Kompas.com - 11/03/2014, 14:23 WIB
Penari beristirahat usai mennggelar pentas di Plaza Wisnu di Kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bukit Ungasan, Bali, Kamis (22/8/2013). Nantinya di tempat tersebut akan dibangun monumen GWK yang memiliki ketinggian 126 meter dengan lebar 64 meter. KOMPAS/WAWAN H PRABOWOPenari beristirahat usai mennggelar pentas di Plaza Wisnu di Kawasan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bukit Ungasan, Bali, Kamis (22/8/2013). Nantinya di tempat tersebut akan dibangun monumen GWK yang memiliki ketinggian 126 meter dengan lebar 64 meter.
EditorI Made Asdhiana
BANYAK yang bilang, Bali laksana surga dunia: kesenangan, keramahan, dan keindahannya. Semua gambaran indah-indah itu membawa Bali menjadi surga pariwisata. Tak sedikit wisatawan asing ataupun domestik lebih dari sekali berkunjung ke Bali. Namun, jangan salah, Bali juga sama dengan provinsi lain. Tak semua keindahan itu milik Bali.

Tahun 2013, Provinsi Bali mencatatkan angka kemiskinan 3,95 persen atau sekitar 162.500 orang dari total penduduk yang mendekati 4 juta jiwa itu. Angka ini memang menurun dalam lima tahun terakhir (5,13 persen atau 181.700 orang pada tahun 2009). Ini merupakan provinsi dengan angka kemiskinan terendah setelah DKI Jakarta.

Namun, bagi Gubernur Bali Made Mangku Pastika, angka itu merupakan aib. Ia pun memajang foto salah satu keluarga termiskin di Bali dan membingkainya besar-besar di salah satu dinding ruang kerjanya.

”Miris rasanya. Bali adalah ’Pulau Surga’. Surga yang mana? Surga, kok, masih banyak warga miskinnya, masih ada yang tidak makan sehari tiga kali, masih ada yang tidak bisa sekolah, masih ada yang sakit-sakitan tak bisa membayar ongkos rumah sakit, masih ada yang rumahnya gubuk reyot. Karena itu, kami masih mengedepankan dan mencari model pemberantasan kemiskinan yang pas dan sesuai dengan masyarakat Bali, agar cepat tercapai kesejahteraannya melalui program Bali Mandara,” tutur Pastika, akhir Februari.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO Para penari Adimerdangga dari Gianyar menyemarakkan upacara Peletakan Batu Pertama Proyek Garuda Wisnu Kencana (GWK) di Bukit Ungasan, Bali, Jumat (23/8/2013). Rencananya, dalam tiga tahun ke depan di tempat tersebut akan berdiri sebuah monumen yang memiliki ketinggian 126 meter dan lebar 64 meter.
Ia tak menyalahkan pariwisata yang diduga menjadi salah satu pemicu ketimpangan Bali bagian utara, timur, dan barat dengan bagian selatan. Bali selatan begitu modern dan gemerlap dibandingkan dengan wilayah lain yang sepi pembangunan, khususnya di bidang pariwisata.

Menurut Pastika, dirinya berharap kabupaten di bagian selatan (Badung, Denpasar, Gianyar) bisa mengontrol gemerlapnya pembangunan yang alasannya mendukung pariwisata. Ia percaya banyak lembaga dan badan yang mengurus pariwisata Bali. Itu sebabnya, ia memilih fokus pada pemberantasan kemiskinan terlebih dahulu karena persoalan Bali masih banyak, seperti alih fungsi lahan dampak pertambahan penduduk.

Bali Mandara merupakan program Bali menuju aman, damai, dan sejahtera yang dekat dengan memberantas kemiskinan, membuka peluang kerja, memperkuat pertanian, hingga meningkatkan pendapatan masyarakat. Badan Pusat Statistik Provinsi Bali mencatat rata-rata pendapatan masyarakat Bali sekitar Rp 20 juta per tahun. Pastika mengatakan, angka ini semu karena masih ada warga yang berpendapatan kurang dari Rp 10 juta per tahun.

KOMPAS.COM/NI LUH MADE PERTIWI F Taman Ujung di Karangasem, Bali.
Pastika menambahkan, sumbangan devisa dari Bali yang mengalir ke pusat mencapai sekitar Rp 41 triliun. Namun, Bali hanya mendapatkan pengembalian sekitar Rp 900 miliar.

”Kami membutuhkan banyak pembangunan. Tidak gampang mempertahankan keindahan yang disebut-sebut ’Pulau Surga’ ini di Bali. Kami mengandalkan pariwisata dan pertanian. Kami kira, kami masih layak untuk meminta agar pemerintah pusat menambah porsi pengembalian dari sumber devisa yang disetorkan sekitar Rp 41 triliun itu. Paling tidak, kami mendapatkan sedikitnya 10 persen atau sekitar Rp 5 triliun,” tutur Pastika.

Mengenai infrastruktur, Bali bisa dikatakan lumayan baik. Apalagi, menjelang perhelatan Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) akhir tahun 2013, pusat begitu mendukung pembangunan infrastruktur, seperti jalan tol di atas perairan serta jalan underpass.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.