Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Menparekraf: Warisan Budaya Daya Tarik Pariwisata

Kompas.com - 27/01/2014, 13:54 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu mengatakan, warisan budaya adalah daya tarik pariwisata yang berkelanjutan selama dilindungi, dijaga, dan dikembangkan tidak saja oleh pemerintah tetapi juga komunitas setempat.

Hal itu disampaikan oleh Mari Elka Pangestu dalam Pertemuan Tahunan World Economic Forum (WEF) 2014 di Davos, Swiss, Minggu (26/1/2014).

"Warisan budaya akan menjadi daya tarik wisata berkelanjutan asalkan dalam menjadi atraksi untuk dikunjungi dan diapresiasi oleh pengunjung dijaga dan dilindungi, dikembangkan agar komunitas setempat dapat manfaat dari perkembangan wisata," katanya.

Menurut Mari, komunitas setempat juga harus mendapat manfaat dari sisi pengembangan SDM dan pemanfaatan dari efek pengganda seperti kuliner, souvenir, dan tempat penginapan.

Di samping itu menjaga budaya setempat dengan melindungi hal yang masih asli dan tradisonal, dengan semangat kontemporer potensial untuk bisa mendapatkan apresiasi dari lebih banyak masyakarat.

KOMPAS/RADITYA HELABUMI Dalang Ki Purbo Asmoro.
"Dalam menceritakan warisan budaya, yang penting adalah cerita mengenai orang-orang kreatif yang ada di Indonesia dari zaman dulu sampai dengan sekarang," katanya.

Menparekraf mencontohkan, misalnya kehebatan Borobudur yang telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia, bukan saja karena merupakan candi Buddha terbesar di dunia yang dibangun pada abad-9.

Tetapi karena peradaban dan kreatifitas orang Indonesia sejak abad 9 masih berlanjut sampai dengan sekarang seperti dapat dilihat dari orang-orang kreatif pemahat batu dan pengukir yang masih berada di sekitar Candi Borobudur.

Selain itu, lanjut Mari, hal tersebut juga yang dilandasi SDM produktif dan kreatif di Indonesia yang menjadikan ekonomi kreatif sebagai sumber daya saing baru bagi Indonesia.

"Salah satu cara di mana warisan budaya dan kearifan lokal dapat terjaga dan diapresiasi adalah bilamana dapat dikembangkan sehingga menciptakan nilai tambah," katanya.

Beberapa contoh warisan budaya Indonesia seperti batik dan wayang tetap bertahan dalam bentuk asli dan tradisionalnya, namun dengan pemanfaatan yang lebih kontemporer dan berkembang terus karena kreatifitas, dapat menciptakan nilai tambah dan menghidupkan kembali ketrampilan yang hampir punah.

Mari mengatakan, batik tidak lagi digunakan dalam acara resmi dan formal, tetapi telah berkembang untuk berbagai kegunaan karena sentuhan-sentuhan dari desainer maupun percontohan penggunaan batik oleh semua kalangan.

KOMPAS/INGKI RINALDI Seorang perajin batik, Sabtu (7/12/2013), tengah melakukan proses menembok atau menutup pola yang bakal dibiarkan putih dengan menggunakan malam (lilin). Proses itu dilakukan pada selembar kain batik di Sanggar Batik Katura, Desa Trusmi, Kecamatan Plered, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat.
Misalnya pengunaan batik satu sampai dua kali seminggu di kalangan pemerintahan. Perkembangan tidak terbatas kain dan fesyen, tetapi juga untuk interior, keramik, dan seterusnya.

"Semboyan dari industri kreatif yang berbasis warisan budaya adalah bagaimana warisan budaya bisa menjadi basis dan inspirasi untuk menciptakan sesuatu yang baru dan mempunyai nilai tambah.  Singkatnya berbasis tradisional tetapi dengan semangat kontemporer," tambah Mari Pangestu.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Pengalaman ke Pasar Kreatif Jawa Barat, Tempat Nongkrong di Bandung

Pengalaman ke Pasar Kreatif Jawa Barat, Tempat Nongkrong di Bandung

Jalan Jalan
Libur Panjang Waisak 2024, KAI Operasikan 20 Kereta Api Tambahan

Libur Panjang Waisak 2024, KAI Operasikan 20 Kereta Api Tambahan

Travel Update
Pasar Kreatif Jawa Barat: Daya Tarik, Jam Buka, dan Tiket Masuk

Pasar Kreatif Jawa Barat: Daya Tarik, Jam Buka, dan Tiket Masuk

Travel Update
Berkunjung ke Pantai Nangasule di Sikka, NTT, Ada Taman Baca Mini

Berkunjung ke Pantai Nangasule di Sikka, NTT, Ada Taman Baca Mini

Jalan Jalan
10 Wisata Malam di Semarang, Ada yang 24 Jam

10 Wisata Malam di Semarang, Ada yang 24 Jam

Jalan Jalan
Tanggapi Larangan 'Study Tour', Menparekraf: Boleh asal Tersertifikasi

Tanggapi Larangan "Study Tour", Menparekraf: Boleh asal Tersertifikasi

Travel Update
Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Ada Rencana Kenaikan Biaya Visa Schengen 12 Persen per 11 Juni

Travel Update
Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Kasus Covid-19 di Singapura Naik, Tidak ada Larangan Wisata ke Indonesia

Travel Update
Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Museum Kebangkitan Nasional, Saksi Bisu Semangat Pelajar STOVIA

Travel Update
World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

World Water Forum 2024 Diharapkan Dorong Percepatan Target Wisatawan 2024

Travel Update
Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Tebing di Bali Dikeruk untuk Bangun Hotel, Sandiaga: Dihentikan Sementara

Travel Update
Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Garuda Indonesia dan Singapore Airlines Kerja Sama untuk Program Frequent Flyer

Travel Update
5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

5 Alasan Pantai Sanglen di Gunungkidul Wajib Dikunjungi

Jalan Jalan
Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Pantai Lakey, Surga Wisata Terbengkalai di Kabupaten Dompu

Travel Update
Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Bali yang Pas untuk Pencinta Liburan Slow Travel

Travel Tips
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com