Kompas.com - 06/05/2014, 10:54 WIB
Suvenir berbahan timah yang dijual di galeri kerajinan tangan di Muntok. KOMPAS/WISNU WIDIANTOROSuvenir berbahan timah yang dijual di galeri kerajinan tangan di Muntok.
EditorI Made Asdhiana

Kini, gedung residen itu menjadi rumah dinas Bupati Bangka Barat. Taman-taman yang memagari kluster itu pun masih bisa ditemukan tapak jejaknya di Kota Muntok hari ini meski tak lagi seindah dulu.

Museum ini juga menunjukkan betapa timah membuat nama Muntok dan Bangka mendunia sekaligus menjadikan pulau ini incaran imperialis Barat. Thomas Stamford Raffles (Inggris) sempat bersikukuh tak akan melepas Bangka ke tangan Belanda pasca Traktat London pada 1814. Pasca kemerdekaan RI, timah tetap menjadi tulang punggung pembangunan di Bangka.

Kini, masyarakat di Pulau Bangka, termasuk Muntok, tak bisa lagi menyandarkan penghidupan dari pertambangan timah. Meski begitu, gerai-gerai kerajinan timah yang mengolah biji timah jadi beragam cendera mata apik patut disinggahi.

Seribu kue

Bagian lain dari Museum Timah Muntok yang merebut perhatian adalah segmen yang memaparkan sejarah pengasingan Presiden RI Soekarno bersama Mohammad Hatta, Haji Agus Salim, dan Mohammad Roem di Muntok pada 1949. Perjuangan para pemimpin bangsa ini tak mandek selama mereka terkekang dalam pengasingan. Soekarno bukan sekadar membahas urusan politik bersama sesama pemimpin, ia pun bergaul di tengah masyarakat Muntok. Ekspresi hangat sang Presiden di tengah keriuhan rakyat itu terekam baik di museum ini.

”Zaman pengasingan di Muntok itu, kue kegemaran Bung Karno adalah pelite. Ibu saya termasuk yang kerap memasakkan kue itu buat Bung Karno,” tutur Chairul Amri Rani. Kue pelite ini diolah dari sagu bersantan berwadah ”mangkuk” daun pisang.

KOMPAS/WISNU WIDIANTORO Aneka kue yang dijajakan pedagang di Muntok. Muntok juga terkenal dengan sebutan ”kota seribu kue”.
Muntok memang kerap disebut ”kota seribu kue”. Tak akan afdal berkunjung ke Muntok tanpa menikmati jajanan kue-kuenya. Di seberang Masjid Jami’ dan Kelenteng Kong Fuk Miau, sebuah gerai kue khas Muntok yang dipadati aneka jajanan sungguh mengundang selera.

Selain pelite, ada juga iyet-iyet, berbahan tepung ketan, gula merah, dan kelapa; tompe ambor, semacam kue dadar sagu; hingga kue brut yang dimasak dengan tepung beras. Menyeruput secangkir kopi hitam ditemani cita rasa manis dan gurih dari kue-kue itu menjadi cara paling pas untuk melewatkan sore di Muntok sebelum senja turun dan kemeriahan kota ini berangsur hilang dalam sepi. (Nur Hidayati & Aryo Wisanggeni)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.