Kompas.com - 29/12/2013, 17:08 WIB
Lubang Mbah Soero di Sawahlunto, Sumatera Barat. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASALubang Mbah Soero di Sawahlunto, Sumatera Barat.
EditorI Made Asdhiana

Selama bekerja di luar tambang, orang rantai ini tetap memakai rantai besi di tangan dan kaki mereka. Sebagian diikat rantai pada tubuhnya karena dianggap memiliki kesaktian. Orang rantai baru dilepaskan ikatan rantainya ketika mereka masuk ke terowongan tambang batubara.

”Mereka dijaga dengan senapan di pintu masuk tambang sehingga tidak mungkin melarikan diri,” kata Fahrie Ahda, sejarawan muda Sawahlunto.

Saridan (76) masih ingat bagaimana ayahnya, Wongso Karyo, dibuang ke Sawahlunto dari Yogyakarta dan menjadi orang rantai. Wongso ditahan Belanda karena membunuh orang. Saridan dan ibunya kemudian ikut dibawa ke Sawahlunto. Namun, sang ibu kemudian dibawa Belanda ke perkebunan teh di Kerinci dan tidak pernah kembali lagi.

Saridan kecil selalu ikut ayahnya bekerja. Ia masih memendam ingatan, bagaimana ayahnya mengangkat-angkat baja berat untuk membuat rel kereta api. Jika jatuh, ayahnya dipukuli opsir Belanda dengan tali tebal terbuat dari getah karet.

Tambang batubara memunculkan eksploitasi anak. Kadul yang juga keturunan orang rantai mengatakan, kakeknya bercerita bahwa anak-anak dari Jawa ini diculik oleh orang kampung mereka sendiri yang menjadi kaki tangan Belanda. Mereka kemudian menyebarkan rumor bahwa anak-anak mereka dibawa makhluk halus.

Kondisi Jawa masa itu yang masih berupa hutan ditambah masyarakatnya yang bodoh membuat mereka begitu mudah percaya dengan rumor itu. ”Dulu banyak anak di sini yang tidak mengetahui siapa orangtuanya,” kata Kadul.

Goedang Ransoem, bangunan yang dijadikan dapur untuk memberi makan buruh tambang, menjadi saksi keberadaan anak- anak buangan di Sawahlunto ini. Di salah satu foto di Goedang Ransoem yang kini sudah menjadi museum, terpampang foto anak-anak yang berebut makan di satu piring. Anak-anak itu ikut bekerja untuk bisa mendapatkan makan di dapur itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Goedang Ransoem melayani makan sekitar 7.000 buruh tambang di Sawahlunto. Namun, mereka yang mendapat jatah makan di situ hanyalah para pekerja paksa dan buruh kontrak saja. Hingga sekarang, museum itu masih menyimpan perangkat memasak berupa kuali-kuali besar yang terbuat dari baja.

Rantai kemiskinan

Keturunan orang rantai kini tinggal di Tangsi Baru, Kelurahan Tanah Lapang, dan juga di Air Dingin yang menjadi lokasi makam orang rantai. Di sana, nasib Kadul dan Saridan tidak jauh berbeda dengan nenek moyangnya dulu. Meski kini tidak terbelenggu rantai besi, hidup mereka masih terbelenggu rantai kemiskinan.

Sepanjang hidupnya, Saridan tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi. Ia hanya berpendidikan sekolah dasar dan bekerja serabutan di Sawahlunto. Rantai kemiskinan membuat ia tidak mampu menyekolahkan anak keturunannya dengan baik.

KOMPAS.com/Ni Luh Made Pertiwi F. Tungku pembakaran yang dibuat tahun 1894 ini berada di Museum Goedang Ransoem, Sawahlunto, Sumatera Barat.
Ketika tambang Sawahlunto yang dikelola PT Bukit Asam sudah tidak beroperasi lagi, mereka yang pernah bekerja di pertambangan menjadi kehilangan pekerjaan. Tanah-tanah adat yang dulu dikuasai Belanda, lalu dimiliki PT Bukit Asam, sudah dikembalikan sebagai hak ulayat adat yang kemudian dikelola secara adat.

