Kompas.com - 31/01/2014, 09:01 WIB
EditorI Made Asdhiana

Jalan sepanjang sekitar 200 meter itu pada pagi hari menjadi pusat penjualan onderdil kendaraan di Kota Medan. Begitu toko-toko onderdil itu tutup, Jalan Semarang berganti menjadi pusat kuliner. Mulai pukul 18.00, pedagang-pedagang menata pinggiran kiri-kanan jalan menjadi deretan meja kursi makan.

Kereta dorong makanan dan peralatan masak ditata di tengah jalan menyisakan gang di tengah jalan yang hanya cukup untuk melintas satu mobil. Aktivitas baru berhenti pada pukul 01.00 saat warung-warung kaki lima itu tutup.

Puluhan pedagang makanan sudah bergenerasi berjualan di situ. Weni Nazara (31) mengaku sudah lebih dari 20 tahun berjualan di Jalan Semarang. ”Dulu membantu majikan saya orang Tionghoa,” kata Weni, yang berjualan swike goreng, daging biawak, juga ular.

Saat majikannya meninggal, jualan itu diwariskan kepada Weni dan suaminya, Amat Gea (40). Adapun Yuni (24), pedagang sate padang, mewarisi lapak sate dari bapaknya yang sudah 30 tahun berjualan sate padang. Perempuan keturunan Padang itu merasa nyaman-nyaman saja berjualan di kawasan pecinan.

Menurut tokoh pluralisme Medan, Sofyan Tan (54), Jalan Semarang sudah ada sejak tahun 1960-an. Jalan Semarang menjadi agenda wajib menghabiskan waktu bersama sang kekasih di tahun 1975-an setelah menonton film di bioskop.

Menurut Sofyan, kawasan kuliner awalnya ada di Jalan Surabaya. Sejumlah restoran di Jalan Surabaya berdiri sejak tahun 1930. Restoran-restoran itu melayani kelas menengah di Medan yang berbelanja produk-produk ”branded” di kawasan Jalan Surabaya yang memang terkenal sebagai pusat perbelanjaan elite.

Restoran kelas menengah berkembang mengimbangi perdagangan di Jalan Surabaya hingga kawasan Selat Panjang, yang hingga kini pun menjadi pusat kuliner di Medan.

Berbeda dengan Jalan Semarang yang menggunakan badan jalan, kawasan kuliner di Jalan Selat Panjang lebih pendek dari Jalan Semarang dan berada di ruko-ruko yang lebih nyaman karena permanen. Menunya pun aneka rupa khas pecinan, dari mi hingga bebek, dari makanan berat hingga kudapan aneka rupa.

Kuliner Jalan Semarang, kata Sofyan, muncul kemudian sekitar tahun 1960 dan berkembang pesat 1970 hingga 1980-an. Kebutuhan warga untuk makan selepas berbelanja diduga menjadi pendorong munculnya kawasan kuliner itu.

”Dulu juga ada tiga bioskop di daerah itu, Bioskop Kusuma di Jalan Surabaya, Bioskop Djuwita di Jalan Pandu, dan Bioskop Ria yang kini menjadi Ria Restauran di pojok Jalan Pegadaian,” kata Sofyan. Tiga bioskop itu mendukung keberadaan kuliner Jalan Semarang karena selepas nonton film, orang selalu makan di Jalan Semarang seperti yang selalu ia lakukan.

Meskipun kini bioskop-bioskop itu sudah tutup dan pusat kuliner baru dan mal bermunculan di Kota Medan, keberadaan Jalan Semarang tetap tak tergantikan. Jalan Semarang, juga Jalan Selat Panjang, menjadi salah satu ikon kuliner yang tak terpisahkan dari Kota Medan karena keunikan dan tawaran menu yang enak dan beraneka ragam.

Pakar kuliner William Wongso bahkan mengatakan, meskipun kuliner jalanan, rasa kuliner Medan seperti kuliner hotel berbintang. (Aufrida Wismi Warastri)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.