Desa Wisata Inovatif Tingkatkan Kunjungan Wisatawan

Kompas.com - 20/03/2014, 14:03 WIB
Wisatawan mengendarai mobil jip saat mengikuti wisata lava tour di kaki Gunung Merapi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (17/5/2013). Wisata mengunjungi daerah bekas aliran lava erupsi Merapi ini dipungut biaya Rp 300.000 - Rp 500.000 per trip. KOMPAS IMAGES/KRISTIANTO PURNOMO Wisatawan mengendarai mobil jip saat mengikuti wisata lava tour di kaki Gunung Merapi, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (17/5/2013). Wisata mengunjungi daerah bekas aliran lava erupsi Merapi ini dipungut biaya Rp 300.000 - Rp 500.000 per trip.
EditorI Made Asdhiana
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Pengelolaan desa wisata yang inovatif akan mampu meningkatkan jumlah kunjungan wisata baik mancanegara maupun nusantara. "Untuk itu, keberadaaan desa wisata di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang jumlahnya cukup banyak harus dikelola secara inovatif," kata Ketua Yayasan Widya Budaya Yogyakarta, Widi Utaminingsih di Yogyakarta, Rabu (19/3/2014).

Menurut Widi, pengelola desa wisata harus memiliki pemikiran yang cerdas untuk menemukan program kegiatan yang inovatif sehingga mampu menarik minat berkunjung wisatawan nusantara maupun mancanegara.

DIY memiliki keanekaragaman seni budaya. Untuk bisa menjadi desa wisata yang memiliki nilai jual kepada wisatawan harus ada inovasi potensi yang dimiliki dengan memadukan keduanya.

"Dengan demikian, diharapkan dengan potensi wisata dan budaya lokal yang disajikan secara inovatif maka wisatawan yang menginap di desa itu akan betah dan merasa nyaman," katanya.

Widi mengatakan, desa wisata yang dikenal wisatawan diharapkan makin banyak pula wisatawan yang berkunjung ke desa tersebut, sehingga secara perlahan diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi lokal.

"Desa wisata dengan konsep pariwisata berbasis masyarakat diyakini membawa manfaat besar bagi masyarakat setempat. Maju mundurnya desa wisata tergantung pengelola dan sumber daya manusia (SDM) masyarakat lokal," katanya.

Saat ini tercatat 65 desa wisata di DIY dan dari jumlah itu perkembangan masing-masing desa wisata tersebut tidak sama, bahkan ada yang mati suri.

"Namun demikian, masih banyak juga desa wisata yang keberadaannya berkembang baik di antaranya Desa Wisata Kembangarum, Turi Kabupaten Sleman, dan Desa Wisata Kebonagung di Kabupaten Bantul," kata Widi.



Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X