Kompas.com - 07/04/2014, 10:39 WIB
EditorNi Luh Made Pertiwi F

Pada sisi lain jumlah penduduk Bali bertambah terus kini mencapai empat juta jiwa lebih yang memerlukan adanya persediaan air minum bersih, yang volumenya bertambah terus sejalan laju pertumbuan penduduk.

Oleh sebab itu perlu adanya usaha-usaha selain melakukan pengerukan danau yang sudah dangkal, juga penanaman penghijauan termasuk tanaman hutan bambu di daerah pegunungan, karena tanaman bambu banyak menyimpan air.

Trunyan

Putu Astawa mengingatkan, khusus luapan air Danau Batur, terutama pada musim hujan yang berlangsung cukup lama perlu segera penanganan secara tuntas, agar tidak mengganggu dunia perpelancongan ke Desa Trunyan yang ada di balik Danau Batur.

Wisatawan dalam dan luar negeri sangat tertarik untuk bisa berkunjung ke Desa kuno tersebut melalui penyeberangan dari Desa Kedisan ke Trunyan, menggunakan perahu atau boat, untuk bisa menyaksikan adat istiadat masyarakat setempat.

Hal yang lebih menarik lagi, turis bisa menyaksikan mayat penduduk setempat yang ditaruh begitu saja di atas tanah tanpa dikubur, di bawah pohon kayu menyan yang besar, tetapi tidak mengeluarkan bau seperti mayat manusia umumnya.

Untuk tidak menganggu dunia perpelancongan ke Desa Trunyan, di kawasan Kintamani tersebut, maka perlu segera dilakukan pengerukan atas pendangkalan Danau Batur, sehingga mampu juga meringankan beban masyarakat dan petani setempat.

Sesuai catatan Dinas pariwisata setempat jumlah kunjungan turis mancanegara ke Desa Trunyan sejak terjadinya bencana alam tanah longsor yang mengakibatkan pendangkalan tersebut berkurang dari 1.600 orang selama bulan Januari 2014 menjadi hanya 1.196 orang pada Februari 2014.

Desa Trunyan, salah satu desa tua di Bali mewarisi adat dan tradisi leluhur diwarnai corak kehidupan yang khas dan memiliki segudang keunikan. Keunikan tersebut antara lain sistem penguburan mayat, dengan cara meletakkan jenazah begitu saja di areal pekuburan yang berlokasi di tepi tebing danau Batur, jaraknya cukup jauh dari pemukiman masyarakat setempat.

Sistem penguburan yang diterapkan masyarakat Trunyan secara turun temurun itu, berbeda dengan cara penguburan umat Hindu lainnya di Bali dalam menangani proses upacara kematian.

Jenazah tidak dikebumikan tetapi diletakkan begitu saja di atas tanah di areal kuburan dengan dikelilingi atau dibatasi "ancak saji" (pagar bambu). Anehnya jenazah itu tidak menimbulkan bau amis.

Masyarakat setempat percaya jenazah yang tidak berbau amis itu karena berada di bawah pohon kemenyan, sebuah pohon besar yang mengeluarkan bau harum mampu menetralkan bau yang kurang sedap itu. (I Ketut Sutika)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Sumber Antara
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Candi Plaosan, Saksi Cinta Beda Agama di Desa Wisata Bugisan Jateng

Candi Plaosan, Saksi Cinta Beda Agama di Desa Wisata Bugisan Jateng

Jalan Jalan
Mahalnya Tiket Pesawat Pengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Lombok Tengah

Mahalnya Tiket Pesawat Pengaruhi Kunjungan Wisatawan ke Lombok Tengah

Travel Update
Piala Dunia 2026 Digelar di 3 Negara dan 16 Kota, Simak Stadionnya

Piala Dunia 2026 Digelar di 3 Negara dan 16 Kota, Simak Stadionnya

Jalan Jalan
Kapan Waktu Menyampaikan Ucapan Idul Adha? Jangan Sampai Telat

Kapan Waktu Menyampaikan Ucapan Idul Adha? Jangan Sampai Telat

Travel Tips
Mengenal Rumah Paling Terpencil di Dunia di Islandia

Mengenal Rumah Paling Terpencil di Dunia di Islandia

Jalan Jalan
Jangan Bawa Barang Saat Evakuasi Darurat dari Pesawat, Ini Alasannya

Jangan Bawa Barang Saat Evakuasi Darurat dari Pesawat, Ini Alasannya

Travel Tips
Kenapa Idul Adha Disebut Lebaran Haji? Simak Penjelasannya 

Kenapa Idul Adha Disebut Lebaran Haji? Simak Penjelasannya 

Jalan Jalan
147 Desa di Sikka NTT Diimbau Prioritaskan Sektor Pariwisata

147 Desa di Sikka NTT Diimbau Prioritaskan Sektor Pariwisata

Travel Update
10 Wisata Alam Subang, Bisa Dikunjungi Saat Hari Libur

10 Wisata Alam Subang, Bisa Dikunjungi Saat Hari Libur

Jalan Jalan
Wacana Biaya Kontribusi Konservasi TN Komodo Rp 3,75 Juta, Ketahui 10 Hal Ini

Wacana Biaya Kontribusi Konservasi TN Komodo Rp 3,75 Juta, Ketahui 10 Hal Ini

Travel Update
Disneyland Shanghai Buka Lagi Setelah Tutup Sejak 21 Marer 2022

Disneyland Shanghai Buka Lagi Setelah Tutup Sejak 21 Marer 2022

Travel Update
6 Tradisi Idul Adha di Arab Saudi, Bagi Daging Kurban Lintas Negara

6 Tradisi Idul Adha di Arab Saudi, Bagi Daging Kurban Lintas Negara

Jalan Jalan
Pasca-Kecelakaan Kapal Wisata di Labuan Bajo, Nakhoda Diminta Lebih Profesional

Pasca-Kecelakaan Kapal Wisata di Labuan Bajo, Nakhoda Diminta Lebih Profesional

Travel Update
Info Shalat Idul Adha 2022 di Masjid Istiqlal, Jam Mulai sampai Tips

Info Shalat Idul Adha 2022 di Masjid Istiqlal, Jam Mulai sampai Tips

Travel Update
Tari Ja'i Meriahkan Turnamen Sepak Bola HUT ke-76 Bhayangkara di Manggarai Timur

Tari Ja'i Meriahkan Turnamen Sepak Bola HUT ke-76 Bhayangkara di Manggarai Timur

Travel Update
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.