Pantai Lampuuk nan Indah di Aceh

Kompas.com - 01/02/2014, 09:27 WIB
Peserta Banda Aceh International Kite Festival menaikkan layang-layang di kawasan Pantai Lampuuk, Aceh Besar, Minggu (10/7/2011). Festival yang diikuti peserta dari 11 negara ini merupakan bagian dari rangkaian program visit Banda Aceh Year 2011. SERAMBI/M ANSHAR Peserta Banda Aceh International Kite Festival menaikkan layang-layang di kawasan Pantai Lampuuk, Aceh Besar, Minggu (10/7/2011). Festival yang diikuti peserta dari 11 negara ini merupakan bagian dari rangkaian program visit Banda Aceh Year 2011.
EditorI Made Asdhiana

Pascatragedi tsunami dan perjanjian damai Aceh, sektor pariwisata di Aceh memang kembali menggeliat. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Aceh, jumlah wisatawan domestik dan mancanegara ke Aceh terus meningkat, khususnya tiga tahun terakhir.

Jumlah wisatawan domestik ke Aceh sebanyak 720.079 orang pada tahun 2010. Jumlah itu terus meningkat menjadi 959.545 orang pada 2011 dan 1.026.800 orang tahun 2012. Adapun jumlah tamu mancanegara ke Aceh sebanyak 20.648 orang pada tahun 2010. Jumlah itu terus bertambah menjadi 28.054 orang tahun 2011 dan 28.993 orang pada 2012.

Momentum itu tidak disia-siakan oleh masyarakat di sekitar Pantai Lampuuk. Mereka membangun bungalo untuk para wisatawan yang ingin beristirahat ataupun bermalam di sana. Ada pula pedagang yang membangun warung dan pondokan di tepian pantai.

Bahkan, di antara para pemilik bungalo, warung, dan pondokan itu ada beberapa warga dari luar Lhoknga. Sinong (35), warga Sigli, Pidie, misalnya, memanfaatkan celah bisnis di daerah itu dengan membangun warung dan pondokan di tepian Pantai Lampuuk sejak tiga tahun lalu.

”Pantai ini semakin ramai sejak tsunami dan perjanjian damai Aceh. Terutama pada Sabtu dan Minggu, tempat ini padat sekali. Untuk menambah pemasukan, saya pun berjualan di sini,” kata Sinong.

Muhammad Zikru (26), warga Desa Lamlhom, Lhoknga, Aceh Besar, menuturkan, memang pascatsunami dan perjanjian damai Aceh, obyek wisata Pantai Lampuuk semakin ramai dikunjungi wisatawan domestik dan mancanegara. Kondisi itu merupakan cermin betapa menarik keindahan alam Aceh sehingga pasca-terjangan tsunami bisa lekas bangkit dan kembali dikunjungi wisatawan.

”Padahal, tahun 2004, pantai ini merupakan salah satu tempat terparah yang dihantam tsunami. Bahkan, akibat musibah itu, separuh warganya menjadi korban dan hanya satu bangunan yang tersisa, yakni Masjid Rahmatullah Lampuuk,” ujarnya.

Zikru berharap pemerintah setempat tidak menyia-nyiakan potensi alam dan momentum kebangkitan sektor pariwisata Aceh itu. ”Hingga sekarang, Pantai Lampuuk masih dikelola oleh masyarakat setempat. Akibatnya, pengelolaan obyek wisata ini belum maksimal. Terbukti masih banyak sampah dan kotoran ternak di sekitar tempat ini,” ucapnya.

Zikru juga berharap pemerintah dapat membuat syariah Islam yang bersinergi dengan kebangkitan sektor pariwisata di Aceh. Jangan sampai penerapan syariah Islam menjadi semacam ”musuh” untuk perkembangan sektor pariwisata, terutama obyek wisata pantai.

”Bangkitnya pariwisata secara tidak langsung dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh, terutama yang hidup di daerah sekitar obyek wisata,” katanya. (ADRIAN FAJRIANSYAH)

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X