Kunstkring Jadikan Menteng Lebih Bermakna

Kompas.com - 21/04/2014, 12:34 WIB
Tugu Rijsttafel Betawi di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat. Sebanyak 10 dari 12 hidangan disuguhkan dalam tempat khusus yang dipikul oleh dua pramusaji sebelum diletakkan di dekat meja tamu pemesan rijsttafel. Dua menu lain, yaitu es selendang mayang dan nasi uduk, dibawa terpisah oleh pramusaji lain. KOMPAS/PRIYOMBODOTugu Rijsttafel Betawi di Tugu Kunstkring Paleis, Jakarta Pusat. Sebanyak 10 dari 12 hidangan disuguhkan dalam tempat khusus yang dipikul oleh dua pramusaji sebelum diletakkan di dekat meja tamu pemesan rijsttafel. Dua menu lain, yaitu es selendang mayang dan nasi uduk, dibawa terpisah oleh pramusaji lain.
EditorI Made Asdhiana

”Ini semua pemberian langsung dari yang bersangkutan kepada keluarga Oei Tiong Ham. Kami punya peninggalan Soekarno yang khusus kami sajikan di Ruang Soekarno. Untuk menghormati Multatuli dan belajar darinya, ada juga ruang khusus dengan namanya,” kata Anhar.

Bagi Anhar, menjadikan Kunstkring seperti dulu butuh perjuangan ekstra. Ia punya pandangan bahwa siapa pun, terlebih masyarakat sebuah bangsa, butuh menengok ke belakang, ke masa lalunya. Banyak hal bisa dipelajari dari setiap benda bernilai seni dan sejarah.

Di Kunstkring, benda seni dijamin memiliki nilai tambah. ”Bukan sekadar cantik, tetapi ia pernah dimiliki atau minimal dipegang oleh orang penting. Apa yang ada di sini termasuk benda yang jarang ditemukan di tempat lain,” tambah Anhar.

Namun, demi kemajuan seni budaya di Jakarta, Kunstkring yang berada tepat di jantung kawasan cagar budaya Menteng membuka diri bagi siapa saja yang ingin memamerkan karya seninya. Sebuah aula besar di lantai dua jadi ruang khusus ekshibisi. Anhar berharap, romantisisme masa silam saat karya seni dihargai setinggi-tingginya di kota ini akan terulang.

Relaksasi semua indera

Salah satu pintu di lantai dua mengantar tamu masuk ke ruang kecil berisi meja bundar dengan empat kursi. Rasa takjub tiba-tiba menjalar melihat ruang itu tepat di bawah kubah tinggi dengan susunan bata dan balok kayu yang masih kokoh.

Dari ruang berkubah, suasana yang begitu berbeda dirasakan saat berada di The Balcony of Menteng. Sebuah balkon dengan ubin asli berusia satu abad.

Biarkan mata, kulit, telinga, hingga hidung mendapatkan kemewahan. Udara segar dan bersih menyapa dari hamparan rumput hijau tebal. Tajuk pohon-pohon tinggi menjadi tirai alami yang membatasi diri dari keriuhan jalan aspal di seberang sana.

Saat hendak bersantap, kejutan sepertinya enggan berakhir. Ruangan hening dan temaram, lagu ”Jali-jali” tiba-tiba mengentak mengiringi 12 pramusaji menari mengelilingi tamu. Mereka membawa serta aneka hidangan. Seusai beratraksi, satu per satu minuman, penganan, hingga makanan inti disajikan. Inilah rasanya menjadi tuan dan nyonya yang dilayani sepenuh hati.

”Ini adalah Tugu Grand Rijsttafel Betawi. Ada pilihan 12, 16, dan 24 menu. Sajian ini khas Kunstkring,” kata Annette Anhar, putri bungsu Anhar.

Duh, jadi susah berhenti mengudap penganan enak dalam potongan kecil seperti kue tok dan onde-onde. Kuah dan isi es selendang mayang nendang sekali di mulut. Belum lagi nasi uduk yang dibungkus daun pisang, semur lidah, dan sate lembut berupa olahan daging sapi cincang yang direkatkan pada bilah-bilah tebu. Alamak lezatnya. (Neli Triana)

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X