Kompas.com - 04/03/2014, 12:57 WIB
Burung kuntul terbang sekitar tempat pengolahan akhir sampah di Jatibarang, Kota Semarang, Jawa Tengah Jumat (27/7/2012). Ratusan burung tersebut setiap hari mencari makan di antara 4.150 meter kubik timbunan sampah yang dihasilkan warga Kota Semarang setiap harinya. KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASABurung kuntul terbang sekitar tempat pengolahan akhir sampah di Jatibarang, Kota Semarang, Jawa Tengah Jumat (27/7/2012). Ratusan burung tersebut setiap hari mencari makan di antara 4.150 meter kubik timbunan sampah yang dihasilkan warga Kota Semarang setiap harinya.
EditorI Made Asdhiana
DEMAK, KOMPAS - Pemerintah Kabupaten Demak, Jawa Tengah, merintis pembangunan kawasan wisata mangrove serta pelestarian burung kuntul kecil (Ardea garzetta), kuntul kerbau (Ardea ibis), dan kuntul besar (Ardea alba) di wilayah pesisir yang rusak akibat abrasi. Infrastruktur pendukung di kawasan itu telah dibangun, seperti jalan beton, jembatan kayu, air bersih, dan rumah panggung.

Kepala Bidang Kelautan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak Suharto, di Demak, Senin (3/3/2014), mengatakan, potensi wisata mangrove dan pelestarian kuntul itu ada di Desa Bedono, Kecamatan Sayung. Pasca kerusakan hebat akibat abrasi, masyarakat sejumlah dusun di desa itu mulai menanam mangrove.

Salah satunya di Dusun Tambaksari yang berjarak sekitar 800 meter dari pantai Desa Bedono. Dusun itu kini ditinggali delapan keluarga dan terdapat hutan mangrove yang menjadi habitat burung kuntul.

”Melalui program sinergi Pemkab Demak, pemerintah pusat, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, kami membangun jalan beton yang menghubungkan Dusun Tambaksari dengan pantai Desa Bedono pada 2013. Kami juga membangun jembatan kayu untuk menyusuri mangrove di dusun itu,” kata dia.

Tahun 2007, pemerintah membangun rumah panggung untuk warga yang tinggal di dusun itu. Rumah panggung itu adalah salah satu bentuk adaptasi terhadap kondisi dusun itu yang sudah menjadi rawa mangrove.

”Kami melengkapinya dengan membangun jaringan air bersih dan toilet dalam rangka program sanitasi lingkungan,” kata dia.

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Demak tahun 2013, luas tanaman mangrove 5.207 hektar, terdiri dari 2.849 hektar dalam kondisi baik, 1.196 hektar rusak sedang, dan 1.162 hektar rusak parah.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berdasarkan data Semarang Bird Community tahun 2009, di hutan mangrove Dusun Tambaksari terdapat burung kuntul kecil, kuntul kerbau, dan kuntul besar. Selain itu, ada juga burung yang lain, seperti trinil kaki hijau, cerek jawa, cangak merah, cekakak sungai, dan remutuk laut.

Tokoh warga Dusun Tambaksari, Fauzan (57), berharap, pembangunan yang dilakukan pemerintah tak mengurangi peran masyarakat. Biar masyarakat tetap mengelola wisata itu sambil turut menjaga kelestarian mangrove dan burung. (hen)Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

Pantai Pesewan Gunungkidul yang Tersembunyi, Rute ke Sana Cukup Menantang

Jalan Jalan
Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

Surat Terbuka untuk Jokowi Soal Pariwisata Bali dari IINTOA, Ini Isinya

Travel Update
Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

Indonesia Batasi Kedatangan dari 8 Negara Akibat Varian Baru Covid-19

Travel Update
Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

Resmi, Jemaah Umrah Asal Indonesia Tak Perlu Vaksin Booster

Travel Update
Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

Inggris Raya Wajibkan Karantina Mandiri untuk Semua Kedatangan

Travel Update
Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

Antisipasi Varian Covid-19 Baru, Warga dari 8 Negara Afrika Ini Tak Bisa Masuk AS

Travel Update
Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

Camping di Puncak Kuik, Nikmati Gemerlap Ponorogo dari Ketinggian

Jalan Jalan
4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

4 Tren Berwisata yang Berubah karena Pandemi

Travel Update
Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

Okupansi Hotel di Kota Semarang Mulai Naik

Travel Update
4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

4 Tips Kunjungi Ruang Lapang di Bandung Barat, Waktu Terbaik dan Menu Andalan

Travel Tips
Rute Terdekat ke Puncak Kuik Ponorogo, Hati-hati Tanjakan Terjal dan Berkelok Tajam

Rute Terdekat ke Puncak Kuik Ponorogo, Hati-hati Tanjakan Terjal dan Berkelok Tajam

Travel Tips
Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Wisata Puncak Kuik Ponorogo

Jam Buka dan Harga Tiket Masuk Wisata Puncak Kuik Ponorogo

Travel Tips
Festival Kota Cerutu Jember, Momen Kenalkan Kekayaan Wisata

Festival Kota Cerutu Jember, Momen Kenalkan Kekayaan Wisata

Travel Promo
Wisata Puncak Kuik, Salah Satu Atap Ponorogo yang Memesona

Wisata Puncak Kuik, Salah Satu Atap Ponorogo yang Memesona

Jalan Jalan
Jangan Lakukan 3 Hal Ini di Polandia, Bisa Datangkan Nasib Buruk

Jangan Lakukan 3 Hal Ini di Polandia, Bisa Datangkan Nasib Buruk

Jalan Jalan
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.