Aceh Hanya Menjadi Tempat Transit

Kompas.com - 04/02/2014, 11:15 WIB
Pengunjung melintas depan Gedung Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Kamis (21/2/2013). Selain berisi informasi tentang gempa dan tsunami, museum berlantai empat dengan arsitektur modern  yang dibangun tahun 2007 tersebut juga diperuntukkan sebagai tempat evakuasi bencana alam. SERAMBI INDONESIA/M ANSHARPengunjung melintas depan Gedung Museum Tsunami Aceh, Banda Aceh, Kamis (21/2/2013). Selain berisi informasi tentang gempa dan tsunami, museum berlantai empat dengan arsitektur modern yang dibangun tahun 2007 tersebut juga diperuntukkan sebagai tempat evakuasi bencana alam.
EditorI Made Asdhiana
BANDA ACEH, KOMPAS — Provinsi Aceh belum menjadi tempat tujuan wisata utama para pelancong domestik dan mancanegara. Hal itu tampak dari menurunnya rata-rata lama menginap wisatawan di sejumlah hotel di Aceh, yakni dari 3-4 hari pada 2012 menjadi berkisar 1-2 hari tahun 2013.

Hal itu mengemuka dalam ”Konferensi Pers Mengenai Data Terbaru Badan Pusat Statistik Aceh per Februari 2014”, di Banda Aceh, Senin (3/2/2014).

Merujuk Aceh dalam Angka 2013, tingkat kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara meningkat dalam tiga tahun terakhir. Jumlah tamu domestik ke Aceh sebanyak 720.079 orang tahun 2010. Jumlah itu terus meningkat menjadi 959.545 orang pada 2011 dan 1.026.800 orang tahun 2012.

Adapun jumlah tamu mancanegara ke Aceh sebanyak 20.648 orang tahun 2010. Jumlah itu terus meningkat menjadi 28.054 orang tahun 2011 dan 28.993 orang pada 2012.

Kepala Badan Pusat Statistik Aceh Hermanto mengatakan, dunia wisata Aceh meningkat dari segi kuantitas wisatawan, tetapi tidak dalam kualitas wisatawannya. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Aceh 2013, lama kunjungan wisatawan ke Aceh justru menurun setahun terakhir.

Rata-rata lama menginap tamu domestik di sejumlah hotel di Aceh 1,83 hari per Desember 2012. Angka itu menjadi 1,76 hari per Desember 2013. Adapun rata-rata lama menginap tamu mancanegara di sejumlah hotel di Aceh 3,06 hari per Desember 2012. Angka itu menjadi 1,63 hari per Desember 2013.

Hermanto mengatakan, seharusnya pemerintah setempat berupaya meningkatkan kualitas wisatawan agar tidak sebatas melihat Aceh. Para wisatawan harus dipacu tinggal dalam waktu lama di Aceh. ”Semakin lama mereka di Aceh, semakin banyak uang yang berputar di sini. Itu akan berdampak nyata bagi perekonomian Aceh, terutama bagi masyarakat di sekitar tempat wisata,” ujarnya.

Anggota Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia Cabang Aceh, Nurhadi, menyadari, Aceh masih sebatas menjadi tempat transit bagi para wisatawan, terutama dari Eropa. Umumnya, tujuan utama wisatawan adalah Sumatera Utara.

Nurhadi mengatakan, pemerintah setempat harus berbenah agar wisatawan domestik dan mancanegara tertarik menjadikan Aceh sebagai tujuan wisata utamanya. Tidak hanya gencar promosi, pemerintah pun harus meningkatkan infrastruktur terkait akses transportasi, jalur transportasi, dan fasilitas penunjang di tempat-tempat wisata.

”Selain itu, pemerintah juga perlu rutin menyelenggarakan acara ataupun festival. Dengan begitu, wisatawan bisa turut beraktivitas sehingga tidak bosan selama di sini,” ujarnya.

Halaman:


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X