Lurik Menerobos Zaman

Kompas.com - 25/02/2014, 08:48 WIB
Perajin memilih benang untuk bahan baku kain tenun lurik yang dijual di Pasar Masaran, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (23/1/2014) pagi. Pasar itu menjadi tempat tujuan untuk mencari bahan baku serta menjual kain hasil tenunan bagi para petenun di kawasan sentra industri tenun lurik tersebut. KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKOPerajin memilih benang untuk bahan baku kain tenun lurik yang dijual di Pasar Masaran, Cawas, Klaten, Jawa Tengah, Kamis (23/1/2014) pagi. Pasar itu menjadi tempat tujuan untuk mencari bahan baku serta menjual kain hasil tenunan bagi para petenun di kawasan sentra industri tenun lurik tersebut.
EditorI Made Asdhiana

Sempat gulung tikar karena gempa dan kebakaran, Jadin hingga kini masih memproduksi tenun meski dalam skala kecil. Terobosan menarik yang tetap dipertahankannya adalah memadukan benang katun impor dengan sutra ataupun serat alami dari daun nanas serta rami.

”Saya heran, Indonesia kaya serat luar biasa. Lebih dari 98 persen kapas kebutuhan industri masih impor. Kita punya banyak alternatif. Enggak ada yang olah. Enak bermain dengan mafia kapas dibandingkan bermain dengan alternatif,” kata Jadin.

Rami, misalnya, sangat mudah dikembangkan. Karakteristik, daya serap, dan daya sentuhnya mendekati kapas. Setelah menjadi kain, rami juga unik karena mampu memunculkan efek warna etnik yang berbeda jika dibanding sekadar menggunakan kapas impor.

Karakter lurik

Lurik tak ubahnya artefak yang merekam semangat dan selera zaman, yang memang tumbuh dari kalangan jelata. Seperti yang dikatakan Kepala Institut Javanologi, Universitas Sebelas Maret, Sahid Teguh Widodo, lurik merupakan bagian dari kekuatan masyarakat agraris. Oleh karena itu, karakter kesederhanaan melekat erat dalam identitas lurik. Dibandingkan dengan tenun Indonesia lainnya pun, lurik merupakan jenis tenun yang proses pembuatannya paling sederhana karena coraknya hanya terdiri dari garis.

”Lurik itu milik kita yang betul-betul dari bawah dan sampai sekarang hidup dan menghidupi para perajin dan masyarakat di sekitar Yogya dan Solo,” kata Sahid.

Bertahannya lurik melintasi pergantian zaman tak lain karena kehadirannya terhubung erat dengan daur kehidupan manusia Jawa pada umumnya. Sebagai contoh, sejak usia tujuh bulan di dalam kandungan, lurik motif tumbar pecah menjadi sarana doa agar bayi lahir selamat. Lurik motif tuluh watu yang dipahat dalam Prasasti Raja Airlangga berangka tahun 1033, misalnya, masih dipakai anak-anak dalam upacara ruwatan penolak roh jahat.

Namun, sejumlah alasan, antara lain kehadiran mesin dan kapitalisasi, menggilas pamor lurik di era modern. Sampai kemudian sejumlah pihak, di antaranya mereka yang bergiat di industri mode, berupaya mengangkat kembali kepopuleran lurik sebagai bahan baku fashion serta desain interior.

Koestriastuti, pengurus perkumpulan Cita Tenun Indonesia (CTI), mengidentifikasi beberapa kendala terkait perkembangan lurik. Kesejahteraan perajin tergolong rendah, tidak ada regenerasi, dan perajin bergantung pada bahan baku benang serta pewarna impor.

Manajer Produksi dan Quality Control CTI Sjamsidar Isa menegaskan perlunya perlindungan dan campur tangan pemerintah demi pelestarian kain tradisional.

Kesejahteraan perajin bisa didongkrak dengan imbauan pemakaian lurik hasil produksi perajin. Demi regenerasi, pemerintah harus memasukkan pendidikan lurik ke dalam muatan lokal. Pemerintah juga harus mempermudah akses, ketersediaan bahan baku, hingga pemasaran.

”Perlu strategi komplementer agar perajin tidak ditarungkan dengan pabrik tekstil,” kata Sahid.

Inilah saatnya untuk bergerak menyelamatkan lurik. Kain unik yang mewarnai perjalanan peradaban bangsa ini. (Mawar Kusuma dan Myrna Ratna)

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tips dan Cara Masak Steak ala Restoran di Rumah untuk Pemula

Tips dan Cara Masak Steak ala Restoran di Rumah untuk Pemula

Makan Makan
Cari Tahu Rasa Kopi dengan Berbagai Pancaindra, Tertarik?

Cari Tahu Rasa Kopi dengan Berbagai Pancaindra, Tertarik?

Makan Makan
Imbauan Hong Kong untuk Wisatawan Terkait Situasi Terbaru Virus Corona

Imbauan Hong Kong untuk Wisatawan Terkait Situasi Terbaru Virus Corona

Jalan Jalan
Vietnam Batasi Turis Asing Masuk, Harus Karantina 14 Hari

Vietnam Batasi Turis Asing Masuk, Harus Karantina 14 Hari

Whats Hot
Cerita Hotel Dalton Sediakan Tempat Istirahat Tenaga Medis Covid-19

Cerita Hotel Dalton Sediakan Tempat Istirahat Tenaga Medis Covid-19

Whats Hot
Cerita Taman Hiburan di Jepang: Tutup, tapi Bersiap Sambut Pengunjung

Cerita Taman Hiburan di Jepang: Tutup, tapi Bersiap Sambut Pengunjung

Jalan Jalan
[POPULER TRAVEL] WNA Tidak Bisa Masuk Indonesia | Es Krim Viennetta

[POPULER TRAVEL] WNA Tidak Bisa Masuk Indonesia | Es Krim Viennetta

Whats Hot
OYO Indonesia Siapkan Kamar Hotel untuk Tenaga Medis Covid-19

OYO Indonesia Siapkan Kamar Hotel untuk Tenaga Medis Covid-19

Jalan Jalan
Kisah Turis Asing Terjebak di Asia karena Pandemi Global Virus Corona

Kisah Turis Asing Terjebak di Asia karena Pandemi Global Virus Corona

Jalan Jalan
Cara Memindahkan Jadwal Penerbangan AirAsia Indonesia yang Dibatalkan

Cara Memindahkan Jadwal Penerbangan AirAsia Indonesia yang Dibatalkan

Travel Tips
Jepang Batasi Turis Asing Masuk, Termasuk WNI

Jepang Batasi Turis Asing Masuk, Termasuk WNI

Travel Tips
Orang Jepang, China, dan Korea Sering Pakai Masker, Ternyata Ini Alasannya...

Orang Jepang, China, dan Korea Sering Pakai Masker, Ternyata Ini Alasannya...

Travel Tips
Gerakan Masker Kain, Ajakan untuk Desainer Lokal Produksi 100.000 Masker Kain

Gerakan Masker Kain, Ajakan untuk Desainer Lokal Produksi 100.000 Masker Kain

Whats Hot
Ada Tenaga Medis di Purwokerto Diusir dari Kostan, Aksara Homestay Beri Penginapan Gratis

Ada Tenaga Medis di Purwokerto Diusir dari Kostan, Aksara Homestay Beri Penginapan Gratis

Whats Hot
12 Bandara di Indonesia Terapkan Layanan Pelanggan Virtual, Seperti Apa?

12 Bandara di Indonesia Terapkan Layanan Pelanggan Virtual, Seperti Apa?

Travel Tips
komentar di artikel lainnya
Close Ads X