Kompas.com - 27/01/2014, 08:15 WIB
EditorI Made Asdhiana

Padahal, setiap harinya ia masih harus mengeluarkan uang Rp 10.000 untuk sewa gerobak, membeli arang guna memasak Rp 11.000, dan uang makan Rp 5.000. Selain itu, ia perlu juga mengeluarkan uang Rp 15.000 untuk 1 liter minyak tanah guna lampu penerangan yang cukup dipakai hingga dua hari.

Tradisine wedangan hik, yo ngeten iki Mas (Tradisi wedang hik, ya begini Mas),” kata Nardiwiyono.

Sebagian besar pengunjung warung tersebut adalah pria dewasa. Sementara itu pada akhir pekan, anak-anak muda turut meramaikan kedai sederhana yang temaram itu.

”Tapi jumlah pengunjung saat ini sudah berkurang dibandingkan beberapa tahun lalu. Mungkin karena jumlah warung angkringan makin banyak,” sebut Nardiwiyono.

Dini hari itu, ucapannya, memang terbukti tatkala masih relatif banyak makanan dan minuman tersisa ketika ia menutup warung angkringan tersebut.

Adapun warung angkringan di salah satu sisi Jalan Raya Pesanggarahan, Jakarta, relatif berbeda dengan yang dijaga Nardiwiyono karena menggunakan lampu listrik sebagai penerangan. Untuk mendengarkan musik juga bukan lagi radio transistor, dan jumlah penjaga warung yang turut melayani tidak hanya seorang, tetapi tiga orang.

Juga ada tempat lesehan khusus yang relatif terang dan dipenuhi pengunjung. Warung angkringan itu menarik minat orang-orang seperti Swandoyo (51) dan Yogi (25) yang ditemui pada Selasa (21/1/2014) malam hingga Rabu (22/1/2014) dini hari.

Swandoyo adalah praktisi pemasaran yang malam itu merasa perlu duduk sembari menikmati susu jahe di warung angkringan. ”Dulu saya penyuplai teh tubruk untuk warung angkringan,” kata Swandoyo.

Oleh karena itulah tak mengherankan jika ia hafal peta warung-warung angkringan di Jakarta. Swandoyo mencatat, menjamurnya warung angkringan di Jakarta yang cenderung identik dengan nasi kucing berporsi relatif sedikit itu mulai terjadi sekitar lima tahun terakhir.

”Penyebabnya, jumlah pekerja urban cenderung makin banyak. Kan, hampir semua orang datang ke Jakarta. Mereka yang berasal dari atau pernah tinggal/sekolah di Yogyakarta-Solo dan sekitarnya tentu saja sudah terbiasa nongkrong di hik/wedangan (Solo) atau angkringan (Yogya). Kerinduan akan kebiasaan ”ngangkring”. Itulah sebabnya angkringan yang di Jakarta kemudian dikenal dengan nama nasi kucing itu menjamur.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber KOMPAS
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Makam Bung Karno di Blitar, Tempat Peristirahatan Terakhir Sang Proklamator

Makam Bung Karno di Blitar, Tempat Peristirahatan Terakhir Sang Proklamator

Jalan Jalan
Masuk Tebet Eco Park Harus Daftar Lewat Aplikasi JAKI, Ini caranya

Masuk Tebet Eco Park Harus Daftar Lewat Aplikasi JAKI, Ini caranya

Travel Update
Harga Tiket dan Jam Buka Istana Gebang Blitar, Rumah Bung Karno Masa Remaja

Harga Tiket dan Jam Buka Istana Gebang Blitar, Rumah Bung Karno Masa Remaja

Travel Tips
Jelajah Pulau hingga Mangrove, Wisata Belitung untuk Delegasi G20

Jelajah Pulau hingga Mangrove, Wisata Belitung untuk Delegasi G20

Travel Update
Istana Gebang di Blitar, Berkunjung ke Rumah Bung Karno Masa Remaja

Istana Gebang di Blitar, Berkunjung ke Rumah Bung Karno Masa Remaja

Jalan Jalan
Tebet Eco Park Buka Lagi 15 Agustus 2022, Ini Aturan dan Cara Berkunjung

Tebet Eco Park Buka Lagi 15 Agustus 2022, Ini Aturan dan Cara Berkunjung

Travel Update
Kereta Zombie di LRT Jakarta Bakal Tambah Konsep Baru, Seperti Apa?

Kereta Zombie di LRT Jakarta Bakal Tambah Konsep Baru, Seperti Apa?

Travel Update
Tradisi Sedekah Laut Akan Jadi Agenda Wisata Daerah

Tradisi Sedekah Laut Akan Jadi Agenda Wisata Daerah

Travel Update
Saat Para Wisatawan Asing Belajar Menenun di Nagekeo NTT

Saat Para Wisatawan Asing Belajar Menenun di Nagekeo NTT

Jalan Jalan
6 Tips Main ke Wahana Train to Apocalypse di Kelapa Gading

6 Tips Main ke Wahana Train to Apocalypse di Kelapa Gading

Travel Tips
Lihat Mobil Kepresidenan Sejak Era Soekarno Bisa Mampir ke Sarinah

Lihat Mobil Kepresidenan Sejak Era Soekarno Bisa Mampir ke Sarinah

Travel Update
Ada 'Fashion Week' di Takengon Aceh, Bantu Promosi Wisata

Ada "Fashion Week" di Takengon Aceh, Bantu Promosi Wisata

Jalan Jalan
Serunya Berkelana Bareng Orang Asing, Pernah Coba?

Serunya Berkelana Bareng Orang Asing, Pernah Coba?

Travel Update
Karakter Ikonik di Pop Art Jakarta 2022! Dalang Pelo hingga Gatotkaca

Karakter Ikonik di Pop Art Jakarta 2022! Dalang Pelo hingga Gatotkaca

Jalan Jalan
Syarat Terbaru Pendakian Gunung Slamet via Bambangan, Siapkan Surat Dokter

Syarat Terbaru Pendakian Gunung Slamet via Bambangan, Siapkan Surat Dokter

Travel Tips
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.