Penasaran dengan Kelok 44...

Kompas.com - 15/05/2014, 10:52 WIB
Ngarai Sianok di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, merupakan salah satu jalur yang disukai komunitas pesepeda. Jalur yang berkelok-kelok dan pemandangan alamnya yang indah itu membuat jalur ini sering dilintasi para pesepeda. Foto diambil pada 27 April 2014.
KOMPAS/RINI KUSTIASIHNgarai Sianok di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, merupakan salah satu jalur yang disukai komunitas pesepeda. Jalur yang berkelok-kelok dan pemandangan alamnya yang indah itu membuat jalur ini sering dilintasi para pesepeda. Foto diambil pada 27 April 2014.
EditorI Made Asdhiana
PANORAMA alam Minang yang elok, sajian etape demi etape dengan karakter lengkap: datar, tanjakan, dan turunan, menjadi daya tarik utama bagi pesepeda peserta Minang Bike 2014. Peserta mengaku penasaran dengan alam Sumatera Barat dan banyak di antaranya yang ingin menikmati alam itu.

Pesepeda peserta Minang Bike 2014 ingin mendapatkan pengalaman baru, yakni dengan menyaksikan keindahan alam itu dari atas sepeda. Secara khusus, peserta umumnya penasaran dengan tanjakan Kelok 44 yang disebutkan menantang bagi pesepeda dari belahan mana pun di dunia ini.

”Saya mendapatkan poster dari rekan saya tentang kegiatan ini. Sebelumnya, saya juga mengikuti Bali Bike 2013. Sayangnya, teman saya itu, Yusri, tidak bisa mengikuti kegiatan ini karena ada janji lain,” kata Khusairi Muhammad (46), peserta Minang Bike dari Kuala Lumpur, Malaysia, di sela-sela merakit sepeda, Kamis (8/5), di Hotel Grand Inna Muara, Padang.

Jumat ini, peserta Minang Bike yang berjumlah 150 orang akan memulai etape pertama jelajah sepeda Minang Bike yang diselenggarakan harian Kompas selama tiga hari, yakni tanggal 9-11 Mei.

Pada etape pertama, peserta akan melintasi rute Padang menuju Danau Maninjau di Kabupaten Agam. Etape kedua, peserta akan menikmati pemandangan alam Danau Maninjau serta kelokan tajam, Kelok 44, yang bakal menguras tenaga dan menguji ketahanan pesepeda. Pada etape ketiga, peserta akan menggowes dari titik Ambun Pagi di ujung Kelok 44, Agam, menuju titik akhir di Kota Bukittinggi.

Tanjakan Kelok 44 sepanjang 8,7 kilometer di Mukomuko, Agam, yang akan dicumbu peserta merupakan primadona peserta Minang Bike 2014 kali ini. Jauh sebelum pelaksanaan, sejumlah peserta sudah saling mengingatkan tantangan yang akan dihadapi di Kelok 44 pada hari kedua. Mereka langsung mendapat sajian tanjakan begitu start dari Maninjau pada Sabtu pagi. Selepas mengasah dengkul di Kelok 44, mereka langsung menuju Jam Gadang di Bukit Tinggi Sungai via Landia-Koto Gadang-Bawah Ngarai Sihanok.

Tersulit di dunia

Kelok 44 ini disebut-sebut sebagai salah satu dari 10 medan tanjakan tersulit di dunia, seperti juga diakui peserta Tour de Singkarak yang selalu melewati rute ini. Peserta harus memacu jantungnya dan mempertahankan putaran kayuhan pedal hingga Kelok 44 pada ketinggian 1.148 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Bagi peserta, panorama alam yang indah di Sumbar adalah hiburan sekaligus tujuan. ”Tidak hanya untuk bertemu teman dan anggota komunitas, bersepeda ke Padang juga untuk santai, bersenang-senang menikmati pemandangan alam. Di tempat saya bekerja, hal ini juga yang saya tekankan,” ungkap Direktur Utama PT Usaha Gedung Mandiri Muhammad Haryoko (57). Perusahaan yang dipimpinnya adalah salah satu anak perusahaan Bank Mandiri.

KOMPAS/PRIYOMBODO Peserta Kompas Minang Bike 2014 disambut oleh siswa Sekolah Dasar saat melintas di Kota Pariaman, Sumatera Barat, Jumat (9/5/2014). Sebanyak 150 peserta menempuh jarak 133.19 kilometer pada etape pertama Padang-Maninjau. Kompas Minang Bike 2014 dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Mari Elka Pangestu, bersama Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, Kapolda Sumatera Barat Brigjen Pol Bambang Sri Hermanto serta Wakil Pemimpin Redaksi Harian Kompas Budiman Tanuredjo.
Lain lagi alasan Kiswanto (53), peserta yang baru pertama kali mengikuti event sepeda yang rutin digelar harian Kompas. Ia diajak keponakannya, Doddy Samiaji (42), untuk mengikuti event ini. Ia menanggapi ajakan itu karena sebagai kontraktor pengeboran dan infrastruktur, ia turut membangun jembatan di Kelok 9 yang menghubungkan Payakumbuh dengan Riau. Keindahan alam Sumbar yang dilihatnya ketika itu amat berkesan hingga saat ini. ”Saya penasaran ingin melihat keindahan Sumbar sekarang dengan naik sepeda,” kata Kiswanto lagi.

Selain peserta baru, Minang Bike juga diwarnai dengan muka-muka lama yang ”langganan” menjadi peserta event sepeda gelaran Kompas. Salah satunya ialah Tomi Pratomo (49). Ia sudah mengikuti jelajah sepeda Kompas di Bali Bike (2013), Bali-Komodo (2013), dan Jelajah Sabang-Padang (2013). ”Dengan bersepeda, kita banyak teman,” ungkap dia.

Namun, hal menarik dari pelaksanaan Minang Bike 2014 adalah banyak di antara peserta yang hanya menjadikannya ”sasaran antara” untuk mendapatkan tiket Kompas Jelajah Sepeda Sulawesi, Agustus. ”Saya harus dapat Jelajah Sulawesi,” ujar seorang peserta. Panitia menyediakan 10 tiket untuk bertualang menjelajahi Sulawesi sepanjang sekitar 1.800 kilometer, ditempuh dalam 14 hari, yang dimulai pada hari Kemerdekaan Indonesia. (USH/REK)



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X