Tugu Pers Mendur, Pejuang Bersenjatakan Kamera

Kompas.com - 30/01/2014, 18:13 WIB
Jolly Rompas, pengelola Tugu Pers Mendur, berdiri di depan patung Alex Impurung Mendur (kiri) dan Frans Soemarto Mendur di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Rabu (22/1/2014). Tugu Pers Mendur didirikan untuk mengenang jasa kakak beradik tersebut yang mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia lewat kamera mereka. Keduanya adalah putra asli Minahasa. KOMPAS/ARIS PRASETYOJolly Rompas, pengelola Tugu Pers Mendur, berdiri di depan patung Alex Impurung Mendur (kiri) dan Frans Soemarto Mendur di Kelurahan Talikuran, Kecamatan Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara, Rabu (22/1/2014). Tugu Pers Mendur didirikan untuk mengenang jasa kakak beradik tersebut yang mengabadikan detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia lewat kamera mereka. Keduanya adalah putra asli Minahasa.
EditorI Made Asdhiana
PADA suatu malam, 16 Agustus 1945, Frans Soemarto Mendur mendengar kabar dari rekannya, seorang wartawan Jepang, bahwa keesokan hari akan dilakukan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia di kediaman Soekarno. Frans sempat tak percaya. Namun, sejak pukul 05.00, ia sudah berangkat berbekal ”senjata” bermerek Leica, kamera yang menemaninya sehari-hari sebagai wartawan.

Mulai tumbuh rasa percaya Frans saat melihat puluhan pemuda Indonesia berjaga-jaga di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta, yang tak lain adalah kediaman Bung Karno, panggilan akrab Soekarno. Di tempat itu pula ia melihat tokoh Indonesia yang tak hanya dari Jakarta saja, tetapi juga dari daerah, berkumpul. Frans juga melihat Bung Karno dan Bung Hatta, panggilan Mohammad Hatta, tengah berunding dengan sejumlah tokoh itu di satu ruangan.

Sekitar 10 menit sebelum pukul 10.00, tanggal 17 Agustus 1945, bergemuruh teriakan ”Hidup Indonesia!” dan ”Indonesia Merdeka!” saat Bung Karno, Bung Hatta, dan tokoh lain keluar rumah menuju halaman depan. Lantas terdengar aba-aba agar hadirin siap tegak berdiri. Tak lama kemudian, Bung Karno mengeluarkan secarik kertas dari sakunya dan membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Seusai pembacaan teks proklamasi oleh Bung Karno, pecahlah pekik ”Merdeka!” berulang-ulang oleh hadirin yang ada sembari mengepalkan tangan ke udara. Sulit dilukiskan perasaan orang yang ada ketika itu. Sebagian tampak menitikkan air mata. Frans, yang turut larut emosinya, nyaris lupa menjepretkan kamera. Namun, ia sempat mengabadikan pengibaran Bendera Merah Putih yang sudah mencapai ujung tiang bendera.

Warisan bersejarah

Kisah di atas adalah sekelumit kesaksian Frans Soemarto Mendur saat menjadi saksi sejarah pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Saat itu ia sebagai wartawan harian Asia Raja. Kesaksian itu dimuat di sebuah koran yang tidak tertera nama dan edisi terbitnya. Salinan dari tulisan itu dipajang di dalam ruangan Tugu Pers Mendur di Kawangkoan, Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara.

”Tanpa ada beliau, mungkin kita dan generasi setelah peristiwa bersejarah kemerdekaan Indonesia tidak bisa menyaksikan foto detik-detik proklamasi,” ujar Jolly Rompas (53), pengelola Tugu Pers Mendur, yang dipercaya oleh keluarga besar Mendur untuk merawat dan mengelola bangunan dan rumah yang layak disebut museum foto tersebut.

Sebenarnya, lanjut Jolly saat ditemui di Tugu Pers Mendur, pekan lalu, selain Frans, Alex Impurung Mendur, yang tak lain adalah kakaknya, turut mengabadikan peristiwa bersejarah itu. Hanya kamera Alex dirampas tentara Jepang dan dimusnahkan. Frans selesai memotret peristiwa bersejarah itu juga dikejar tentara Jepang yang menginginkan kameranya.

”Rol film milik Frans hasil jepretan pembacaan proklamasi dikubur di dalam tanah di halaman belakang kantor Asia Raja. Saat tertangkap, Beliau mengaku bahwa hasil jepretannya sudah dirampas Barisan Pelopor. Maka, selamatlah (hasil jepretan foto Frans),” tutur Jolly.

Meski demikian, hasil bidikan kamera Frans ternyata baru bisa diterbitkan enam bulan kemudian, tepatnya pada 20 Februari 1946 di halaman pertama Harian Merdeka. Cetakan foto bersejarah, entah yang keberapa kali sudah, itu abadi sampai kini. Murid-murid sekolah yang tengah belajar sejarah bisa menyaksikan detik-detik saat Bung Karno membaca teks proklamasi didampingi Bung Hatta serta pengibaran Sang Saka Merah Putih, lewat jepretan kamera Frans.

Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X