Kompas.com - 05/03/2014, 14:19 WIB
|
EditorI Made Asdhiana
BENGKULU, KOMPAS.com — Siang terik menunjukkan pukul 11.30 WIB. Suara serangga hutan, siamang, dan gemuruh aliran air menyambut kedatangan setiap pengunjung di lokasi bendungan Desa Embong I, Kecamatan Uram Jaya, Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu. Puluhan anak berseragam sekolah tampak asyik bergerombol di bendungan tersebut sambil bercengkerama di pinggir bendungan yang masih baru itu.

Bendungan tersebut merupakan pintu masuk menuju kawasan hutan, Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS), lokasi di mana Air Terjun Paliak berada. Dari bendungan menuju lokasi air terjun memakan waktu tak lama bagi masyarakat setempat, sekitar 30 menit menembus hutan, menyeberangi sungai, dan melompati bebatuan.

Diperlukan nyali, kemampuan berenang, fisik, dan mental untuk menjumpai air terjun nan cantik itu. Maklum, selama ini Air Terjun Paliak cukup populer bagi masyarakat setempat, tetapi tak banyak wisatawan datang mengunjungi karena kurangnya promosi. Tetapi tak apalah, dengan kondisi tersebut, ia tetap asri dan alami serta bebas sampah.

Tantangan pertama memulai perjalanan pengunjung harus menuruni bendungan yang membelah sungai dengan lebar sekitar 30 meter. Pengunjung meski menuruni dinding bendungan yang telah disediakan 10 anak tangga. Sampai ke dasar sungai, air hanya setinggi mata kaki lalu berpindah ke dinding berikutnya. Jumlah anak tangganya pun sama hanya 10 undakan.

Berhasil melewati tantangan itu, Anda akan disuguhkan dengan hutan dengan tutupan kanopi yang lebar sehingga udara sejuk terasa, bahkan sempat menggoda mata menjadi terkantuk. Perjalanan menyisir sungai dengan tantangan batu-batu berukuran besar akan kita temui. Memang dibutuhkan kemampuan melompat dan kesimbangan yang baik agar tidak terjatuh. Sebab, terjatuh akan berisiko, artinya celaka.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Air Terjun Paliak, di Kabupaten Lebong, Bengkulu.
Beruntung Kompas.com ditemani seorang warga setempat bernama Rino (23), salah seorang alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Bengkulu. Sepanjang perjalanan, Rino tak henti-hentinya bercerita tentang indahnya air terjun itu dan lebatnya hutan TNKS sehingga memacu semangat untuk segera tiba.

Awalnya, mengikuti irama kaki Rino dari satu batu ke batu lain untuk menyeberangi sungai cukup merepotkan. Belum lagi bila terbentur batu seukuran truk yang menghalangi penyeberangan. Kami harus melakukan pemanjatan (rock climbing) atau mencari celah lain dengan cara berenang menerobos arus sungai yang jernih dan sejuk itu.

Saat menyelam air sejernih kaca itu, mataku sempat membentur beberapa ekor ikan seukuran telapak tangan pria dewasa yang tampak berenang lincah seolah meledek. Suasana semakin terasa khas hutan saat beberapa ekor siamang bersahut-sahutan dari kedua sisi sungai, seakan menyoraki kami yang terkepung dalam satu celah air dan diimpit bebatuan berukuran raksasa yang banyak tersebar di sungai.

Lagi-lagi, Rino membantu mencarikan alternatif jalan lain dengan menerobos arus sungai dengan cara berenang sekuat tenaga. Jika tidak, kami akan hanyut terbawa arus. Dari hitungan setidaknya empat kali menyeberang sungai dengan tantangan semacam itu, akhirnya pemandangan sungguh indah terbentang di hadapan kami, Air Terjun Paliak, dengan air berwarna putih mengalir deras berdiri kokoh setinggi tidak kurang dari 30 meter.

Buih dan kabut dari hamparan air terjun itu tampak berserakan di sepanjang sungai dan embunnya sempat pula menyapu wajah. Hati-hati bila mengeluarkan kamera atau peralatan lain yang berteknologi karena embun dari air terjun akan cepat membasahi. Jutaan liter air tercurahkan secara serentak, seolah ditumpahkan dari langit ke satu lubang jika dilihat dari bawah. Sementara di sisinya berdiri barisan pohon juga berukuran raksasa, seperti menyampaikan pesan bahwa merekalah pengawal air terjun itu.

KOMPAS.COM/FIRMANSYAH Rute dan jalur yang harus dilalui menuju Air Terjun Paliak di Bengkulu.
Rasa lelah, letih, dan penat serta-merta musnah dengan sajian pemandangan alam nan alami itu. Hamparan hutan TNKS tampak menghijau jauh selepas mata memandang, sangat tepat melepas jenuh pada semua rutinitas di hutan itu.

Tak ada yang tahu tentang sejarah Air Terjun Paliak. Namun, apa pun itu, kawasan tersebut merupakan penyuplai air bagi ribuan jiwa warga Kabupaten Lebong. Menuju ke lokasi ini, jika dari Bandara Fatmawati Soekarno, Kota Bengkulu, ke Kabupaten Lebong, dapat menggunakan jalur darat dengan jarak tempuh sekitar empat jam. Sampai di Kabupaten Lebong, warga setempat dengan senang hati akan memberikan arah menuju lokasi Air Terjun Paliak.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.