Gubernur: Sumsel Mestinya Jadi Tujuan Wisata Sejarah

Kompas.com - 04/04/2014, 13:20 WIB
Kawasan Benteng Kuto Besak di Palembang, Sumatera Selatan. KOMPAS/EDDY HASBYKawasan Benteng Kuto Besak di Palembang, Sumatera Selatan.
EditorI Made Asdhiana
PALEMBANG, KOMPAS.com - Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin mengatakan Provinsi Sumatera Selatan sebagai pusat Kerajaan Sriwijaya pada abad VII-XV semestinya berkembang pesat menjadi salah satu tujuan wisata sejarah religius.

"Sangat disayangkan daerah kita tidak memiliki para inovator untuk menjadikan sejarah masa lampau itu sebagai nilai tambah terhadap pembangunan pariwisata," kata Alex Noerdin kepada wartawan di Palembang, Kamis (3/4/2014).

Gubernur memberi contoh seputar kantor Wali Kota Palembang ditetapkan menjadi kawasan cagar budaya perlu ada inovasi yang dikembangkan untuk menjelaskan secara mendalam dan kontinyu kepada setiap wisatawan nusantara maupun mancanegara yang berkunjung.

Sebab pada masa penjajahan Belanda kantor Wali Kota Palembang itu menjadi sebuah menara air bersih. Bangunan berarsitektur Eropa dengan atap datar itu pada bagian bawah menara air dijadikan sebagai pusat Pemerintahan Kota Palembang.

Setelah kemerdekaan bangunan tersebut menjadi kantor Wali Kota Palembang sampai sekarang yang berlokasi tidak jauh dari bantaran Sungai Musi, Jembatan Ampera, dan Benteng "Kuto Besak".

KOMPAS/IRENE SARWINDANINGRUM Kompleks Kelenteng dan Pagoda Hok Cing Bio di Pulau Kemaro, Palembang, Sumatera Selatan, Jumat (24/1/2014), dilihat dari Sungai Musi. Pulau di tengah Sungai Musi ini menjadi tujuan ratusan ribu orang dari sejumlah daerah setiap perayaan Cap Go Meh atau bulan purnama pertama setelah Imlek.
"Itu salah satu contoh saja jika kita mau, sebab masih banyak lagi situs arkeologi peninggalan sejarah Kerajaan Sriwijaya di Palembang, seperti Taman Bukit Siguntang, dan sebagainya," ujarnya.

Menurut Alex, pengelolaan sebuah obyek yang bisa diangkat menjadi sumber ekonomi amat dibutuhkan para inovator tersebut, misalnya seorang Kepala Dinas Perdagangan harus memiliki entrepreneur atau "jiwa pedagang".

Hal yang sama untuk pengembangan sektor kepariwisataan juga dibutuhkan para inovator yang mampu menjual inovasi-inovasi dan kreativitas.

Kesempatan dan peluang itu harus ditangkap karena Sumatera Selatan hingga kini terus dilirik para investor asing, termasuk menjadi tuan rumah berbagai penyelenggaraan kegiatan internasional mulai dari kegiatan olahraga, hingga pertemuan bisnis, sosial, dan budaya.

KOMPAS/AGUS SUSANTO Jembatan Ampera berdiri megah di atas Sungai Musi di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (18/4/2013). Sejak zaman Kerajaan Sriwijaya hingga sekarang, sungai dengan panjang 750 km ini terkenal sebagai sarana transportasi utama bagi masyarakat sekitar.
Menyinggung soal pusat Kerajaan Sriwijaya yang diklaim berada di Jambi, Alex mengatakan, sejarah telah membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya berada di Sumsel pada masa abad VII Masehi, sedangkan di Jambi sejak abad X, dengan pembuktian Candi Muaro Jambi di Kabupaten Muarojambi.

"Biarkan sajalah klaim itu, karena sejarah telah membuktikan bahwa Kerajaan Sriwijaya itu berpusat di Sumsel pada abad VII Masehi, dan pemerintah pusat juga telah mengeluarkan keputusan soal itu. Tapi perlu juga diketahui Jambi itu dulunya merupakan bagian dari wilayah Sumatera Selatan," katanya.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Sumber Antara
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X