Ke Adonara dan Solor, Yuk!

Kompas.com - 02/02/2014, 18:04 WIB
Sejumlah bocah menarik jaring di Pantai Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, NusaTenggara Timur, Sabtu (18/5/2013). Profesi nelayan menjadi mata pencarian bagi sebagian besar warga yang tinggal di pulau tersebut.
KOMPAS/YUNIADHI AGUNGSejumlah bocah menarik jaring di Pantai Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, NusaTenggara Timur, Sabtu (18/5/2013). Profesi nelayan menjadi mata pencarian bagi sebagian besar warga yang tinggal di pulau tersebut.
EditorI Made Asdhiana
PAGI hari di Pantai Palo, Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Cuaca cerah, laut tenang. Pulau Adonara dan Pulau Solor terlihat di kejauhan. Seperti memanggil-manggil kami untuk datang.

Ah, kapan lagi bisa menginjakkan kaki di dua pulau itu! Kami lantas mendekati deretan perahu motor yang ditambatkan di Pantai Palo, mencari yang bersedia mengantar kami.

Berhitung dengan terbatasnya waktu, maka kami membagi dua kelompok. Satu rombongan menjelajah Adonara, rombongan lain menjelajah Solor. Kami siap berpetualang!

Perahu motor kami melaju cepat, membelah selat di antara Larantuka dan Adonara. Semakin ke tengah, alun kian kuat. Juru mudi bahkan memperlambat laju perahu motor, berhati-hati mengendalikan perahunya.

Ternyata kami sedang memasuki titik Gonsalu, wilayah perairan yang berbatasan dengan laut lepas, yang terkenal dengan arus kencangnya. Air laut biru pekat dengan gelombang yang berpusar membuat nyali ciut. Goyangan perahu dan cipratan air dari gelombang membuat kami terdiam.

Setelah berhasil menghindari beberapa pusaran air akhirnya sampai juga kami di Tanah Merah, Desa Wure, Kecamatan Adonara Barat. Kepala Desa Wure, Yosef Fernandez (43), yang sebelumnya sudah kami hubungi melalui telepon, telah menunggu.

Selamat datang

Setelah singgah sebentar di rumahnya, kami bergegas menuju Kapela Senhor. Tempat ibadah umat Katolik itu merupakan peninggalan sejarah yang dibangun pada 1556, saat Portugis masuk ke Flores Timur. Semula, Portugis mendarat di Pulau Solor sekitar tahun 1517, kemudian berlanjut ke Larantuka, baru Adonara.

”Letak bangunan kapela dulunya tidak di sini, tetapi sekitar 300 meter dari sini. Namun, karena sudah tua, bangunan lama hancur, lalu dipindah ke sini,” kata Ketua Lembaga Pemangku Adat Desa Wure Anton Fernandez.

Setiap Jumat Agung, memperingati hari wafatnya Yesus Kristus, Larantuka ramai dikunjungi wisatawan yang melakukan ziarah rohani. Jumlah peziarah di Perayaan Semana Santa—yang sudah diperingati 5 abad ini di Flores Timur—bisa mencapai belasan ribu orang. Wure juga tak kalah padat dikunjungi peziarah dalam momentum tersebut.

Halaman:
Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X