Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 14/04/2014, 08:06 WIB
EditorI Made Asdhiana
YOGYA memang bukan kota kopi, tetapi Yogya bisa dikatakan menjadi lokasi berkumpulnya para pencinta kopi. Mereka berasal dari daerah penghasil kopi, seperti Jambi, Lampung, Aceh, Bali, Flores, hingga Toraja.

Yogya sendiri juga memiliki produk kopi meski tidak banyak. Salah satunya adalah Kopi Merapi, yang ditanam di sekitar lereng Gunung Merapi dengan sistem organik. Kopi inilah yang diseduh dan disajikan di kedai Kopi Merapi, 7 kilometer dari puncak Merapi, tepatnya di Dusun Petung, Desa Kepuharjo, Kecamatan Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Para mahasiswa dari sejumlah daerah penghasil kopi datang ke Yogya dengan membawa kopi untuk diseduh bersama kawan kos. Dari sinilah terbentuk kultur ngopi.

Kisah Cak Badrun, pemilik kedai kopi Blandongan, menjadi contoh menarik. Badrun yang berasal dari Gresik ini sewaktu mahasiswa kerap membawa kopi dari Kediri dan Malang, lalu ia bagikan kepada teman- temannya. Ternyata banyak yang suka, dan ia pun lantas berpikir untuk membuat kedai kopi. Lahirlah Blandongan pada 2000.

”Waktu itu belum ada kedai kopi yang benar-benar menawarkan kopi bukan instan. Saya ambil biji kopinya dari sortiran pabrik kopi di Jombang. Khusus robusta. Jadi saya meracik sendiri kopinya,” kata Badrun.

Setelah 1 dasawarsa, Blandongan tetap bertahan, bahkan makin banyak pengikutnya. Sejumlah kafe menjual kopi sebagai menu utama, sedangkan menu lain hanyalah komplementer. ”Saat ini sudah bisa dibilang minum kopi makin mengultur. Mulai banyak orang suka minum kopi asli, meninggalkan kopi kemasan three in one,” ujar Badrun.

Tanpa gula

Kultur minum kopi yang dibangun oleh Blandongan disambut baik oleh para pemilik kafe dan kedai kopi. Yang paling fanatik adalah Klinik Kopi yang berlokasi di sebuah gang di Jalan Gejayan. Kedai milik Pepeng ini bahkan disebut oleh sejumlah pengunjung sebagai kedai edukasi ngopi.

KOMPAS/SUSI IVVATY Pepeng, pemilik Klinik Kopi, melayani sendiri semua pelanggannya. Ia juga memberikan edukasi mengenai segala hal tentang kopi, dengan menunjukkan catatan di komputer tabletnya.
Pepeng tidak hanya menyajikan kopi, tetapi juga menunjukkan proses roasting biji kopi, menggilingnya, hingga menyajikannya. Dapurnya terbuka, bahkan lebih terbuka dari Starbuck. Ia tidak ragu membuka komputer tabletnya dan menjelaskan kepada tamu-tamunya cara menyajikan kopi yang baik. Ia juga menunjukkan rekaman video saat travelling untuk membeli biji kopi ke sejumlah daerah penghasil kopi.

Pepeng tidak menyediakan gula di kedainya, tapi pengunjung dibolehkan membawa gula sendiri. ”Ngopi dengan gula bagi saya sama dengan mengkhianati kopi, he-he-he. Rasa kopinya menjadi hilang. Saya memang ingin mengajak orang untuk ngopi dengan benar sekaligus mencintai produk Indonesia yang luar biasa ini,” ujarnya.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+