Memahami Lontar, Datanglah ke Museum Gedong Kirtya

Kompas.com - 27/02/2014, 13:25 WIB
Petugas jaga Museum Gedong Kirtya memperlihatkan kepada wisatawan asing salah satu isi lontar. EKA JUNI ARTAWANPetugas jaga Museum Gedong Kirtya memperlihatkan kepada wisatawan asing salah satu isi lontar.
EditorI Made Asdhiana
KOMPAS.com - Berwisata ke Buleleng, bukan hanya terkenal akan Pantai Lovina-nya. Kabupaten yang luasnya hampir sepertiga wilayah Pulau Bali ini memiliki pemandangan alam berupa bukit dan pantai yang terhampar dari bagian barat sampai timur. Perpaduan ini, menyelaraskan tradisi dan kebudayaan yang dimiliki. Sehingga, Kabupaten Buleleng layak untuk dikunjungi sebagai salah satu tempat eksplorasi wisata yang belum dikenal secara luas.

Kabupaten Buleleng dengan Ibu Kota Singaraja ini bukan saja menyimpan budaya lokal yang tertanam dari seorang Raja Buleleng yang bernama I Gusti Putu Jelantik di masa Hindia Belanda. Melalui sebuah museum, berbagai cerita dan sejarah tersimpan dalam kenangan masa lampu.

Salah satunya Museum Gedong Kirtya, yang menyimpan warisan leluhur secara turun temurun di Bali. Naskah–naskah dalam bentuk lontar atau Pustaka Lontar tersimpan baik di gedung ini. Pembuktian ini, dapat disaksikan dalam bentuk lontar kuno.

EKA JUNI ARTAWAN Tampak depan Museum Gedong Kirtya, Singaraja, Bali.
Museum yang memiliki luas lahan sekitar 300 meter persegi ini nampak usang. Berdiri pada tanggal 2 Juni 1928 dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 14 September 1928. Museum Gedong Kirtya berada di kawasan perkotaan, tepatnya Jalan Veteran No. 20, Singaraja, tidak jauh dari Kantor Bupati Buleleng berada. Jika Anda datang dari Pantai Lovina, hanya berjarak 10 kilometer ke arah timur.

Dari luar akan nampak bangunan arsitektur kuno. Sekilas, seperti bangunan tak berpenghuni tanpa adanya unsur kemewahan, nampak sangat sederhana. Padahal, di sini ada ribuan koleksi lontar yang tersimpan rapi dalam kotak yang disebut keropak yang panjangnya sekitar 60 centimeter.

Semua tersusun rapi berdasarkan kelompok atau klasifikasi. Barisan paling atas Lontar Sasak, isinya tentang budaya Sasak. Kemudian Matrastawa (mantra/puja/weda), Niticastra (etik), Wariga (astronomi dan astrologi), Tutur (petuah), Usadha (pengobatan tradisional), Geguritan (kidung), Babad Pamancangah (sejarah), Satua (cerita rakyat). Semua lontar berbahasa Jawa kuno dan Sansekerta. Cuma, dalam Lontar Satua hanya menggunakan bahasa Bali.

EKA JUNI ARTAWAN Wisatawan asing mendapatkan penjelasan mengenai seluk beluk lontar di Museum Gedong Kirtya, Singaraja, Bali.
Areal museum ini terbagi menjadi empat ruangan. Ruang 1 menyimpan lontar atau buku tua; Ruang 2 tempat salinan lontar; Ruang 3 tempat administrasi; dan Ruang 4 sebagai tempat pameran.

Pengunjung bebas melihat semua bentuk lontar. Petugas memberi sambutan kepada setiap pengunjung yang datang, baik lokal maupun domestik. Wisatawan diperlihatkan bentuk lontar dan diceritakan dari isi tersebut yang tertulis dalam bahasa Sansekerta.

"Ini menceritakan tentang Rerajahan, orang yang suka menjaga diri akan menulis beberapa mantram dan gambar, lalu disimpan dalam tubuhnya. Agar mau hidup harus di Pasupati dulu, tidak secara langsung dapat digunakan," ungkap Ni Made Sukeranis, salah satu petugas museum sambil menunjuk salah satu bentuk lontar yang ada di atas meja.

EKA JUNI ARTAWAN Lontar yang dipamerkan di Ruang 4 Museum Gedong Kirtya, Singaraja, Bali.
Setiap wisatawan asing yang datang berkunjung juga dijelaskan tentang isi dari lontar tersebut. Di sini ada petugas yang khusus mendampingi wisatawan asing untuk menerjemahkan lontar dalam bahasa Inggris.

Kebanyakan wisatawan bertanya tentang isi dan tahun pembuatan lontar, karena di sini semua lontar diberi judul menggunakan bahasa Bali. Mereka akan dipertunjukan beberapa contoh yang sering dibaca oleh pengunjung lainnya, seperti tentang Wariga (astronomi dan astrologi) dan Usadha (pengobatan tradisional).

Semua bentuk lontar ini tersimpan di ruang satu. Selain lontar juga ada berbagai macam bentuk buku tua dan kamus tua. “Kebanyakan buku tua ini berbahasa Kawi dan Belanda,“ imbuh Sukeranis.

EKA JUNI ARTAWAN Ruang pameran lontar di Ruang 4 Museum Gedong Kirtya, Singaraja, Bali.
Sukeranis menjelaskan, kebanyakan wisatawan asing yang datang berasal dari negara Belanda. Museum yang sebelumnya dikenal dengan nama "Kirtya Liefrinck Van der Tuuk" buka setiap hari Senin sampai Jumat dari pukul 08.00 hingga 16.00. Kecuali hari Jumat hanya buka sampai pukul 13.00. Pengunjung tidak dipungut biaya sepeser pun. (Eka Juni Artawan)

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X