Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 22/04/2014, 09:25 WIB
Penulis Ary Wibowo
|
EditorI Made Asdhiana
MENGUNJUNGI museum pada siang hari sudah menjadi aktivitas biasa. Akan tetapi, berkunjung ke museum pada malam hari mungkin akan menjadi pengalaman berbeda bagi Anda yang gemar akan wisata sejarah.

Adalah museum Negeri Terengganu yang mengadakan acara Night at the Museum untuk para peserta Festival Terengganu International Squid Jigging 2014. Sensasi berada di museum pun terasa semakin berbeda dan seru karena sejumlah dihadirkan pula beberapa tarian serta makanan tradisional.

Museum Negeri Terengganu adalah salah satu museum terbesar di Asia Tenggara. Memiliki luas total 27 hektar, museum itu dibagi dalam empat bagian yaitu museum utama, museum maritim, 5 buah rumah tradisional Terengganu serta kawasan bersantai.

Pada museum utama, Anda akan bisa melihat koleksi sejarah yang dibagi dalam beberapa galeri, yaitu galeri sejarah, kerajaan, kebudayaan, penyebaran agama Islam, dan kerajinan tangan. Sementara itu, pada museum maritim terdapat dua galeri yaitu perikanan serta pelayaran dan perdagangan.

Proyek pembangunan museum ini memakan waktu selama 14 tahun. Bermula pada 1982 lalu mulai dibuka kepada umum pada 20 April 1996 oleh Sultan Negeri Terengganu, Mahmud Al-Muktafi Billah Shah.

"Yang menarik, untuk koleksi-koleksi museum ini sudah kita kumpulkan sebelum pembangunan museum dilakukan. Kira-kira sekitar 1950-an kita sudah mengumpulkan satu persatu koleksi bersejarah di negeri ini," ungkap salah satu pemandu museum, Che Muhamad Azmi Bin Ngah saat berbincang dengan Kompas.com di sela-sela acara.

Prasasti Terengganu

Salah satu koleksi sejarah yang dipamerkan di museum ini adalah prasasti Terengganu atau biasa disebut dalam bahasa Melayu sebagai Batu Bersurat. Prasasti tersebut ditenggarai merupakan prasasti tertua yang ditulis dalam huruf jawi (Arab Melayu).

Abdul Rashid Melebek dan Amat Juhari Moain dalam karyanya berjudul Sejarah Bahasa Melayu menyebutkan bahwa Prasasti Terangganu bertarikh 702 Hijrah (1303). Tulisan pada prasasti itu berkaitan dengan penyebaran agama dan Undang-Undang ajaran Islam. Dengan begitu, diperkirakan Islam masuk ke Terengganu pada periode sekitar 1326 atau 1386.

Menurut catatan sejarah lainnya, prasasti itu ditemukan di tepi Sungai Tara, Kampung Buloh, Kuala Berang, Hulu Terengganu, pada 1887 oleh Saiyed Husin bin Ghulam Al-Bukhari. Prasasti itu disebut awalnya dijadikan alas membasuh kaki sebelum memasuki sebuah masjid di Kampung Buloh.

KOMPAS.com / Ary Wibowo Hikayat Hang Tuah yang menjadi salah satu koleksi Museum Negeri Terengganu di Terengganu, Malaysia.
Sadar bahwa alas basuh kaki itu adalah benda bersejarah, Saiyed Husin kemudian memindahkan prasasti tersebut ke Kuala Terengganu untuk dipersembahkan kepada Sultan Zainan Abidin III. Prasasti kemudian diletakan di atas bukit Puteri dan sempat dititipkan ke Singapura pada 1923 sembari menunggu proses pembangunan museum nasional di Kuala Lumpur rampung.

Pada 12 Februari 1987, Kerajaan Negeri Terengganu mengirimkan surat kepada pemerintah pusat Malaysia di Kuala Lumpur untuk memulangkan prasasti itu ke Terengganu. Empat tahun berselang keinginan itu pun akhirnya dikabulkan dan prasasti kini menjadi salah satu koleksi utama museum negeri Terengganu.

"Sekarang prasasti yang berada di Kuala Lumpur itu berbentuk replika dan aslinya berada di sini (Museum Negeri Terengganu). Koleksi ini semua kita kumpulkan untuk memberi pengetahuan bagi masyarakat ataupun turis-turis luar negeri tentang sejarah Terengganu," terang Muhamad Azmi.

Meski menggelar acara pada malam hari, museum Negeri Terengganu sebenarnya beroperasi normal pada hari biasa. Museum itu dibuka pada pukul 09.00 hingga 17.00 waktu setempat, kecuali pada jumat (pukul 9.00 hingga 12.00 dan kemudian dibuka kembali pada pukul 15.00 hingga 17.00 waktu setempat.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+