Kompas.com - 04/06/2014, 08:31 WIB
EditorI Made Asdhiana
TORAJA atau To Riaja, yang berarti orang yang berdiam di negeri atas, memiliki menu khas. Salah satunya pa’piong bai. Tersedia pa’piong daging, ikan, dan ayam yang dicampur dengan daun mayana, kemudian dimasak dengan cara dibakar di dalam bilah-bilah bambu.

Salah satu kedai yang menyediakan menu khas Toraja ini adalah Pong Buri’. Kedai yang terletak di Jalan Emi Saelan Nomor 1 Rantepao, Toraja, ini menyediakan berbagai menu khas Toraja yang jarang ditemui di kedai lain, apalagi di luar Toraja.

Meski berukuran kecil dan hanya menampung maksimal 30 orang, Pong Buri’ yang buka sejak 20 tahun silam ini selalu ramai. Saat jam makan siang, orang bahkan harus mengantre untuk menikmati pa’piong. Tak hanya orang Toraja yang pulang kampung yang kerap bernostalgia di Pong Buri’, wisatawan juga tidak ketinggalan turut mengantre.

Dari penampilan luarnya, pa’piong bai serupa dengan pepes yang dibungkus daun pisang. Perbedaannya, olahan cacahan daging dan jeroan babi atau ikan atau juga ayam yang sudah dibungkus daun pisang ini kemudian dibakar di atas perapian kayu dalam wadah bambu.

Salah satu keunikan pa’piong bai memang terletak pada cara pengolahannya yang menggunakan bambu. Pa’ piong bai dimasak dalam ruas-ruas bambu dengan tungku tradisional dan arang. Bambu sengaja didatangkan dari kampung-kampung di Toraja. Satu ruas bambu berdiameter lebih kurang 10 sentimeter ini bisa menjadi wadah bagi 8-10 bungkus pa’piong.

Bambu berisi pa’piong kemudian dibakar selama 1,5 jam hingga seluruh bagian permukaan bambu gosong menghitam. Dengan sekali tusukan pisau pada bambu, seluruh lemak cair segera keluar sehingga diperoleh rasa daging yang kering, kesat, dan gurih.

Bumbu tradisional

Rasa gurih daging berpadu dengan rasa asam-asam yang tercipta dari campuran bumbu daun mayana. Penampilan daun mayana ini mirip dengan lalapan popohan yang banyak dijumpai di Jawa Barat, tetapi terasa pahit jika dimakan mentah-mentah.

KOMPAS/LASTI KURNIA Warung Pong Buri’ di Jalan Emi Saelan, Rantepao, Toraja, Sulawesi Selatan, Senin (28/4/2014).
Keseluruhan proses memasak pa’piong memakan waktu setidaknya 3-4 jam. Anak pemilik kedai Pong Buri’ menuturkan, persiapan untuk memasak pa’piong bai dimulai sehari sebelum disajikan. Rangkaiannya dimulai dari memotong babi kemudian memasaknya dengan aneka bumbu, seperti bawang dan cabai.

Pagi hari, sebelum kedai dibuka untuk pengunjung, pa’piong dimasak di dalam bambu yang telah disediakan sebelumnya. Pemilik kedai, Pong Buri’, hingga kini masih turut meramu pa’piong di rumahnya yang terletak tak jauh dari warung. Setelah dimasak, aromanya yang menguar di udara menerbitkan selera.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.