Berdoa, Bersantap, Berbahagia

Kompas.com - 25/01/2014, 18:08 WIB
Warga menikmati makan siang mereka di Restoran The Harmony, Hotel Santika, Jakarta Pusat, Jumat (24/1/2014). Di restoran ini akan digelar Chinese New Year Buffet Dinner untuk merayakan Imlek pada 30 dan 31 Januari nanti. KOMPAS/WISNU WIDIANTOROWarga menikmati makan siang mereka di Restoran The Harmony, Hotel Santika, Jakarta Pusat, Jumat (24/1/2014). Di restoran ini akan digelar Chinese New Year Buffet Dinner untuk merayakan Imlek pada 30 dan 31 Januari nanti.
EditorI Made Asdhiana
SEPEKAN lagi, kelenteng-kelenteng di pelosok negeri akan dipenuhi umat yang berdoa menyambut Tahun Baru China dan berharap kebaikan menyelimuti sepanjang tahun. Masyarakat keturunan Tionghoa merayakannya bersama keluarga, saling berbagi dan menyemangati sebagai wujud harmoni dan kasih.

Pergantian tahun yang di Indonesia biasa disebut Imlek itu sudah sejak berabad silam tak hanya dirayakan di daratan China. Tidak heran karena diyakini jumlah orang Tionghoa dan keturunannya mencapai seperlima populasi dunia. Komunitas Tionghoa ditemukan nyaris di setiap kota di semua negara di dunia.

Di Jakarta, suasana menjelang Imlek telah terasa sejak awal Januari. Meskipun mungkin karena bencana banjir yang masih melanda Ibu Kota dan sekitarnya, Imlek tahun ini tidak semeriah biasanya.

Di Kota Tua, Jakarta Barat, belum terlihat geliat menyambut Imlek. Tidak ada hiasan khusus yang meriah di kawasan pecinan itu. Begitu juga di Pluit, Jakarta Utara. Deretan lampion merah hanya ditemukan di dalam kelenteng yang cukup banyak di daerah tersebut.

Namun, pusat-pusat perbelanjaan dan hotel di Jakarta mulai genit bersolek. Lampion, tatanan hiasan bunga, sampai tulisan ucapan Gong Xi Fat Chai menyambut pengunjung.

Di kompleks gedung Green Central City, Jalan Gajah Mada, Jakarta Barat, ada bangunan bersejarah Candra Naya yang banyak dikunjungi wisatawan, terlebih mendekati Imlek. Lampion-lampion sudah terpasang di bangunan kuno yang terawat baik itu. Di dalamnya terdapat sederet koleksi yang bebas dinikmati gratis oleh pengunjung.

Uniknya, ada kaligrafi kanji berisi kata-kata bijak China lengkap dengan terjemahannya. Di bagian belakang terdapat kolam ikan koi dan air mancur. Ada beberapa kursi untuk sekadar melepas lelah dan menikmati pemandangan indah itu.

Bangunan tersebut didirikan tahun 1946 sebagai tempat perkumpulan masyarakat Tionghoa dengan nama Sin Ming Hui.

Selain untuk keperluan perkumpulan, bangunan juga dipakai untuk pelayanan kesehatan dan pendidikan. Dalam perkembangannya, Sin Ming Hui juga dipakai sebagai Kantor Kedutaan Besar Republik Rakyat China dan pada tahun 1965, berganti nama menjadi Candra Naya.

Di sekitar Candra Naya, selain hotel, ada juga sejumlah tempat makan. Salah satunya yang cukup memikat adalah Kopi Oey Candra Naya. Interior Kopi Oey membawa kita ke suasana Batavia tempo dulu. Sederet menu campuran Belanda, Melayu, dan China tersedia di sini. Duduk di meja kursi di emperan bangunan kuno Candra Naya seraya menyantap hidangan Kopi Oey rasanya mantap sekali.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X