Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 24/04/2014, 12:20 WIB
EditorI Made Asdhiana

Tapi yang menarik perhatian saya adalah di tengah jalan besar ini, pasar lah yang mendominasi. Namun di kedua sisinya berjejeran restoran yang menawarkan masakan.

Sebenarnya saya dan suami sangat tertarik menikmati makan siang di hari itu apalagi waktu sudah menunjukkan pukul 13.00. Namun padatnya teras dengan pengunjung restoran dan terlebih saat pelayan mulai menghampiri kami dengan menu restoran mereka, maka sedikit demi sedikit ketertarikan itu mengecil.

Kami merasa seperti turis yang sedang dijebak untuk makan di tempat mereka. Kenyamanan dalam memilih restoran akhirnya tak tersisa. Sayang memang. Akibat sifat aneh kami berdua, rencana mencicipi masakan di Cours Seleya yang terkenal itu jadi batal.

Dengan tetap semangat, kami meneruskan berjalan kaki, kembali menyusuri jalan kecil di Kota Tua Nice, sambil berharap semoga menemukan tempat nyaman untuk mengisi perut. Sekali lagi, berada dalam jalanan sempit, diapit dengan bangunan tua berwarna warni seolah mereka saling berangkulan karena saking rapatnya.

Cahaya matahari yang masuk di antara bangunan, membuat dinding warna kuning dan oranye semakin jelita. Jalan setapak yang turun naik, jika tak ada petunjuk memang bisa membuat kami berdua tersasar. Untungnya petunjuk jalan sangat jelas.

Tak sengaja kami melewati sebuah restoran kecil dengan tembok merah. Sebuah restoran berdekorasi apik. Menu dan harga makanan dipasang di luar. Rupanya masakan tradisional Nice yang menjadi menu utama di hari itu. Sebuah restoran yang hanya menyajikan hidangan dari apa yang ditemukan oleh chef kulinernya, di pasar setiap harinya.

La Daube Niçoise, daging sapi yang dimasak selama berjam-jam dengan sayuran seperti wortel, dan terdapat buah zaitun nice di dalamnya. Disajikan dengan polenta, yaitu tepung dari jagung, dimasak dan dimakan layaknya mashed potatoes. Perpaduan yang cocok sekali. Daging yang telah begitu lama dimasak dalam api kecil sehingga lumat di mulut tanpa harus mengunyah dengan saus yang memenuhi polenta, sangat lezat siang itu kami nikmati berdua! Tak menyesal tadi telah menolak mampir ke restoran di tempat yang jadi buah bibir.

Sebagai makanan penutup kami berdua memilih creme brûlée aux framboise (raspberry), yaitu dessert khas Perancis, dari telur, susu, vanila, di bakar dalam oven setelah itu atasnya ditabur gula dan dibakar dengan api langsung sehingga gula yang ditaburkan menjadi cokelat karena terbakar. Sekali lagi, kami tak berhenti mengeluarkan kata  ‘Hemmmm trop bon!! c’est delicieux!’ (enak sekali, lezat!!).

Saat menikmati kopi hitam setelah kedua makanan membuat perut kami kenyang, beberapa klien restoran kami lihat mendatangi juru masak, yang memang menyediakan masakan bisa terlihat oleh kami.

Pujian ‘felicitation, c’était très bon! on se regale’! (selamat ya makanan tadi sangat lezat kami sangat menikmati), ‘Bravo madame pour votre cuisine raffinée, on reviendra!’ (Bravo madame untuk masakan anda, kami akan kembali).

Rupanya tidak hanya kami saja yang merasa masakan yang kami nikmati sangatlah lezat untuk ukuran restoran kecil dengan harga tak lebih dari 15 euros untuk makanan utama dan penutup rasanya. Memang pantaslah restoran ini dijadikan rekomendasi.

DINI KUSMANA MASSABUAU Pasar Saleya di Nice.
Jalan-jalan menikmati Kota Tua Nice sebenarnya masih banyak yang harus kami datangi, tapi perjalanan dari Montpellier menuju ke sini dan kami tak sempat istirahat, membuat kami sedikit mengantuk. Apalagi, liburan kali ini adalah itung-itung bulan madu.

Kami pun memilih berjalan santai sambil menurunkan lemak makanan, ke mana lagi kalau bukan mencoba menapaki jalanan yang menjadi ikon Nice, promenade des Anglais! Anak kecil setengah melompat kegirangan dengan orang tua mereka, para remaja dengan skate board atau sepeda, wanita dan pria dengan anjing piaraan, namun cara mereka memperlakukan layaknya kepada buah hati, mencoba membagi kebersamaan, juga mereka yang kasmaran, menjadi dekorasi sepanjang trotoar ini.

Masih ada dua hari untuk menjelajahi sekitar Nice dan juga beberapa bangunan bersejarahnya. Namun saat itu kami memilih menunggu matahari menghilang seolah tenggelam tertelan dalam lautan... (DINI KUSMANA MASSABUAU) (Bersambung)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+