Kompas.com - 09/04/2014, 15:25 WIB
EditorI Made Asdhiana
LAUT menjadi bagian hidup Mira Waria (55) sejak belia. Kini, di usia yang tak lagi muda, perempuan yang telah bercucu itu masih rajin menyelam setiap ada buka sasi di desanya. Ingatannya merekam perubahan pesisir yang selama ini menjadi ladang penghidupannya.

Sore itu, akhir Februari lalu, Mira bersama Rosita Amerbae (29) dan Fatma Nusran (25) sedang memasak di tenda sementara di sebuah teluk kecil di Desa Kayu Merah, Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Sekelompok anak meramaikan pantai berpasir putih di sekeliling tenda itu dengan permainan mereka. Di gubuk sebelah tenda, kaum pria tengah tenggelam dalam perbincangan.

Memasak bersama adalah rutinitas para mace (sapaan untuk kaum perempuan) seusai menyelam. Dari pagi hingga tengah hari, mereka bersama suami menyelam untuk mengumpulkan teripang dan beragam kerang, seperti lola dan batulaga.

Kehidupan warga pulau kecil di Kaimana terbentuk oleh lingkungannya yang dikelilingi laut. Tidak hanya kaum pria, kaum perempuan pun mahir menyelam tanpa mengenakan alat bantu. Mace-mace itu hanya mengenakan pakaian harian untuk menyelam hingga kedalaman 10 meter. Anak-anak mereka pun, yang baru berusia belasan tahun, turut membantu.

Mira menuturkan, sudah dua pekan rombongan empat keluarga itu meninggalkan rumah mereka di Desa Kayu Merah untuk mengikuti buka sasi di teluk itu. ”Mungkin beberapa hari lagi kami pulang karena sudah lama di sini,” ujar dia.

Dua tenda besar dari terpal biru didirikan di pantai. Di tengah tenda terlihat tungku kayu dengan kuali di atasnya. Di sanalah mereka ramai-ramai tidur dan memasak selama mengikuti buka sasi.

Setiap pagi, saat gelombang surut dan pantai menjadi dangkal, mereka memulai aktivitas menyelam. Sekali menyelam, mereka mampu menahan napas sekitar tiga menit. Arus kuat Laut Arafuru kerap menjadi tantangan menyelam di kawasan itu. Setiap napas habis, mereka naik ke atas untuk menghirup udara dan menyelam lagi. Aktivitas yang membutuhkan stamina tinggi itu dilakukan sekitar tiga jam dalam sehari. Menjelang tengah hari, gelombang kembali pasang sehingga tidak memungkinkan menyelam lagi.

Fatma mengatakan, kali pertama ia menyelam untuk mencari teripang dan lola adalah saat berusia 11 tahun. ”Tidak ada yang memberi pelajaran menyelam. Saya hanya ikut orangtua,” kata Fatma. Ibu dan neneknya pun mahir menyelam.

Selain memanen hasil laut, selama di teluk itu mereka juga berkebun serta memanen pisang dan kelapa yang banyak terdapat di sekitar teluk dan pulau kecil di sekitarnya. Kelapa langsung dijemur untuk dijadikan kopra. Dengan segala upaya, mereka berusaha memanfaatkan buka sasi ini sebaik-baiknya. Masa ini ibarat panen di tengah masa paceklik karena ikan sulit diperoleh.

Buka sasi merupakan bagian dari kearifan lokal pesisir Papua Barat. Sasi nggama atau larangan memanen sejumlah hasil laut sebagai upaya melindungi dari kepunahan. Biota laut yang dilindungi dalam sasi nggama merupakan hasil laut yang harganya tinggi, yaitu teripang, lola, dan batulaga.

Halaman Selanjutnya
Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.