Kompas.com - 17/01/2014, 16:04 WIB
Petambang sedang mengambil belerang di kawasan Kawah Ijen, Jawa Timur, Selasa (12/11/2013). Dalam sehari, seorang petambang dapat membawa belerang 60 hingga 140 kilogram dengan imbalan Rp 780 per kilogram. Untuk menambah penghasilan, sebagian dari petambang juga berprofesi sebagai pemandu wisata bagi turis yang berkunjung ke kawah di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso tersebut. KOMPAS/HARRY SUSILOPetambang sedang mengambil belerang di kawasan Kawah Ijen, Jawa Timur, Selasa (12/11/2013). Dalam sehari, seorang petambang dapat membawa belerang 60 hingga 140 kilogram dengan imbalan Rp 780 per kilogram. Untuk menambah penghasilan, sebagian dari petambang juga berprofesi sebagai pemandu wisata bagi turis yang berkunjung ke kawah di perbatasan Banyuwangi-Bondowoso tersebut.
EditorI Made Asdhiana
BANYUWANGI, KOMPAS.com - Pariwisata di Kawasan Gunung Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, akan dikembangkan dengan konsep Rainforest Standard (RFS). Pengembangan tersebut tidak akan sama dengan konsep pariwisata pada umumnya.

"Konsep ini akan sangat mendukung pengembangan pariwisata yang eco-friendly. Top lah ini pokoknya, bukan eksploitasi berlebihan. Ada tanggung jawab untuk kehidupan generasi mendatang," ujar Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas di Banyuwangi, Jumat (17/1/2014).

Kawasan Gunung Ijen sendiri akan dikembangkan oleh CEO Sustainable Management Group (SMG) David Makes.

David mengatakan, program Rainforest Standard (RFS) alias Standar Hutan Hujan merupakan penerapan manajemen hutan lestari yang menjaga keseimbangan ekologi, keanekaragaman hayati, sekaligus menguntungkan secara ekonomi dan sosial akan menjadi jiwa dalam pengembangan wisata di kawasan Gunung Ijen, Banyuwangi.

KOMPAS IMAGES/FIKRIA HIDAYAT Asap solfatara keluar dari kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Senin (7/11/2011).
“Ijen akan dibangun secara berkelanjutan tidak sekadar dibangun untuk pariwisata yang akan diminati hanya 5 sampai 10 tahun saja, tapi selamanya. Paling penting adalah pariwisata berjalan, namun keseimbangan alam, keragaman hayati dan sosial ekonomi masyarakat sekitar terus terjaga,” ujar David yang tak lain adalah investor pembangunan resor di kawasan Ijen.

David Makes sendiri dikenal sebagai ahli pariwisata berkelanjutan. Puluhan tahun hidup David dihabiskan untuk mengembangkan pariwisata berbasis alam di kawasan konservasi. Dia sukses mengembangkan kawasan wisata di Taman Nasional Bali Barat yang diberi nama Menjangan Jungle and Beach Resort.

Menurut David, Ijen menyimpan potensi yang luar biasa. Apalagi Ijen mempunyai kawah dengan fenomena api biru (blue fire) yang sangat jarang ditemukan di dunia. Para penambang belerang yang mencari nafkah dari Gunung Ijen juga merupakan salah satu potensi bagi pengembangan pariwisata di lokasi tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

“Penambang Ijen akan menjadi salah satu atraksi yang menarik bagi wistawan. Untuk itu mereka bisa ditata dan dilatih sehingga mendapatkan penghasilan tambahan dari pariwisata selain dari hasilnya menambang belerang. Ini adalah salah satu misi kami mengembangkan pariwisata,” kata David.

Selain itu David menyampaikan realisasi pembangunan resort dan pariwisata di Ijen olehnya akan dimulai pada bulan Februari mendatang. “Awal Februari kami akan mulai melakukan eksplorasi, seperti penandaan batu, penyusunan Upaya Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan. Mudah-mudahan akhir Februari atau awal Maret pebangunan resort di Ijen akan diresmikan,” ungkap David.

