Candi Borobudur, Jejak Maritim Dinasti Sailendra

Kompas.com - 11/01/2014, 15:50 WIB
EditorI Made Asdhiana

SEPULUH
panel relief kapal yang terpahat di dinding Candi Borobudur memunculkan spekulasi, Wangsa Sailendra dari Kerajaan Mataram Kuno merupakan pelaut yang tangguh. Jejak dinasti ini terentang dari Sumatera, Malaysia, hingga Thailand. Benarkah Mataram Kuno adalah sebuah kerajaan maritim seperti Sriwijaya?

Kapal kayu bertiang dua layar itu berdiri tegak di Museum Samuderaraksa di kawasan Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Pertengahan Oktober lalu tidak banyak turis yang berkunjung ke museum itu. Hanya ada beberapa pelajar yang melihat-lihat foto ekspedisi Kapal Borobudur, nama kapal itu, yang pada tahun 2003 berlayar dengan rute Jakarta-Madagaskar-Cape Town-Ghana. Bagian dek kapal sama sekali tidak terjamah turis karena untuk naik ke atas kapal, pengunjung dikenai biaya Rp 100.000.

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Kapal Borobudur adalah kapal layar kayu bercadik ganda yang digambarkan dalam beberapa relief Candi Borobudur.
Kapal Borobudur dengan panjang 18,29 meter, lebar 4,50 meter, dan tinggi 2,25 meter buatan As’ad Abdullah, warga Pulau Pagerungan Kecil, Kabupaten Sumenep, Madura, itu ”dihidupkan” dari salah satu relief kapal yang terpahat di dinding Candi Borobudur, tepatnya relief di sisi utara candi. Di candi tersimpan 10 relief, berupa 6 kapal besar dan 4 kapal kecil. Kapal besar menggunakan layar (cadik), sedangkan kapal kecil menggunakan dayung.

Phillip Beale, mantan anggota Angkatan Laut Inggris, menggagas rekonstruksi kapal dari relief candi dari masa Wangsa Sailendra itu. Ia tiba di Borobudur tahun 1982 setelah lama mencari jejak kapal pada masa Nusantara masih berbentuk kumpulan kerajaan. Namun, dari banyak candi yang ia datangi, hanya Borobudur yang menyimpan bukti sebagian bentuk kapal di Nusantara.

Keberadaan relief kapal itu memunculkan dugaan bahwa pada masa Sailendra, dinasti yang membangun Borobudur, memiliki armada laut yang kuat. Keyakinan itu membuat Nick Burningham, arkeolog maritim dari Inggris, membantu Beale mewujudkan rekonstruksi kapal berbahan kayu. Ada dugaan Mataram Kuno adalah kerajaan maritim seperti Sriwijaya.

Anggapan itu ditampik Hasan Djafar, arkeolog, ahli epigrafi (ahli membaca tulisan di prasasti), dan ahli sejarah kuno. Hasan mengatakan, sejauh ini belum ada bukti otentik tentang Mataram sebagai kerajaan maritim. Relief kapal itu masih menyimpan misteri, apakah kapal-kapal itu benar milik Kerajaan Mataram atau hanya kapal kecil milik saudagar Jawa.

Mataram Kuno adalah kerajaan yang berbasis ekonomi agraris. Kondisi alam yang subur membuat kerajaan itu mengalami surplus pangan. Karena itu, Mataram mengembangkan perdagangan.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO Candi Borobudur
Untuk keperluan melayani saudagar dari daerah lain, Mataram membuka pelabuhan, terutama di pesisir utara Pulau Jawa, mulai dari Cirebon, Indramayu, Tegal, Pekalongan, dan lainnya.

Hasan cenderung menyebut kapal pada masa Mataram sebagai perahu karena ukurannya tak sebesar armada kapal milik kerajaan. Perahu-perahu yang datang, kata Hasan, berbentuk seperti relief di Borobudur, yaitu perahu dengan layar dan bercadik. Bentuk perahu seperti itu merupakan tradisi bangsa Austronesia sejak zaman prasejarah. Tidak heran, di daerah yang ada persebaran bangsa Austronesia berkembang perahu bercadik, mulai dari Langkawi, India, hingga ke Madagaskar dan Pasifik. ”Di Jawa pun berkembang perahu bercadik,” kata Hasan.

Perahu di relief Candi Borobudur bisa jadi milik pendatang yang berdagang ke Mataram. Ada pula kemungkinan perahu semacam itu dimiliki Kerajaan Mataram. ”Kalaupun Mataram punya kapal, sifatnya hanya untuk perdagangan jarak dekat,” ujar Hasan. Kapal pada masa Mataram untuk keperluan dagang, bukan untuk ekspansi maritim secara politik.

Bukti Mataram kerajaan agraris ada di beberapa prasasti. Ada ekstensifikasi sawah-sawah. Prasasti itu makin banyak ditemukan saat Mataram pindah ke Jawa Timur pada masa Empu Sendok dan Airlangga. Mataram membangun irigasi memanfaatkan Sungai Brantas dan Bengawan Solo. Mereka juga membuat waduk penampung air untuk pengairan pada musim kering.

Peran sungai

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X