Kadul mengatakan, ia yang dianggap sebagai pendatang tidak mendapatkan hak untuk ikut mengelola tanah-tanah di Sawahlunto. Ia tidak bisa ikut menambang di pertambangan rakyat dan ikut menanam karet ataupun coklat di lahan adat. ”Sejarah keluarga kami dijual untuk keperluan pariwisata, tetapi hidup kami tidak juga mengalami perubahan,” keluhnya. (Lusiana Indriasari)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PPKM Level 3 Nataru Batal, Pelaku Pariwisata Minta Pemerintah Tak Beri Harapan Palsu

PPKM Level 3 Nataru Batal, Pelaku Pariwisata Minta Pemerintah Tak Beri Harapan Palsu

Travel Update
Pelaku Wisata di Bantul Sambut Pembatalan PPKM Level 3 Saat Nataru

Pelaku Wisata di Bantul Sambut Pembatalan PPKM Level 3 Saat Nataru

Travel Update
Daftar Negara Asal Turis Asing yang Bisa ke Indonesia Tak Berubah meski Ada Omicron

Daftar Negara Asal Turis Asing yang Bisa ke Indonesia Tak Berubah meski Ada Omicron

Travel Update
Wisatawan di Gunung Bromo Dilarang Masuk Radius 1 Km dari Kawah Aktif, Ada Apa?

Wisatawan di Gunung Bromo Dilarang Masuk Radius 1 Km dari Kawah Aktif, Ada Apa?

Travel Update
Kembangkan Wellness Tourism, Yuk Kenali Rekomendasi Wisata Sehat di Korea

Kembangkan Wellness Tourism, Yuk Kenali Rekomendasi Wisata Sehat di Korea

BrandzView
Desa Wisata Sekitar Semeru Terdampak Erupsi, Ini Bantuan Kemenparekraf

Desa Wisata Sekitar Semeru Terdampak Erupsi, Ini Bantuan Kemenparekraf

Travel Update
Indonesia Perketat Kedatangan Internasional, Antisipasi Varian Omicron

Indonesia Perketat Kedatangan Internasional, Antisipasi Varian Omicron

Travel Update
Libur Nataru, Kebijakan Ganjil Genap di Kawasan Wisata Bukan dari Kemenparekraf

Libur Nataru, Kebijakan Ganjil Genap di Kawasan Wisata Bukan dari Kemenparekraf

Travel Update
PPKM Level 3 Saat Nataru Batal, Tempat Wisata Boleh Buka tapi Diperketat

PPKM Level 3 Saat Nataru Batal, Tempat Wisata Boleh Buka tapi Diperketat

Travel Update
Wisata Saat Nataru, Anak Usia di Bawah 12 Tahun Wajib Tes PCR

Wisata Saat Nataru, Anak Usia di Bawah 12 Tahun Wajib Tes PCR

Travel Update
7 Tempat Paling Kotor dan Penuh Kuman di Bandara

7 Tempat Paling Kotor dan Penuh Kuman di Bandara

Travel Tips
PPKM Level 3 Serentak Saat Nataru Batal

PPKM Level 3 Serentak Saat Nataru Batal

Travel Update
Cara Cuci Baju di Hotel, Tanpa Ribet dan Hasilnya Bersih

Cara Cuci Baju di Hotel, Tanpa Ribet dan Hasilnya Bersih

Travel Tips
Indonesia Resmi Jadi Tuan Rumah World Tourism Day 2022

Indonesia Resmi Jadi Tuan Rumah World Tourism Day 2022

Travel Update
Hindari Pakai Gelas Hotel untuk Minum, Ini Sebabnya

Hindari Pakai Gelas Hotel untuk Minum, Ini Sebabnya

Travel Tips
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.