KOMPAS IMAGES / FIKRIA HIDAYAT Tim Ekspedisi Cincin Api Kompas melintasi hutan cagar alam di sisi selatan Kawah Ijen, Banyuwangi, Jawa Timur, Minggu (6/11/2011).
David menegaskan bahwa apa yang akan dia bangun di Ijen akan jauh lebih baik dari Menjangan Jungle and Resort di Bali Barat yang telah dideklarasikan sebagai model penerapan RFS.

Bupati Banyuwangi menyambut baik pengembangan pariwisata di kawasan Ijen oleh David Makes. Sebab David telah terbukti mampu mengembangkan wisata di Bali Barat yang sustainable dan selaras dengan alam hingga dipercaya sebagai model penerapan Rainforest Standard pertama di Asia.

"Kami ingin bangun ekowisata. Sudah saatnya pengembangan pariwisata selaras dengan upaya menjaga kekayaan ekologi," kata Anas. (*)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Daftar Desa Wisata Pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Daftar Desa Wisata Pemenang Anugerah Desa Wisata Indonesia 2021

Travel Update
Masa Karantina 10 Hari untuk Antisipasi Omicron dan Turis Indonesia ke Luar Negeri

Masa Karantina 10 Hari untuk Antisipasi Omicron dan Turis Indonesia ke Luar Negeri

Travel Update
Garuda Indonesia Travel Fair, Jakarta-Labuan Bajo PP Rp 1,3 Jutaan

Garuda Indonesia Travel Fair, Jakarta-Labuan Bajo PP Rp 1,3 Jutaan

Travel Promo
Gunung Barujari Level II Waspada, TN Gunung Rinjani Batasi Pendakian

Gunung Barujari Level II Waspada, TN Gunung Rinjani Batasi Pendakian

Travel Update
TN Gunung Rinjani Tutup 3 Tempat Wisata Alam hingga Maret 2022

TN Gunung Rinjani Tutup 3 Tempat Wisata Alam hingga Maret 2022

Travel Update
Dafam Hotel Management Diakuisisi Artotel Group

Dafam Hotel Management Diakuisisi Artotel Group

Travel Update
PPKM Level 3 Nataru Batal, Pelaku Pariwisata Minta Pemerintah Tak Beri Harapan Palsu

PPKM Level 3 Nataru Batal, Pelaku Pariwisata Minta Pemerintah Tak Beri Harapan Palsu

Travel Update
Pelaku Wisata di Bantul Sambut Pembatalan PPKM Level 3 Saat Nataru

Pelaku Wisata di Bantul Sambut Pembatalan PPKM Level 3 Saat Nataru

Travel Update
Daftar Negara Asal Turis Asing yang Bisa ke Indonesia Tak Berubah meski Ada Omicron

Daftar Negara Asal Turis Asing yang Bisa ke Indonesia Tak Berubah meski Ada Omicron

Travel Update
Wisatawan di Gunung Bromo Dilarang Masuk Radius 1 Km dari Kawah Aktif, Ada Apa?

Wisatawan di Gunung Bromo Dilarang Masuk Radius 1 Km dari Kawah Aktif, Ada Apa?

Travel Update
Kembangkan Wellness Tourism, Yuk Kenali Rekomendasi Wisata Sehat di Korea

Kembangkan Wellness Tourism, Yuk Kenali Rekomendasi Wisata Sehat di Korea

BrandzView
Desa Wisata Sekitar Semeru Terdampak Erupsi, Ini Bantuan Kemenparekraf

Desa Wisata Sekitar Semeru Terdampak Erupsi, Ini Bantuan Kemenparekraf

Travel Update
Indonesia Perketat Kedatangan Internasional, Antisipasi Varian Omicron

Indonesia Perketat Kedatangan Internasional, Antisipasi Varian Omicron

Travel Update
Libur Nataru, Kebijakan Ganjil Genap di Kawasan Wisata Bukan dari Kemenparekraf

Libur Nataru, Kebijakan Ganjil Genap di Kawasan Wisata Bukan dari Kemenparekraf

Travel Update
PPKM Level 3 Saat Nataru Batal, Tempat Wisata Boleh Buka tapi Diperketat

PPKM Level 3 Saat Nataru Batal, Tempat Wisata Boleh Buka tapi Diperketat

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.