Kompas.com - 28/01/2014, 10:01 WIB
EditorI Made Asdhiana

Waktu itu, ketiga sungai berair sangat jernih karena hutan-hutan di sekitarnya masih utuh. Karena kondisi lingkungan jernih dan sama dengan air yang keluar dari bukit Cigugur, ikan-ikan itu hidup dan berkembang biak.

Ki Gede lalu berpesan kepada warganya agar tak mengganggu ikan-ikan tersebut untuk kehidupan anak cucu mereka. Ki Gede, menurut cerita masyarakat Cigugur, adalah seorang wiku atau orang sakti. Karena kesaktiannya, bagian tubuh dalamnya bisa dilihat dari luar. Slamet Riyadi memperkirakan, Ki Gede Padara adalah tokoh Sunda Wiwitan Cigugur.

Di usia tuanya, Ki Gede jatuh sakit dan menyatakan diri ingin meninggal seperti manusia biasa. Berita itu sampai kepada Syekh Maulana Syarif Hidayatulah atau Sunan Gunung Jati di Cirebon.

Sunan Gunung Jati pun kaget melihat beningnya tubuh si sakti. Namun, ia menyanggupi keinginan Ki Gede. Karuhun Cigugur yang memiliki ilmu kehalusan budi itu menuruti apa yang disarankan Sunan Gunung Jati mengucapkan dua kalimat syahadat. Namun, baru satu kali Ki Gede mengucapkan, tubuhnya menghilang atau kata penduduk Cigugur, ngahiang atau tilem.

Masa itu, Islam tengah disebarkan oleh para wali yang berpusat di Cirebon. Sesampainya di Kuningan, para wali menemukan sumber mata air di Cibulan, 10 kilometer arah utara Cigugur. Para wali lalu menanamai ikan di kolam Cibulan ikan kancra bodas. Sunan Gunung Jati diperkirakan membawa ikan itu ke Cibulan setelah ikan-ikan itu berkembang biak di Cigugur.

Konservasi

Ki Gede Padara adalah pemimpin yang visioner dan punya kelebihan melihat masa depan. Ia menitipkan ikan kancra bodas agar terus dipelihara dan tidak dimakan karena ikan ini tidak cocok untuk konsumsi manusia. ”Kalau digoreng tak mau kering, banyak keluar lemak dan dagingnya tak enak,” ungkap Slamet.

Kehidupan ikan menjadi indikator bahwa sumber air masih bersih, tidak tercemar, dan hutannya lestari. Karena itu, konservasi di Gunung Ciremai harus terus dilakukan keturunannya agar ikan-ikan itu tetap hidup dan berkembang biak. (Rini Kustiasih dan Dedi Muhtadi)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.