Imlek, Kunjungan Wisman Meningkat ke Batam

Kompas.com - 31/01/2014, 19:47 WIB
Pengunjung melihat aksesori Imlek yang dijual di Mal BCS, Batam, Selasa (14/1/2014). Menjelang pergantian tahun baru Imlek, warga Tionghoa mulai berburu pernak-pernik Imlek untuk memeriahkan tahun baru yang akan memasuki tahun kuda kayu. TRIBUN BATAM/ARGIANTO DA NUGROHO Pengunjung melihat aksesori Imlek yang dijual di Mal BCS, Batam, Selasa (14/1/2014). Menjelang pergantian tahun baru Imlek, warga Tionghoa mulai berburu pernak-pernik Imlek untuk memeriahkan tahun baru yang akan memasuki tahun kuda kayu.
EditorI Made Asdhiana
BATAM, KOMPAS.com - Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Batam, Yusfa Hendri mengatakan, kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Kota Batam, Kepulauan Riau, meningkat saat perayaan pergantian Tahun China 2565. "Seperti biasa, tiap tahun kunjungan wisman saat Imlek melonjak," kata Yusfa di Batam, Jumat (31/1/2014).

Dia menjelaskan mayoritas wisman yang datang adalah warga Singapura dan Malaysia keturunan Tionghoa. Kebanyakan dari mereka mendatangi vihara dan silaturahim ke rumah saudara di Batam.

"Karena adanya persaudaraan di antara mereka, maka warga Singapura ke Batam, ada yang berkumpul ke rumah saudara, ada juga yang sengaja ke vihara," katanya.

Menurut Yusfa, dalam sejarahnya, Singapura, Semenanjung Malaya dan Riau merupakan satu kerajaan besar Riau-Lingga, sehingga banyak di antara warga tiga negara itu memiliki hubungan persaudaraan. Dan saat Imlek dan hari keagamaan lainnya menjadi momen warga tiga negara jiran itu untuk saling bersilaturahmi.

"Imlek memberikan kontribusi penambahan angka wisatawan karena ada komunitas-komunitas yang ada di Kepri memiliki hubungan historis dengan warga Malaysia dan Singapura," katanya.

Yusfa optimistis, dengan meningkatnya kunjungan wisman ke Batam saat Imlek, mampu menggenjot angka wisman sepanjang 2014 hingga mencapai target 1,3 juta orang.

Namun, lebih dari sekadar kunjungan wisatawan, menurut Yusfa, Imlek adalah perayaan keberagaman. Karena Imlek mampu menyatukan berbagai perbedaan dengan pesta budaya.

"Di samping perayaan, Imlek mewujudkan pembauran antarbudaya dan dapat memperkokoh silaturahmi," katanya.

Berbagai perbedaan yang mungkin sensitif dapat ditepis dalam kegiatan berkesenian. "Dalam berkesenian tidak ada membedakan suku, ras, ini lebih mudah merekatkan hubungan antar etnis," katanya.

Perayaan Imlek juga merupakan upaya pelestarian budaya, khususnya budaya etnis Tionghoa yang berada di daerah itu.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Antara
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X