Kompas.com - 30/12/2013, 11:04 WIB
I Nyoman Jendra (49), pelukis asal Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, tengah sibuk menyelesaikan lukisannya di ruang pamernya, Rabu (11/12/2013). Ia salah satu pelukis yang setia mengembangkan seni lukis di Ubud yang dipengaruhi pelukis besar Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan I Gusti Nyoman Lempad di era tahun 1930-an. KOMPAS/AYU SULISTYOWATII Nyoman Jendra (49), pelukis asal Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, tengah sibuk menyelesaikan lukisannya di ruang pamernya, Rabu (11/12/2013). Ia salah satu pelukis yang setia mengembangkan seni lukis di Ubud yang dipengaruhi pelukis besar Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan I Gusti Nyoman Lempad di era tahun 1930-an.
EditorI Made Asdhiana

”Spies mungkin di era modern bisa disebut pemasar yang baik bagi Ubud,” kata Tjokorda Gde Putra Sukawati, putra Gde Raka Soekawati dari Puri Agung Ubud.

Nama-nama besar pelukis Ubud pun lahir, seperti I Gusti Nyoman Lampad, Anak Agung Gde Sobrat, I Gusti Made Deblog, Ida Bagus Gelgel, Ida Bagus Nyana, I Cokot, serta Ida Bagus Poleng. Pelukis asing pun berdatangan dan menjadi besar di Ubud, seperti Rudolf Bonnet dan Antonio Blanco.

Lagi-lagi persoalan suasana pedesaan yang nyaman dan tenteram menjadi alasan para pelukis dari luar Bali atau asing berdatangan. Mereka menilai inspirasi bisa datang dari ketenangan lingkungan seperti Ubud.

Lukisan wayang dengan gradasi hitam putih hingga lukisan warna berlatar pedesaan Ubud menjadi ciri khas. Justru pemandangan alamnya, yang oleh warga dinilai biasa, menjadi tujuan utama wisatawan berdatangan karena Bali memiliki keindahan lain, selain Sanur (Denpasar) dan Kuta (Badung).

Menurut Cok Putra, ia menduga Ubud sudah lebih dulu dikenal dunia sebelum Spies datang. Dari data yang dikumpulkan, bangunan khas Bali dari Ubud sudah berpameran di Perancis tahun 1931. Artinya, lanjut Cok Putra, Ubud sudah mendunia sejak sebelum itu.

Perkembangannya, Cok Putra mengakui toleransi dan kesolidan masyarakat menjadi kunci bertahannya lingkungan Ubud. Mereka bersepakat tidak menerima hiruk-pikuk modern, kehidupan perdagangan dibatasi tak sampai larut malam, tak ada lampu lalu lintas di perempatan atau pertigaan, menyeleksi investor dari luar warga Ubud, dan tetap menjaga adat istiadat.

Ubud dipercaya berasal dari kata yang melegenda, ubad atau usada yang artinya obat. Ini pun ada dalam lontar Markandya Purana. Berawal dari kedatangan Rsi Markandya, pendeta Hindu dari India, yang bersemadi dan akhirnya menetap di Campuhan. Campuhan merupakan pertemuan dua aliran sungai, Wos Barat dan Wos Timur, dan dipercaya mampu menyembuhan penyakit atau sebagai ubad (obat).

Penduduk Ubud, berdasarkan Sensus 2010, berjumlah 11.187 jiwa, sedangkan total penduduk Kabupaten Gianyar 69.631 jiwa. Luas wilayah Desa Ubud 7,32 kilometer persegi dan jarak dari Kota Denpasar 25 kilometer.

Cok Putra menjelaskan, Ubud memang tidak lepas dari karya seni. Galeri-galeri lukisan bermunculan setelah Puri Lukisan (1954) diresmikan dan hingga kini dikelola Puri Ubud. Ia pun menjadi Direktur Puri Lukisan tersebut.

KOMPAS/AYU SULISTYOWATI I Nyoman Jendra (49), pelukis asal Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, tengah sibuk menyelesaikan lukisannya di ruang pamernya, Rabu (11/12/2013). Ia salah satu pelukis yang setia mengembangkan seni lukis di Ubud yang dipengaruhi pelukis besar Walter Spies, Rudolf Bonnet, dan I Gusti Nyoman Lempad di era tahun 1930-an.
Pande Wayan Suteja Neka, pemilik Museum Neka yang juga kolektor lukisan mengatakan, Ubud bagaikan magnet yang mampu menarik pelukis-pelukis dunia. Karena itu, ia meyakini, dengan seni budaya yang lestari, bisa menjadikan Ubud sejajar dengan bangsa-bangsa lain. Begitu aura yang dimiliki Ubud. Ia pun bangga menjadi anak Ubud.

