adalah tanah-tanah kosong penuh semak atau bukit-bukit yang rendah, tetapi miring. Lerengnya dimanfaatkan sebagai kebun ubi.

Bukit-bukit yang dari Wamena tampak seperti gundukan tanah menghijau kini menampakkan wajah sangarnya. Tebing-tebingnya curam dan tinggi seolah mencuat begitu saja dari perut Bumi. Ini seperti dunia yang asing.

Banyak misteri yang tersisa di kawasan Lembah Baliem ini. Dari catatan gereja Katolik, kami mengetahui bahwa Lembah Baliem belum genap 100 tahun bersentuhan dengan dunia luar. Hingga tahun 1938, keberadaan lembah terbesar di kawasan pegunungan tengah Papua itu bahkan belum diketahui dunia. Peneliti Richard Archbold menemukan lembah hijau subur dan Sungai Baliem saat tak sengaja melongok dari jendela pesawat amfibi bernama Guba.

Pesawat Guba mendarat di Danau Habbema pada 15 Juli 1938. Rombongan beserta perlengkapannya selesai diangkut ke danau tersebut pada 31 Juli 1938. Pada hari itu juga mereka bertemu dengan dua orang Dani, saling membagikan rokok dalam suasana persahabatan (Sejarah Gereja Katolik di Lembah Baliem Papua, Pastor Frans Lieshout OFM, Jayapura, 2009).

Gula-gula

Jalan menuju Bolakme semakin menanjak, sempit, dan berliku. Mesin mobil yang kami tumpangi meraung kelelahan. Setelah melewati jalan yang lebih datar di sisi Sungai Baliem, kami tiba di Bolakme menjelang tengah hari. Beberapa bocah Papua mengejar mendekati mobil sambil berteriak, ”Gula-gula... gula-gula.”

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Warga berjalan menuju kampung mereka usai berjualan di pasar.
Luntungan, yang juga Sekretaris Distrik Bolakme, membawa sekantong gula-gula. Anak-anak itu langsung memasukkannya ke mulut dan mencecap manisnya. Wajah cerah anak-anak itulah yang membuat Luntungan selalu ingat untuk membawa sekantong gula-gula.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X