Tanjidor Melintas Zaman

Kompas.com - 23/03/2014, 14:11 WIB
Arak-arakan tanjidor grup Sinar Betawi pimpinan Maman menuju lokasi pentas Parade Tanjidor di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (21/3/2014). KOMPAS/LASTI KURNIAArak-arakan tanjidor grup Sinar Betawi pimpinan Maman menuju lokasi pentas Parade Tanjidor di Bentara Budaya Jakarta, Jumat (21/3/2014).
EditorI Made Asdhiana
SISA-sisa ”laskar” tanjidor terus meniup keras-keras trompet, trombon, dan tuba. Di dalam raungan tanjidor tersimpan identitas budaya Betawi. Bukan hal mudah di tengah kehidupan kota besar. ”Anak muda sekarang lebih suka goyang dangdut,” ujar Sait Neleng (65), seniman kawakan tanjidor.

Di keluarga Sait sendiri, dari tujuh anak hanya satu orang yakni Minan (36) yang mau bermain tanjidor. Itu pun setelah Sait dengan sabar membujuknya. Enam anak Sait lainnya memilih jalan hidup masing-masing. Agar dia memiliki satu grup lengkap, Sait merekrut kerabat yang masih terhitung keponakan atau cucunya.

”Alhamdulillah, sekarang saya punya satu grup pemain yang terdiri dari aki-aki dan anak muda,” ujar Sait yang mewarisi tanjidor dari kakak iparnya, Bang Banjir, pada 1970-an.

Sait sendiri belum puas dengan kemampuan anak muda yang dia rekrut. ”Mainnya baru asal tiup. Tapi kalau tekun lama-lama mereka pasti bisa main juga.”

KOMPAS/LASTI KURNIA Kelompok Sanggar Betawi Si Pitung pimpinan H Bachtiar membawakan lawakan lenong yang digabung dengan musik tanji pada pentas Parade Tanjidor di Bentara Budaya Jakarta, Kamis (20/3/2014).
Belajar alat musik tiup tanjidor memang bukan perkara mudah. Minan yang sudah berlatih tujuh tahun sampai sekarang belum sanggup meniup tuba (trompet bas). ”Mulut saya sampe monyong begini niup tuba, tapi suaranya kagak keluar. Akhirnya saya niup trombon sampe sekarang,” ujar Minan dengan logat Betawi kental.

Pada tuba milik Sait itu tercantum angka tahun pembuatan 1894. Di bawahnya tertera merek MJH Kessels, perusahaan alat musik di Tilburg, Belanda. Sebuah ”artefak” bunyi yang cukup tua.

Seperti Sait, Jaip Putra Jabar (65), pimpinan tanjidor Al Jabar dari Tangerang, juga berusaha keras melahirkan generasi baru pemain tanjidor sejak tujuh tahun lalu. Ada 20-an orang anak muda yang dia latih main musik tanjidor dengan cara yang sama seperti ketika Jaip dilatih tanjidor oleh engkongnya tahun 1960-an. ”Saya disuruh dengerin engkong mainin lagu. Terus saya inget-inget bunyinya dan saya tiru,” ujar Jaip.

Sekarang, dia merekam permainan musiknya dengan ponsel. Anak-anak muridnya diminta mendengarkannya lalu menirukannya. ”Kita belum kenal not. Lagu juga enggak pernah dicatet. Makanya kita maen pake perasaan aja dah,” tambah Jaip.

Semua lagu yang pernah diajarkan engkongnya, Jaip ajarkan kepada anak muridnya termasuk lagu-lagu yang menurut dia klasik, seperti ”Glatik Nguknguk”, ”Balo-balo”, ”Kramat Karem”, dan ”Kembang Kacang”. ”Itu lagu-lagu yang udah ada sebelum engkong saya lahir.”

KOMPAS/LASTI KURNIA Dari kiri ke kanan, Ipong, Naih, dan Maah Piye, tiga bersaudara dari Grup Pusaka Tiga Saudara pimpinan Maah Piye.
Ketika ditanya kapan engkongnya lahir, Jaip menjawab pendek, ”Mana saya tahu. Orang dulu lahir kagak dicatet tanggalnye!”

Halaman Selanjutnya
Halaman:


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Libur Panjang, Tamu Hotel di Kabupaten Malang Mayoritas dari Surabaya

Libur Panjang, Tamu Hotel di Kabupaten Malang Mayoritas dari Surabaya

Whats Hot
Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Buka Meski Nepal Van Java Tutup

Pendakian Gunung Sumbing via Butuh Buka Meski Nepal Van Java Tutup

Whats Hot
Okupansi Hotel Bintang di Banyuwangi Diprediksi Naik Saat Libur Panjang

Okupansi Hotel Bintang di Banyuwangi Diprediksi Naik Saat Libur Panjang

Whats Hot
Libur Panjang, Ketua PHRI Malang Pastikan Tiap Hotel Punya Kamar Isolasi

Libur Panjang, Ketua PHRI Malang Pastikan Tiap Hotel Punya Kamar Isolasi

Whats Hot
Napak Tilas Sumpah Pemuda, Ada Museum W.R Soepratman di Surabaya

Napak Tilas Sumpah Pemuda, Ada Museum W.R Soepratman di Surabaya

Jalan Jalan
Libur Panjang, Hari Ini Tingkat Okupansi Hotel di Kabupaten Malang Capai 60-70 Persen

Libur Panjang, Hari Ini Tingkat Okupansi Hotel di Kabupaten Malang Capai 60-70 Persen

Whats Hot
Liburan ke Gunungkidul, Saatnya Berfoto di Kebun Bunga Amarilis

Liburan ke Gunungkidul, Saatnya Berfoto di Kebun Bunga Amarilis

Whats Hot
PHRI Bali: Okupansi Hotel Diharap Naik Selama Libur Panjang

PHRI Bali: Okupansi Hotel Diharap Naik Selama Libur Panjang

Whats Hot
Libur Panjang, Lama Inap Tamu di Hotel Bogor Rata-rata 2 Hari 1 Malam

Libur Panjang, Lama Inap Tamu di Hotel Bogor Rata-rata 2 Hari 1 Malam

Whats Hot
Mendaki Gunung Prau Jalur Patak Banteng? Kuotanya 1.200 Orang Per Hari

Mendaki Gunung Prau Jalur Patak Banteng? Kuotanya 1.200 Orang Per Hari

Travel Tips
Libur Panjang, Tidak Ada Pembatasan Kuota Pendakian Gunung Lawu

Libur Panjang, Tidak Ada Pembatasan Kuota Pendakian Gunung Lawu

Travel Tips
 Kuota Pendakian Gunung Semeru Sudah Penuh Sampai 31 Oktober 2020

Kuota Pendakian Gunung Semeru Sudah Penuh Sampai 31 Oktober 2020

Whats Hot
Libur Panjang, Kuota Pendakian Gunung Gede Pangrango Diprediksi Aman

Libur Panjang, Kuota Pendakian Gunung Gede Pangrango Diprediksi Aman

Whats Hot
Wisata Virtual, 3 Museum Napak Tilas Sumpah Pemuda di Jakarta

Wisata Virtual, 3 Museum Napak Tilas Sumpah Pemuda di Jakarta

Jalan Jalan
Cuti Bersama 2020, Pekan Ini Ada Libur Panjang 5 Hari

Cuti Bersama 2020, Pekan Ini Ada Libur Panjang 5 Hari

Whats Hot
komentar di artikel lainnya
Close Ads X