Kompas.com - 24/02/2014, 14:32 WIB
Pameran ”ISI ISI” di Galeri Kemang 58, Jakarta, Jumat (21/2/2014). Pameran diikuti seniman Yogyakarta, lintas usia, lintas pengalaman, dan lintas komunitas yang masing-masing merespons bidang karya seluas 35 cm x 35 cm. KOMPAS/LASTI KURNIAPameran ”ISI ISI” di Galeri Kemang 58, Jakarta, Jumat (21/2/2014). Pameran diikuti seniman Yogyakarta, lintas usia, lintas pengalaman, dan lintas komunitas yang masing-masing merespons bidang karya seluas 35 cm x 35 cm.
EditorI Made Asdhiana
LEWAT tantangan berkarya dalam ukuran sama, 139 perupa lintas generasi, mulai 23 tahun hingga 83 tahun, berpameran bersama. Itulah suguhan Isi Isi, pameran 290 karya dari perupa lintas zaman dalam beragam ungkapan ekspresi, langgam, dan dimensi.

Begitu memasuki ruang pamer Galeri Kemang 58, sensasi yang terasakan adalah memasuki instalasi raksasa kolase 290 karya rupa yang berderet di dinding lantai 1 dan 2 ruang pamer itu. Ratusan kanvas bujur sangkar tampak seperti deretan foto-foto bujur sangkar Instagram, layanan sosial media khusus foto yang diakses dari layar telepon genggam atau gadget.

Semua rupa tersuguhkan dalam ukuran yang sama, berdimensi bujur sangkar. Semuanya dipasang dengan jarak serupa antara satu dan lainnya, tapi fotonya (kali ini kanvasnya) bercampuran tema, obyek, warna, dan nuansa.

Tak berlebih kalau menyebut penataan 290 karya itu telah menjadi karya tersendiri dalam pameran Isi Isi yang berlangsung 19 Februari-16 Maret 2014. Sebuah instalasi karya rupa yang berhasil memberi irama untuk menyimak karya demi karya dan merasakan sentuhan personal dari setiap perupa.

Sejarah proses kreatif dan kenangan akan Yogyakarta, Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta dan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta menjadi benang merah dan menjelaskan judul pameran Isi Isi itu. Beberapa perupa yang lepas dari benang merah serba Yogyakarta itu menambah kaya warna pameran ini.

Umur tak menipu

Dipatok berkarya dalam ukuran 35 cm x 35 cm, para perupa menghadirkan kemungkinan tak berbatas: lukisan potret diri, benda dan keseharian yang dilukis dalam gaya realis, rupa abstrak, ada pula rupa surealis, bahkan karya rupa tiga dimensi. Ungkapan ”umur tidak menipu” terasakan sebagai kekuatan dan pesona pameran lintas generasi itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Perupa paling sepuh, Soetopo asal Yogyakarta yang berusia 83, lulusan Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta angkatan 1950, menghadirkan tiga lukisan suasana kehidupan sehari-hari. Tiga lukisannya, dua di antaranya ”Petan” dan ”Kerokan”, digarap dengan warna dan nuansa khas pelukis ”tempo doeloe”.

Lebih-lebih lagi lukisan ”Pasar Burung”—yang melukiskan para pedagang dan pengunjung berlurik, berkain sarung, beberapa berikat kepala, saling berbincang burung dalam kandang burung ”tempo doeloe”. Pasar burung barangkali salah satu obyek yang paling banyak dilukis perupa didikan ASRI dan ISI Yogyakarta, yang hampir semuanya pernah mencicipi suasana pagi Ngasem, sebuah pasar burung di Yogyakarta, yang kini telah direlokasi ke Dongkelan.

Bentuk ekspresi yang sama sekali berbeda hadir dalam dua karya perupa termuda, Rato Tanggela. Dua karya itu, ”Bye Good Night” dan ”Hello Good Morning”, menghadirkan kekhasan rupa yang sangat kontemporer, muda, dan kini. Lintas generasi para perupa senyatanya menghadirkan lintas bentuk ekspresi.

Di antara karya kedua perupa, hadir beratus karya lain dengan beragam siasat merespons pakem 35 cm x 35 cm dengan khas. Perupa dari ASRI, Joko Pekik, tetap menghadirkan ”keriuhan massa” lewat lukisan ”Sejuta Anak Ayam”. Perupa ASRI lainnya, Aming Prayitno, menghadirkan ”Doble T” dan ”Triple Circle”.

Patokan dimensi 35 cm x 35 cm tak menghalangi perupa AT Sitompul (ISI Yogyakarta angkatan 2000) menghadirkan kanvas berlapis carvet dan cat akrilik merah dalam serial ”Kebaikan”, ”Kebenaran”, serta ”Kebaikan Menjaga Kebenaran” yang memadu bentuk-bentuk simetris dari dua karya pertama.