Ini juga menginspirasi Janet de Neefe, penggagas Ubud Writers and Readers Festival. Termasuk sejumlah musisi yang memercayai Ubud mampu menjadi ubad cinta tidak hanya melalui lukisan, tetapi juga tulisan dan musik. Film Eat, Pray, Love pun menambah referensi bagaimana Ubud dikenal dunia.

”Ubud begitu tenang menjadikan saya ingin lama-lama tinggal di sini. Andaikan saya harus pulang, suatu saat nanti ingin kembali ke Ubud lagi. Pasti...,” kata Patricia, dengan senyum lebar. (Ayu Sulistyowati) Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Upaya Pramuwisata Hadapi Pandemi, dari Alih Profesi hingga Adaptasi

Upaya Pramuwisata Hadapi Pandemi, dari Alih Profesi hingga Adaptasi

Travel Update
Promo 73 Tahun Garuda Indonesia, Ada Diskon Tiket 50 Persen

Promo 73 Tahun Garuda Indonesia, Ada Diskon Tiket 50 Persen

Travel Promo
Tips Pilih Kursi untuk Anak Saat Naik Pesawat agar Lebih Nyaman

Tips Pilih Kursi untuk Anak Saat Naik Pesawat agar Lebih Nyaman

Travel Tips
Bandara Halim Tutup Sementara, Citilink Alihkan Operasional ke Soekarno-Hatta

Bandara Halim Tutup Sementara, Citilink Alihkan Operasional ke Soekarno-Hatta

Travel Update
Satu Kapal Feri Per Hari Disiapkan untuk Travel Bubble Indonesia-Singapura

Satu Kapal Feri Per Hari Disiapkan untuk Travel Bubble Indonesia-Singapura

Travel Update
Minho SHINee Jadi 'Guide' untuk Gwanghwamun, Korea Selatan

Minho SHINee Jadi "Guide" untuk Gwanghwamun, Korea Selatan

Travel Update
Asita Sambut Baik Uji Coba Travel Bubble Indonesia-Singapura, tetapi...

Asita Sambut Baik Uji Coba Travel Bubble Indonesia-Singapura, tetapi...

Travel Update
Zeround EduPark Pangandaran Segera Buka, Kenalkan Aneka Jenis Reptil

Zeround EduPark Pangandaran Segera Buka, Kenalkan Aneka Jenis Reptil

Jalan Jalan
Berburu Kuliner Legendaris di Kwitang Jakarta Pusat, Ada Es Krim Baltic sejak 1939

Berburu Kuliner Legendaris di Kwitang Jakarta Pusat, Ada Es Krim Baltic sejak 1939

Jalan Jalan
5 Fakta Menarik Gedung Sarinah yang Akan Dibuka Kembali Maret 2022

5 Fakta Menarik Gedung Sarinah yang Akan Dibuka Kembali Maret 2022

Jalan Jalan
13 Wisata di Majalengka Jawa Barat, dari Curug hingga Terasering

13 Wisata di Majalengka Jawa Barat, dari Curug hingga Terasering

Jalan Jalan
Abang Expo 2022 di Lhokseumawe, Ada Pameran Foto sampai Pemuataran Film

Abang Expo 2022 di Lhokseumawe, Ada Pameran Foto sampai Pemuataran Film

Jalan Jalan
Bukit Jamur Ciwidey, Wisata Alam Pohon Cemara dan Kebun Teh

Bukit Jamur Ciwidey, Wisata Alam Pohon Cemara dan Kebun Teh

Jalan Jalan
Thamrin Skycrapers, Kenali Sejarah Gedung-gedung Pencakar Langit Sambil Jalan Kaki

Thamrin Skycrapers, Kenali Sejarah Gedung-gedung Pencakar Langit Sambil Jalan Kaki

Jalan Jalan
Makan Steak Anti-mainstream di Docafe Surabaya

Makan Steak Anti-mainstream di Docafe Surabaya

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.