Kompas.com - 24/05/2014, 16:16 WIB
EditorI Made Asdhiana
JARUM jam menunjukkan pukul 00.30, tetapi denyut kehidupan di kawasan Sukhumvit dan Silom, Bangkok, Thailand, belum berakhir. Di setiap sudut, pedagang terlihat masih memancarkan energi dengan melakukan transaksi beragam produk yang mereka miliki, mulai dari ketan mangga (buah mangga dikemas bersama ketan), phad thai gung sod (mi goreng khas Thailand), beragam suvenir, hingga vibrator!

Seluruh pedagang menjajakan dagangannya menggunakan gerobak atau mendirikan lapak kecil di tepi jalan. Sejumlah pedagang yang menjual vibrator atau berbagai peralatan yang dianggap tabu di Indonesia menggelar dagangannya secara lesehan.

Di jalan raya, bus angkutan umum masih tampak lalu lalang. Penggunanya, berselang seling, turun dan naik bus, menuju ke tempat tujuan berikutnya.

Di sudut yang lain di kawasan Sukhumvit, di sebuah gang yang dipenuhi kafe dan bar, musik disko berdentum. Pria, wanita, dan waria terbuka mengobrol, tertawa keras, dan berjoget. Semuanya seolah meneriakkan semangat hidup yang bebas, lepas, dan bahagia.

Ingar bingar kegembiraan malam hari itu jelas bertolak belakang dengan ”ingar bingar” ketegangan pada November 2013 hingga Februari 2014 saat Kota Bangkok seolah ”dikepung” demonstrasi. Ketika itu, kawasan Sukhumvit pun merasakan dampaknya. Lalu lintas macet dan layanan fasilitas publik, seperti Bangkok Mass Sky Train, atau biasa dikenal dengan BTS, terganggu karena dikuasai demonstran.

Namun, lupakan itu! Sekitar dua bulan setelah aksi itu mulai mereda, setiap orang yang datang ke Thailand bisa berkesimpulan bahwa situasi negeri Gajah Putih itu sudah kembali normal.

Aman dan menyenangkan

Kate Kessirin (24), pegawai di salah satu hotel di Silom, Bang Rak, Bangkok, mengatakan, situasi saat ini terbilang aman dan menyenangkan. Ia merasakan saat ini berbeda jauh dengan situasi saat marak terjadi demonstrasi. Saat itu, kehidupan di Bangkok sungguh tidak nyaman. Di luar hotel dia khawatir akan bentrok dengan massa demonstran dan, di dalam hotel, suasana dirasakannya muram dan murung karena minimnya tamu.

”Saat marak terjadi demo, banyak orang takut datang ke Bangkok sehingga okupansi hotel pun anjlok sekitar 50 persen dibandingkan hari biasanya,” ujarnya.

Hotel tempat Kate bekerja memiliki 467 kamar. Pada kondisi normal, saat tidak terjadi banyak demo, antara 400 dan 450 kamar terisi per harinya. Saat ini, ia menambahkan, situasi politik sebenarnya belum sepenuhnya membaik. Masih ada pertentangan pendapat dan kebuntuan politik di Thailand.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.