Kompas.com - 29/01/2014, 08:25 WIB
EditorI Made Asdhiana

”Nah, semua itu dipadukan menjadi sushi. Kalau di menu sushi Jepang, nasi dipadu dengan daging ikan segar, di sini kami padu dengan lauk khas Minang,” kata Delly.

Bumbu pendamping yang biasa terdapat di meja-meja restoran Jepang seperti wasabi dan acar jahe merah tak ada di atas meja Suntiang. Meski begitu, pramusaji Suntiang akan menyodorkan wasabi jika pelanggan meminta. ”Kami sengaja tidak menyediakan wasabi di meja karena rasa wasabi sangat menantang, sementara masakan Minang sendiri sudah kaya bumbu,” sambung Maulana.

Untuk mendapatkan rasa masakan Minang yang otentik, kepala koki dan asisten kepala koki berguru selama satu bulan lamanya di dapur sebuah restoran Minang milik salah satu pendiri Suntiang. Kebetulan satu dari tiga pemilik Suntiang berasal dari Solok, Sumatera Barat. Para koki yang berdarah Jawa Timur serta Madura lantas mengamati rasa, warna, dan tekstur makanan Minang.

”Kami belajar langsung di kampung dengan resep keluarga. Kami mengaduk rendang berjam-jam, tidak berhenti. Berat sekali membuat masakan Minang,” ujar Delly.

Dari hasil berguru, para koki yang tidak ada satu pun berdarah Minang itu, kemudian berkreasi dan mengembangkan menu, memadukan unsur tradisi kuliner Minang dengan masakan Jepang.

Menurut Maulana dan Delly, masakan Minang dan Jepang memiliki satu persamaan, yakni mudah diterima beragam lidah. Rumah makan Minang mudah ditemui di berbagai pelosok di Indonesia dan di luar negeri. Sebaliknya, kuliner Jepang sudah lama hadir di kota-kota besar di Indonesia. Kedua masakan itu memiliki banyak penggemar.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO Menu Minang dihidangkan dengan ban berjalan mengelilingi meja pengunjung.
Restoran Suntiang pun hadir di sebuah mal besar di selatan Jakarta, tempat beragam budaya dan cita rasa berkumpul. Suntiang bersanding dengan deretan restoran tetangga yang bercita rasa ragam negara, mulai dari Italia, Amerika, Korea, hingga Jepang.

”Para pendiri restoran ini berpikir, jika mendirikan restoran Minang, sudah banyak pesaingnya. Jadi, mereka membuat pasar baru dengan menggabungkan masakan Minang dengan masakan Jepang,” kata Maulana.

Begitulah, di Restoran Suntiang, tradisi kuliner Minang seperti mempersunting tradisi kuliner Jepang. Tambuah ciek? Haik! (Indira Permanasari dan Budi Suwarna)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.