Sepotong Kisah dari Papua

Kompas.com - 25/12/2013, 16:41 WIB
Warga bersama-sama menikmati jagung dan ubi yang telah dimasak dengan bakar batu di samping rumah keluarga di Kampung Hepuba, Distrik Asolokobal, Jayawijaya, Papua, Minggu (8/12/2013). KOMPAS/WISNU WIDIANTOROWarga bersama-sama menikmati jagung dan ubi yang telah dimasak dengan bakar batu di samping rumah keluarga di Kampung Hepuba, Distrik Asolokobal, Jayawijaya, Papua, Minggu (8/12/2013).
EditorI Made Asdhiana

Maria menyodorkan sebonggol jagung. Begitu pelepahnya terkelupas, biji jagung yang kering langsung menebar rasa manis. ”Rasa manisnya jauh berbeda jika jagung itu kami rebus atau kami kukus,” tutur Maria, terbahak.

Asso puas dengan bakar batu Minggu sore itu. ”Ini bakar batu yang baik, semua sajiannya matang sempurna,” tuturnya.

Dia menjelaskan, bakar batu untuk santapan harian dengan bakar batu untuk ritual sangat berbeda. Untuk keperluan ritual, bakar batu harus digelar di halaman silimo Otilu. Ia menunjuk sebuah halaman yang diapit dua hunila dan sebuah honai perang di tengahnya. Aturan bakar batunya pun lebih ketat. Liang bakar batu biasanya bergaris tengah dua meteran yang cukup untuk menampung setumpuk ubi dan dua ekor babi. ”Hanya daun lokop dan lukata yang boleh dipakai untuk melapisi batu panasnya. Selain itu, hasilnya harus dinikmati segenap keluarga yang tinggal di silimo,” tutur Asso.

Begitulah, bakar batu di halaman silimo bukan sekadar aktivitas memasak, melainkan bagian dari ritus. Apa yang keluar dari liang batu bakar adalah isyarat atas doa dan harapan yang mengiringi upacara adat. Jika semua bahan termasak sempurna, itu pertanda baik. Jika ada bagian yang mentah, itu berarti ada sesuatu yang salah. ”Kita harus mencari tahu. Pasti ada saja sesuatu yang salah,” kata Asso.

Sebagai medium berkomunikasi dengan roh leluhur, ritus bakar batu diyakini harus selalu ada dalam beragam upacara menyangkut laku hidup manusia suku Hubula di Lembah Baliem. Bakar batu juga menjadi tradisi pokok beratus ribu anak adat dari suku-suku lain di kawasan pegunungan tengah Papua yang membentang mulai Kabupaten Paniai di barat hingga Kabupaten Pegunungan Bintang di ujung timur di perbatasan Indonesia-Papua Niugini.

”Tak ada bakar batu tanpa hupuru dan babi. Tanpa keduanya, kami tak bisa menjalani ritus menjadi manusia dewasa, menikah, ataupun membuka kebun yang subur. Jika seperti itu, kami bukan lagi anak adat Hubula,” tegas Asso. (Aryo Wisanggeni, Budi Suwarna, Wisnu Widiantoro)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X