Kompas.com - 06/05/2014, 14:51 WIB
EditorI Made Asdhiana

Saya tidak bisa melewatkan kesempatkan ini, hampir setiap bunga dalam pot kuning tembaga yang berwarna warni, jadi bahan jepretan saya. Belum lagi ditambah, kadang beberapa kucing, di depan jendela yang hanya sebaris, rasanya hanya cukup untuk lima jari, telentang, tertidur dengan pulasnya, seperti boneka kucing-kucingan dengan bulu tebalnya.

Sekarang saya mengerti mengapa bapak mertua sampai wanti-wanti agar suami saya membawa istrinya datang ke kota ini. Beberapa butik dekorasi seni dan suvenir kami lewati, khas Mediterania. Tapi saya tak berminat beli oleh-oleh, karena terlalu asyik dengan keramaian kanan kiri dari bangunan bebatuan yang mendominasi kota ini. Hingga kaki ini akhirnya memutuskan untuk menikmati makan siang di sebuah restoran kecil sangat unik.

Deli, begitu nama restoran tersebut. Lokasinya di atas bukit dengan dekorasi apik. Mungkin lebih tepatnya snack bar, karena makanan yang ditawarkan seperti sandwich dan salad. Mulanya saya ragu, karena meskipun restoran ini cantik, namun saya sudah membayangkan makanan panas. Berhubung udara saat itu sudah cukup terik rasanya menikmati salad segar tak ada salahnya.

Ternyata kami tak salah pilih. Dua salad, enak dan segar habis dengan cepat, ditemani roti yang diolesi minyak zaitun. Pemilik restoran sangat ramah. Tak henti-hentinya kami ditanya mengenai asal diri saya, karena rupanya Indonesia adalah negara yang membuatnya terpesona.

Untung juga kami tak makan berat, karena meskipun kenyang tapi perut tak menjadi beban untuk diajak melanjutkan perjalanan kaki. Setelah membeli produk minyak zaitun di restoran yang juga terdapat butik imut-imut itu, kami memilih untuk mendatangi Gereja Eze. Sebuah gereja yang dibangun abad ke 12 bergaya neo-klasik dan terpilih menjadi monumen bersejarah sejak Desember 1984.

Bagi saya pribadi, gereja berwarna kuning dan putih ini tak terlalu istimewa, seolah bangunan baru. Rupanya memang gereja yang kami datangi bukan yang aslinya, namun merupakan bangunan yang dibangun ulang pada 1778 karena gereja asli Eze, telah runtuh.

DINI KUSMANA MASSABUAU Promenade de Paillon, taman kota di Nice seluas 12 hektar.
Dari gereja kami mendatangi taman eksotis yang konon menjadi bintang di kota ini. Dari taman ini pemandangan laut biru azur yang berwarna memesona membentang luas bisa dinikmati. Tapi sayangnya, taman eksotis ini tidak gratis, harus membayar. Pohon kaktus yang menjadi idola dan dominan di sini. Saat saya membaca salah satu jenis tanaman, saya sampai dibuat tertawa karena tertulis ‘coussin belle mere’, artinya 'bantal ibu mertua'. Bukannya apa-apa, pohon kaktus ini memang seperti bantal bundar tapi durinya itu, waduhhhhhh... tidak ada satu pun celah dari pohon ini yang tak berduri, mana tajam lagi, membuat saya geli.

"Cheri, lihat sini, nanti ibumu ulang tahun kita belikan pohon ini ya cocok namanya buat dia he-he-he...," canda saya kepada suami, yang disambut dengan tawa ngakak Kang Dadang.

Di taman ini yang dibangun setelah Perang Dunia II ini, terdapat sebuah kastil, konon kita bisa mendatangi dan menikmati panorama dari kastil tersebut. Tapi kini, kastil itu telah menjadi hotel luks pribadi yang tak mungkin didatangi oleh umum secara bebas. Saat kami mencoba mengintip saja, langsung seorang penjaga datang dan mengatakan, "Jalan-jalan ke taman silakan meneruskan ke atas". Secara halus meminta kami tak celingukan ngintip ke dalam.

Taman ini dipenuhi dengan tumbuhan yang cocok dengan iklim Côte d’Azur, tanaman tropis lah yang justru dianggap paling cocok untuk udara di sini. Berada di taman Eze, serasa berada tergantung di antara ketinggian 400 meter antara daratan dan langit. Dan pesona panorama dari yang dijanjikan terbukti. Tak heran dekor tumbuhan botanik dengan laut biru azur dan bangunan yang menjadi miniatur menjadi sasaran para pengunjung untuk mengabadikan diri menjadi foto kenangan perjalanan.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.