"Ubad" Cinta dari Ubud

Kompas.com - 30/12/2013, 11:04 WIB
I Nyoman Jendra (49), pelukis asal Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, sibuk menyelesaikan lukisannya di ruang pamernya, Rabu (11/12/2013). Ia salah satu pelukis yang setia mengembangkan seni lukis di Ubud yang dipengaruhi pelukis besar Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan I Gusti Nyoman Lempad pada tahun 1930-an. KOMPAS/AYU SULISTYOWATII Nyoman Jendra (49), pelukis asal Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, sibuk menyelesaikan lukisannya di ruang pamernya, Rabu (11/12/2013). Ia salah satu pelukis yang setia mengembangkan seni lukis di Ubud yang dipengaruhi pelukis besar Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan I Gusti Nyoman Lempad pada tahun 1930-an.
EditorI Made Asdhiana
"To be away from Bali for more than a month is more than I can stand. I am so terribly homesick, I can hardly wait." (Berada jauh dari Bali lebih dari sebulan itu lebih dari yang bisa saya tahan. Saya sangat rindu pulang, dan tak sabar untuk menunggu pulang).

KALIMAT ini ditulis Walter Spies, pelukis asal Jerman, mengutip buku John Stowell berjudul Walter Spies, a Life in Art (Edisi Pertama, Afterhours Book, 2011). Dia merindukan Bali dan selalu ingin pulang ke Bali sejak dikenalnya tahun 1927. Dan di Ubud, Spies pun jatuh cinta.

Di Ubud pula, dia menemukan cinta dan tinggal bersama cintanya. Begitu pula yang dialami sejumlah wisatawan asing yang berdatangan. Mereka ingin kembali, khususnya ke Ubud. Cinta Ubud pun mendunia hingga saat ini.

Lalu, mengapa harus ke Ubud? Di kampung kecil ini mereka menemukan inspirasi, ketenangan, kenyamanan, keramahan, dan seni. Itulah alasan para wisatawan asing ke Ubud. Di sana, mereka tak hanya tinggal sehari atau dua hari, tetapi berhari-hari, bahkan berbulan-bulan hingga memilih menetap di sana. Bahkan, mereka membangun keluarga bersama pemuda atau perempuan Ubud.

Patricia Forichon, wisatawan asal Perancis, mengaku penasaran dengan Ubud karena teman-temannya dan referensi yang diunduhnya dari sejumlah sumber menyatakan kenyamanannya tiada duanya. Ia pun datang, dan membuktikannya. Bahkan, Patricia merasa tak perlu segera mengakhiri liburannya dan ingin tinggal lebih lama dari rencananya sepekan di Ubud.

Begitu pula dengan Emma. Wisatawan asal Afrika yang tinggal di Malaysia itu juga langsung menuju Ubud. Ini bukan yang pertama, dan Ubud telah membuatnya kembali dan ingin belajar melukis dengan cara seperti membatik.

Keduanya pun memilih tinggal di homestay sekitar Padangtegal. Sebagian besar wisatawan memilih tinggal di rumah-rumah penduduk. Keramahan masyarakatnya menjadikan mereka betah tinggal lama, baik bersama pasangan, keluarga, teman, atau hanya sendirian.

Ubud, yang banyak dikenal luas hingga penjuru bumi itu, konon berawal dari pertemuan Tjokorda Gde Raka Soekawati, dari Puri Agung Ubud dengan Spies. Keduanya menemukan perpaduan karya seni lukis yang akhirnya memotivasi gaya lukis seniman Ubud. Kala itu pelukis Ubud masih dikenal sebagai undagi.

Tonggak

Berdirinya Pita Maha (1936), yayasan khusus seniman lukis, telah membawa eksistensi para pelukis Ubud semakin dikenal. Karya-karya mereka pun mulai ikut pameran di sejumlah negara. Spies serasa menjadi peruntungan bagi Ubud.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X