Sujono (ISI Yogyakarta angkatan 1986) malah menghadirkan ”lukisan” tiga dimensi ”Mbeler”, mempertahankan ukuran lebar dan tinggi 35 cm x 35 cm yang membingkai sebentuk telinga berbahan fiberglass yang molor dijewer. Karya tiga dimensi yang tertib pakem juga dihadirkan Kamroden Haro lewat ”Kamroden Family” yang berbahan kuningan dan besi. Semuanya hadir dengan kekhasan gelombang besar ekspresi rupa dari berbagai masanya, dengan sentuhan personal dari setiap perupa.

Dalam pameran tanpa kurator itu, dosen ISI Yogyakarta, Suwarno Wisetrotomo, memberikan catatan pengantar pameran berjudul ”Isen-isen” yang mengulas keguyuban para perupa lintas generasi. Juga keliaran mereka merespons patokan ukuran karya 35 cm x 35 cm.

Suwarno membenarkan ukuran karya yang mungil membuatnya ”cair”, mudah ditenteng dan diperjualbelikan banyak kolektor yang setelah krisis ekonomi global cenderung berhati-hati berbelanja karya. ”Karya kecil seperti ini memang ramah terhadap pasar, tetapi sebagian besar perupa justru membuktikan proses berkarya mereka lepas dari kecenderungan mengikuti selera pasar. Mereka justru menghadirkan kemungkinan tak berbatas dari 35 cm x 35 cm,” ujar Suwarno.

Isen-isen, yang dalam batik dikenal sebagai motif pengisi motif utama, dipilih Suwarno untuk menggambarkan pameran Isi Isi. ”Proses pameran ini memaksa perupa melepaskan rutinitas berkaryanya, memberi jeda, dan interupsi dari siklus berkarya masing-masing. Dalam proses kreatif yang panjang, jeda itu perlu,” kata Suwarno. (Aryo Wisanggeni G)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jumlah Kunjungan Turis Asing ke Indonesia Anjlok hingga 64,37 Persen Sepanjang 2021

Jumlah Kunjungan Turis Asing ke Indonesia Anjlok hingga 64,37 Persen Sepanjang 2021

Travel Update
Tingkat Okupansi Hotel Bintang di Indonesia Mulai Membaik, tapi...

Tingkat Okupansi Hotel Bintang di Indonesia Mulai Membaik, tapi...

Travel Update
Durasi Karantina WNI dan WNA di Indonesia Jadi 10 Hari Mulai 3 Desember

Durasi Karantina WNI dan WNA di Indonesia Jadi 10 Hari Mulai 3 Desember

Travel Update
Timor Leste Dominasi Jumlah Kunjungan Turis Asing ke Indonesia per Oktober 2021

Timor Leste Dominasi Jumlah Kunjungan Turis Asing ke Indonesia per Oktober 2021

Travel Update
Banyak Turis Asing ke Indonesia, Tapi Sedikit yang Tiba di Bali pada Oktober 2021

Banyak Turis Asing ke Indonesia, Tapi Sedikit yang Tiba di Bali pada Oktober 2021

Travel Update
Sebanyak 151.032 Turis Asing Kunjungi Indonesia pada Oktober 2021, Naik Dibanding September

Sebanyak 151.032 Turis Asing Kunjungi Indonesia pada Oktober 2021, Naik Dibanding September

Travel Update
Nglanggeran Masuk Daftar Best Tourism Villages UNWTO Diharapkan Menginspirasi Desa Wisata Lain

Nglanggeran Masuk Daftar Best Tourism Villages UNWTO Diharapkan Menginspirasi Desa Wisata Lain

Travel Update
Jepang Hentikan Semua Reservasi Penerbangan, Antisipasi Varian Covid-19 Omicron

Jepang Hentikan Semua Reservasi Penerbangan, Antisipasi Varian Covid-19 Omicron

Travel Update
Etika Naik Garuda Indonesia, Jinjing Tas Ransel!

Etika Naik Garuda Indonesia, Jinjing Tas Ransel!

Travel Tips
Geser Paris, Tel Aviv Kini Jadi Kota Termahal di Dunia

Geser Paris, Tel Aviv Kini Jadi Kota Termahal di Dunia

Travel Update
NTB Kembangkan Wisata Olahraga, Bisa Contek Kunci Kesuksesan Perancis

NTB Kembangkan Wisata Olahraga, Bisa Contek Kunci Kesuksesan Perancis

Travel Update
Nglanggeran Sukses Wakili Indonesia dalam Daftar Desa Wisata Terbaik UNWTO 2021

Nglanggeran Sukses Wakili Indonesia dalam Daftar Desa Wisata Terbaik UNWTO 2021

Travel Update
Libur Nataru, Kapasitas Tempat Wisata DIY 25 Persen dan Tak ada Perayaan Tahun Baru

Libur Nataru, Kapasitas Tempat Wisata DIY 25 Persen dan Tak ada Perayaan Tahun Baru

Travel Update
Rute The Beach Love Bali dari Bandara Ngurah Rai

Rute The Beach Love Bali dari Bandara Ngurah Rai

Travel Tips
Malaysia Batasi Pelaku Perjalanan dari Negara Berisiko Tinggi Omicron

Malaysia Batasi Pelaku Perjalanan dari Negara Berisiko Tinggi Omicron

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.