Kompas.com - 03/06/2014, 13:35 WIB
Pelabuhan Teluk Bayur di Sumbar. ARSIP KOMPAS TVPelabuhan Teluk Bayur di Sumbar.
EditorI Made Asdhiana

Teluk Bayur

Kota Tua berada tepat di pinggir Sungai Batang Arau. Sungai tersebut menjadi sarana transportasi air kapal-kapal dagang antar pulau. Namun, bagi Belanda, itu tidaklah cukup. Diperlukan pelabuhan dengan kapasitas lebih besar dengan akses langsung ke lautan lepas. Karenanya sejak tahun 1888, Pemerintah Belanda membangun Pelabuhan Teluk Bayur. Di awal pembangunan, pemerintah Belanda menamakan Teluk Bayur dengan Emma Waven. Nama seorang Ratu Belanda  pada masa itu.

Hingga kini, Padang dan Teluk Bayur saling menopang  untuk kemajuan Propinsi Sumatera Barat. Dan kini, Sebagai  pelabuhan internasional, apasitas teluk bayur kian diperbesar. Dilengkapi dengan peralatan modern, pelabuhan samudera ini yang mampu menangani berbagai jenis barang,  antara lain batu bara, minyak kelapa sawit, dan semen. Termasuk terminal petikemas untuk hasil bumi seperti kayu manis, teh, moulding furniture serta karet yang menjadi komoditas unggulan ekspor ke Amerika Serikat, Eropa, Asia, Australia dan Afrika.

Teluk Bayur sekarang adalah pelabuhan terbesar di Pulau Sumatera, bahkan bisa disebut sebagai The Giant Port. Teluk Bayur terus berbenah, membangun banyak infrastruktur inflastruktur baru untuk menunjangnya sebagai pelabuhan berstandar internasional pada tahun 2015.

Sungai Pinang

Nagari Sungai Pinang berada 79 kilometer dari Painan, ibu kota Kabupaten Pesisir Selatan Provinsi Sumatera Barat. Di kampung sederhana dan tenang ini, pukat ikan merupakan mata pencaharian utama untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari. Bahkan mereka membiayai pembangunan kampung dari hasil menangkap ikan tersebut.

Pukat adalah cara tradisional menangkap ikan. Awalnya, satu ujung tali pukat diikat di daratan. Lalu kapal berlayar ke tengah laut menebar pukat, membentuk setengah lingkaran. Lalu ujung pukat yang ada di kapal dibawa ke laut. Setelah dua ujung ada di darat pukat ditarik secara bersamaan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

ARSIP KOMPAS TV Anggota Langkisau Paralayang Club dari Bukit Langkisau menuju pendaratan di Pantai Salido, Sumatera Barat.
Hasil pukat tentu saja beragam setiap harinya. Rusman, orang yang dituakan di Sungai Pinang, mengatakan hasil pukat bisa bernilai Rp 10 juta yang jika dibagikan ke dua puluh penarik pukat mencapai Rp 500 ribu. “Tapi seringkali mendapatkan hasil untuk lima ribu rupiah per orang saja tidak dapat, kami syukuri,” kata Rusman.

Tim Explore Indonesia bisa melihat bangunan sederhana sebagai balai pertemuan, dan bangunan masjid.

Tambang Emas Salido

Halaman:


Sumber Kompas TV
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.