Kompas.com - 05/05/2014, 18:11 WIB
EditorI Made Asdhiana

”Ayah membawakan tari Tantulo sebagai kekhasan suku Dayak Siang. Tari itu menyimbolkan ucapan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan ditarikan dengan jari telunjuk mengarah ke atas,” ujar suami Susie Sriwahyuni ini.

Sembari melihat dan mengamati ayahnya menari, Benny rajin berlatih di sejumlah sanggar pada kurun tahun 1999-2011.

”Saat SMA, saya suka tarian modern atau tari kreasi. Atas nasihat seniman Thoeseng TT Asang dari Sanggar Antang Batuah, saya mendalami seni dan budaya Dayak,” cerita Benny yang menjadi juri pada Pemilihan Duta Anti Narkoba dan Duta Tambun Bungai Kota Palangkaraya, Juli 2011.

Mengutip nasihat Thoeseng waktu itu, kata Benny, ”Tari kreasi sudah banyak ditarikan orang. Jika kita ingin tampil dan dipakai, belajarlah seni yang menjadi identitas budaya setempat. Ini unik dan banyak orang ingin tahu.”

Kemampuannya menari kreasi justru menjadi modal dia belajar seni Dayak. ”Saya masih tetap bisa menari kreasi sambil memperkenalkan dan melestarikan tarian Dayak,” ujar Benny yang menjadi penata tari pada produksi Sendratari Raja Terang Dunia yang Dimeteraikan, Desember 2010.

Dia bersyukur atas pendampingan para seniman di Palangkaraya, seperti Jhonly Pryadi, Thoeseng, Chendana Putra, S Sua, dan Jimmy O Andin. Melalui pendampingan mereka, Benny bisa memiliki keahlian menggarap tari untuk pertunjukan serta tampil di Bali, Jakarta, dan luar negeri.

Pada April 2006, misalnya, dia tampil di Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta. Bulan Juli 2006, dia mengikuti Festival Tari Universiti-Universiti Borneo di Sarawak, Malaysia. Pada Maret 2011, Benny bersama tujuh penari lain meraih juara kedua dalam Carnaval International de Victoria di Republik Seychelles.

Komunitas

Tari garapan yang dibuat Benny antara lain tari Hatangku Hakangkalu, tari Mandehen Kapakat, dan tari Kahanjak Atei. Tari Hatangku Hakangkalu berkisah tentang semangat kebersamaan masyarakat adat Dayak di Kalteng dengan mengangkat simbol-simbol aktivitas kehidupan masyarakat.

”Tari Mandehen Kapakat menyimbolkan nilai heroik, keyakinan teguh, dan kepribadian yang kuat. Sementara tari Kahanjak Atei menyimbolkan sukacita dan ungkapan syukur kepada Tuhan,” kata Benny, yang antara lain pernah mengikuti workshop Penataan Tari Tradisi dan Musik Tradisi dari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Kesenian Jakarta di Palangkaraya, April 2010.

Selain itu, dia juga membuat komunitas musik daerah dan komunitas kerajinan tangan atau hasta karya dari kulit pohon nyamu. Kerajinan tangan itu berupa miniatur simbol-simbol kegiatan sehari-hari masyarakat Dayak, seperti berladang, mendulang emas, replika pohon batang garing (kehidupan), dan rumah betang. Kerajinan itu dijual dengan harga Rp 50.000-Rp 75.000 per unit.

Dia berharap, dengan kerja sama semua pihak, seni budaya suku Dayak tetap lestari. Harapan itu senada dengan moto Benny dalam berkarya, yakni mamangun betang karuhei tatau menggetu bunu panjang yang artinya bersatu, berpadu, dan bersama menghadapi tantangan untuk membangun kehidupan. (Megandika Wicaksono)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.