Kompas.com - 20/05/2014, 17:51 WIB
EditorI Made Asdhiana
BERKERETA api, sungguh sebuah pelesiran tersendiri. Jembatan tua, terowongan renta, bisa bercerita tentang keindahan dan kekayaan negeri ini. Mari menyusuri bukit-bukit tanah Pasundan yang dirambati kereta api.

Kita mulai dari Terowongan Lampegan yang membelah bukit Gunung Kencana. Terowongan sepanjang 686 meter ini berada di Kampung Lampegan Pos, Desa Cibokor, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Terowongan ini bisa dibilang sebagai situs penting dalam sejarah perkeretaapian negeri ini. Inilah terowongan pertama di Hindia Belanda yang dibangun tahun 1879 dan selesai 1882.

Sementara ini, terowongan memang belum berfungsi seperti dulu. Namun, PT KAI berencana mengoperasikan jalur ini lagi tahun 2014. Kereta Api Kiansantang rencananya akan menarik lima gerbong menyusuri pinggang karst Rajamandala.

Sebagai bagian dari jaringan rel Bogor-Sukabumi-Bandung yang selesai dibangun tahun 1884, peran stasiun dan Terowongan Lampegan sangat vital. Jalur ini menjadi saksi kejayaan perkebunan di Priangan. Mulai dari Parakan Muncang hingga empat perkebunan teh besar di Cianjur, Gunung Kancana, Harjasari, Gunung Rosa, dan Gunung Manik. Empat perkebunan itu hingga kini masih hidup memasok teh bagi perusahaan air minum kemasan nasional hingga ekspor ke Maroko.

KOMPAS/YUNIADHI AGUNG Terowongan jalur kereta api di Lampegan, Cibeber, Cianjur, Jawa Barat. Terowongan tertua di Indonesia dengan panjang 686 meter ini dibangun tahun 1879-1882 oleh Staats Spoorwegen, perusahaan kereta api masa Hindia Belanda.
Asal nama Lampegan diperkirakan dari teriakan masinis ”Lampen aan..!” yang artinya kurang lebih ”nyalakan lampu”. Meski sempat lumpuh dihajar longsor, nasib Terowongan Lampegan masih lebih baik ketimbang terowongan vital lainnya di Jawa Barat yang teramputasi seperti terowongan Juliana, Hendrik, Wilhelmina, dan Terowongan Philip.

Si Kuong

Beragam jenis lokomotif berbahan bakar uap hingga kereta diesel, pernah merasakan dinginnya Terowongan Lampegan. Salah satunya adalah si Kuong yang masih hidup dalam ingatan Dadang Suparman (41), warga Kampung Lampegan Pos. Hingga tahun 1982, lokomotif uap itu setia mengantarnya tiap pagi ke sekolah di Kota Cianjur. Masyarakat setempat memanggilnya si Kuong karena peluitnya berbunyi ”Kuong...kuong...!”

”Si Kuong tidak pernah datang terlambat. Tanda saya pergi sekolah dan warga lain bekerja, atau sekadar berbelanja di Pasar Cianjur. Setelah naik Kuong, biasanya muka saya hitam-hitam kena bekas asap,” kata Dadang mengenang.

Kembalinya jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur belum cukup mengembalikan kejayaan jaringan transportasi kereta api Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung. Masih ada ruas rel sepanjang 83 kilometer, antara Cianjur-Bandung belum beroperasi. Tahun 2012, jalur ini dihentikan akibat tingginya biaya perawatan lokomotif, minimnya kemampuan menarik penumpang, serta kontur berat menanjak di antara Rajamandala-Tagog Apu-Cipatat.

”Lokomotif terakhir biasa dipanggil Argo Peuyeum. Selain karena melintasi daerah Cipeuyeum, dia lebih sering membawa peyeum atau singkong fermentasi Cianjur-Bandung,” kata mantan Kepala Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan Institut Teknologi Bandung, Budi Brahmantyo.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.