Kompas.com - 20/04/2014, 16:48 WIB
EditorI Made Asdhiana
SUGIARTO Danang (52), warga Sleman, DI Yogyakarta, memesan kamar hotel Kartika di Larantuka sejak Februari 2014 untuk menghadiri perayaan prosesi Jumat Agung atau Semana Santa, tujuh hari suci. Kehadiran 20.000 peziarah di kota kecil itu membuat 17 hotel di kota itu dengan 752 kamar penuh sesak.

Sugiarto khawatir tidak kebagian kamar hotel. Pemilik warung makan Cita Rasa, Sleman, ini mengaku sudah tiga kali mengikuti prosesi Jumat Agung di Larantuka. Tahun 2010, ia tak kebagian kamar hotel sehingga menginap di rumah warga.

”Menginap di rumah penduduk pun baik, tetapi kita tidak leluasa. Kehadiran kita di Larantuka untuk kegiatan rohani. Jangan sampai pikiran dan perasaan kita terganggu. Memang orangnya baik-baik. Hanya, mereka juga banyak anggota keluarga yang datang dari mana-mana sehingga rumah itu terlalu banyak tamu,” kata Sugiarto, di Larantuka, Kamis (18/4/2014).

Karena itu, sejak tahun 2011, 2013, dan 2014 ia memesan kamar hotel jauh-jauh hari. Ia juga membayar uang muka sebagai tanda jadi. Kali ini, dia datang bersama tujuh anggota keluarga.

Hotel dan penginapan di Larantuka pun mendadak menaikkan tarif dari Rp 75.000-Rp 100.000 per malam menjadi Rp 300.000-Rp 500.000 per malam. Fasilitas kamar hotel itu hanya tempat tidur dan kamar mandi, tidak ada televisi dan AC.

Dalam acara seperti ini, biasanya minimal 20.000 peziarah datang ke Larantuka. Setiap orang bisa mengeluarkan biaya sekitar Rp 200.000 per hari, tidak termasuk biaya penginapan dan sewa kendaraan (mobil) bepergian ke sejumlah tempat.

Namun, peluang ini belum dimanfaatkan pemda dan pelaku usaha di Flores Timur. Dalam empat kali kunjungannya ke Larantuka, Sugiarto belum melihat perubahan, terutama wisata kuliner dan cendera mata. Para peziarah kesulitan mencari makanan, buah-buahan, dan kudapan di kota itu. Hanya ada warung makan yang hadir sejak puluhan tahun di depan pelabuhan.

”Sulit mencari makanan segar, seperti bakso, warung ikan bakar, dan minuman ringan. Ada makanan khas daerah ini, yakni jagung titi, tetapi harus disuguhkan di warung kopi,” katanya.

Selama berada di Larantuka, peziarah ingin mengunjungi pusat-pusat peninggalan Portugal di Wure (Pulau Adonara) berupa gereja tua dan benda-benda rohani lain serta Lohayong (Pulau Solor), yakni benteng Portugis, tetapi tidak ada bus laut khusus. Para tamu mencari kendaraan laut sendiri untuk menjangkau pulau-pulau itu. Dua pulau ini masing-masing berjarak sekitar 8 kilometer dan 16 kilometer dari Larantuka.

Kepala Dinas Pariwisata dan Budaya Flores Timur, Ande Kedang mengakui, jumlah wisatawan religius setiap tahun cenderung meningkat. Tahun 2010 hanya sekitar 10.000 orang, tahun 2013 sudah mencapai 20.000 peziarah. Tahun ini masih sekitar 20.000 orang.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.