Jalan-jalan ke Kampung Kemasan, Yuk!

Kompas.com - 23/01/2014, 09:36 WIB
Deretan rumah bergaya arsitektur perpaduan Eropa dan China menjadi daya tarik Kampung Kemasan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (19/4/2013). Rumah-rumah tersebut merupakan peninggalan pengusaha kaya yang pada tahun 1900-an sukses berbisnis jual beli kulit. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKODeretan rumah bergaya arsitektur perpaduan Eropa dan China menjadi daya tarik Kampung Kemasan di Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (19/4/2013). Rumah-rumah tersebut merupakan peninggalan pengusaha kaya yang pada tahun 1900-an sukses berbisnis jual beli kulit.
EditorI Made Asdhiana
DERETAN rumah dua lantai itu terlihat mentereng. Meski sudah kuno, kesan mewah di masa lalu masih terasa.

Ah, rasanya tak puas-puasnya mata ini memandangi rumah-rumah dengan pilar yang besar, pintu dan jendela tinggi, serta lantai ubin. Sebagian bangunan dirawat seadanya. Namun, sebagian lainnya tampak kinclong. ”Dirawat dengan biaya sendiri,” kata Nasir Dimyati (64).

Nasir tinggal di rumah besar bercat putih dengan daun pintu warna merah itu. Ada gerbang kecil di halaman dengan tulisan ”H Djaenoedin BH Oemar” di atasnya. Tulisan itu menjelaskan pemilik rumah ini, yang bernama Haji Djaenoedin bin Haji Oemar, adalah pengusaha kulit tenar pada zamannya.

Rumah-rumah itu ada di Kampung Kemasan, Gresik, Jawa Timur. Lokasinya tak jauh dari alun-alun Gresik, tepatnya di Jalan Nyai Ageng Arem-arem, Gang III, Kelurahan Pakelingan.

Nasir menempati rumah itu bersama istrinya—keturunan Djaenoedin bin Haji Oemar—dan anak-anaknya sejak tahun 1972. Rumah berdinding bata dengan lantai ubin itu memiliki sejumlah jendela besar. Di dalam rumah yang luasnya sekitar 800 meter persegi itu terasa sejuk. Rumah itu berdiri di lahan seluas 1.000 meter persegi.

Merujuk pada Buku Grissee Tempo Doeloe karya Dukut Imam Widodo dan kawan-kawan, pada zaman itu, penghuni Kampung Kemasan kaya raya. Mereka ingin menunjukkan kekayaan tersebut dengan membangun rumah yang megah.

Gresik—yang dalam ejaan Van Ophuysen ditulis sebagai Grissee—pernah sangat jaya pada masa lalu karena pelabuhannya. Namun, sejak 1911, bersamaan dengan selesainya pembangunan Pelabuhan Soerabaia (kemudian dikenal sebagai Tanjung Perak), masa jaya Gresik surut. Kapal lebih suka berlabuh di Tanjung Perak yang lebih modern.

Salah satu peninggalan masa jaya Gresik itu pula yang tercermin di Kampung Kemasan. Rumah-rumah besar yang jendela dan pintunya didominasi warna merah itu bagaikan memanggil-manggil untuk didatangi.

Nasir mengakui, beberapa waktu terakhir ini Kampung Kemasan sudah menjadi tujuan wisata minat khusus. Istilahnya, wisata kota tua. Tak hanya wisatawan dari Gresik dan kota-kota sekitarnya, tetapi juga wisatawan asing datang ke Kampung Kemasan.

Umumnya, wisatawan yang datang ke Kampung Kemasan adalah wisatawan yang meminati sejarah atau fotografi. Namun, ada juga yang memiliki kenangan khusus dengan kota Gresik.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X