Kompas.com - 30/01/2014, 15:20 WIB
EditorI Made Asdhiana

Rustopo menyebutkan, ada 60 kelompok profesional pemain wayang orang di Jawa pada saat itu. Pemainnya tidak hanya orang asli Jawa, tetapi juga warga Tionghoa, seperti Perkumpulan Masyarakat Surakarta (PMS), atau Mekar Terate di Semarang.

Pengajar bahasa Perancis Universitas Negeri Semarang, Conny Handayani, misalnya, bercerita, ia bergabung dalam Mekar Terate sejak kecil. Ia ingat, perkumpulan yang diikutinya kemudian bubar pada tahun 1965 karena takut disangka anggota Partai Komunis Indonesia.

Suhartono Padmosumarto atau yang akrab disapa Maston, pendiri Teater Lingkar, dan penggagas Pagelaran Wayang Kulit Malam Jumat Kliwonan, mengungkapkan, bagaimana menarik anak muda untuk tertarik menonton wayang sangat bergantung pada sang kreator atau sutradara atau dalang. Ada banyak cara yang dapat dilakukan, seperti mempersingkat durasi, atau menambahkan konteks kekinian dalam cerita yang disampaikan.

Biar bagaimanapun, wayang, menurut Ketua Perkumpulan Seni Budaya Sobokartti, Tjahjono Rahardjo, menyampaikan nilai-nilai luhur tanpa menggurui siapa pun yang menyaksikan. Wayang juga mengajarkan toleransi, tidak ada hitam dan putih, benar atau salah.

Pemerhati Semarang, Jongkie Tio, mengungkapkan, berbeda dengan wayang purwa yang merupakan kesenian dan hiburan rakyat, wayang potehi yang berasal dari China awalnya banyak dipentaskan di kelenteng-kelenteng sebagai pertunjukan untuk dewa. Karena itu, sekalipun tidak ada yang menonton, dalang wayang potehi tetap bermain.

”Tetapi saat ini orang menonton juga untuk hiburan. Sayangnya sekarang dalang wayang potehi sangat jarang. Di Semarang, hanya ada satu dalang. Sulit sekali regenerasinya,” ungkap Jongkie.

Hal ini berbeda dengan wayang purwa yang sekarang mulai bergeliat. Anak-anak muda yang tergabung dalam Komplotan Bocah Wayang (Koboy), misalnya, mengadakan banyak kegiatan untuk menyosialisasikan wayang kepada anak-anak, mulai dari mengadakan workshop di sekolah-sekolah hingga membuat aneka produk, seperti kaus, pin, dan mug dengan gambar wayang.

Tentunya, jika melestarikan wayang merupakan tanggung jawab bersama, maka baik wayang purwa maupun wayang potehi, sama-sama harus dipertahankan. Ini kemudian menjadi pekerjaan rumah bersama, untuk semua, tak peduli Jawa, Batak, Sunda, Bugis, atau Tionghoa. (Amanda Putri Nugrahanti)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.